LUWU, Desapenari.id — Para ibu rumah tangga dan warga di sekitar Kelurahan Sabe, Kecamatan Belopa Utara, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, kini terpaksa merogoh kocek lebih dalam saat berbelanja bahan dapur harian di Pasar Tradisional Modern. Pasalnya, harga komoditas ayam potong di pasar induk tersebut mendadak membumbung tinggi sejak pekan lalu. Tentu saja, lonjakan harga yang terbilang mendadak ini langsung mengagetkan masyarakat lokal yang mengandalkan daging ayam sebagai sumber protein utama keluarga mereka.
Oleh karena itu, kenaikan harga yang lumayan mencekik ini tidak cuma membikin para konsumen merinding geleng-geleng kepala, melainkan juga memicu pusing para pedagang yang menggantungkan pendapatan harian di area pasar tersebut. Bahkan, untuk seekor ayam potong segar dengan bobot timbangan sekitar dua kilogram, kini para pedagang terpaksa mematok harga jual hingga menembus angka Rp 80.000 per ekor.
Sementara itu, seorang pedagang ayam potong senior di Pasar Tradisional Modern Sabe yang bernama Baso membeberkan realita pergerakan harga komoditas tersebut secara terang-terangan. Ia mengungkapkan bahwa tren lonjakan harga ini memang sudah mulai merayap naik sejak seminggu yang lalu. Akibatnya, pergeseran nominal bahan pokok ini langsung memberikan dampak negatif terhadap gairah serta ritme transaksi jual beli saban hari di area lapak pasar.
“Bahkan, jika kita mencermati harga ayam ukuran dua kilogram saat ini, kami terpaksa menjualnya seharga Rp 80.000 per ekor, padahal harga normal sebelumnya cuma berada pada kisaran Rp 70.000 saja. Maka dari itu, kalau kita mengalkulasikan secara cermat, telah terjadi lonjakan harga yang sangat terasa sebesar Rp 10.000 untuk setiap ekor ayam yang dibeli konsumen,” beber Baso saat memberikan keterangan langsung di tengah kesibukan pasarnya pada Senin (21/9/2026).
Selain itu, Baso juga secara lugas membeberkan hasil pengamatan lapangannya mengenai akar pemicu utama yang mendorong lonjakan harga komoditas unggas tersebut. Menurut pandangannya, persoalan utama yang memicu gejolak harga ini berhulu pada tersendatnya alur distribusi pasokan daging ayam dari daerah asal menuju kawasan pasar.
“Sebab, dugaan kuat pemicu utamanya bermula dari krisis kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang membuat para pengemudi truk angkutan kewalahan mendapatkan jatah solar atau bensin. Lagipula, dalam kurun beberapa pekan terakhir ini, pasokan BBM memang amat sulit didapatkan, sehingga kalaupun ada pasokan di SPBU, para sopir harus rela mengantre sangat panjang hingga berjam-jam,” ungkap Baso menceritakan kendala nyata di lapangan.
Di samping itu, menurut penilaian Baso yang sangat memahami seluk-beluk rantai pasok daerah, kondisi kelangkaan BBM di jalanan tersebut secara langsung mengganggu keandalan proses pengangkutan armada logistik. Akibatnya, alur pengiriman pasokan ayam potong segar dari daerah produsen utama menuju Kabupaten Luwu mengalami keterlambatan yang cukup mengganggu.
“Padahal, seluruh komoditas ayam potong yang kami jual di pasar ini sebenarnya merupakan pasokan yang kami datangkan langsung dari peternak di Kabupaten Bone. Oleh sebab itu, armada mobil angkutan logistik harus menempuh jalur darat antar-kabupaten untuk membawa pasokan ayam tersebut dari Bone menuju ke area Belopa,” paparnya membeberkan alur transportasi bahan pangan tersebut.
“Selanjutnya, begitu armada angkutan tersebut tiba di titik pembongkaran Belopa, para petugas langsung menurunkan muatan ayam agar para pedagang lokal dapat mengambilnya untuk kemudian dijual kembali kepada para konsumen di pasar,” sambung Baso menjelaskan alur distribusi harian.
Maka dari itu, Baso menegaskan kembali bahwa krisis ketersediaan BBM yang tengah melanda ini menjadi persoalan vital yang wajib mendapatkan perhatian dari berbagai pihak. Sebab, kelancaran proses pengangkutan bahan pangan dari daerah produsen hingga sampai ke meja makan warga sangat bergantung pada kesiapan serta operasional armada kendaraan angkutan jalan raya.
Tak cuma memusingkan para penjual lapak, imbas lonjakan harga ayam potong ini juga menghantam keras kondisi keuangan para pembeli. Nuril, seorang konsumen yang ditemui di lokasi pasar, mengaku sangat terbeban lantaran kenaikan harga ini memberi dampak ekonomi yang cukup lumayan, baik untuk memenuhi konsumsi harian rumah tangga maupun untuk memutar roda usaha kuliner kecil yang ia kelola.
“Bahkan, mau bagaimana lagi, padahal harapan kami setiap hari adalah agar harga-harga sembako bisa terus stabil dan terjangkau, tetapi nyatanya malah makin meroket naik. Alhasil, karena ayam potong merupakan kebutuhan pokok, kami tetap wajib membelinya meskipun terpaksa menyiasati porsi sajian agar usaha tidak bangkrut,” tutur Nuril menumpahkan kepasrahannya.
“Oleh karena itu, kami sebagai pelaku usaha kecil harus pandai-pandai menyesuaikan kalkulasi belanja bahan baku dengan harga porsi masakan yang kami tawarkan kepada para pelanggan,” tambahnya memberikan gambaran perjuangan menyiasati modal usaha.
Meskipun demikian, kendati harga ayam merangkak naik dan keluhan terlontar dari mana-mana, geliat transaksi jual beli di Pasar Tradisional Modern Sabe terpantau masih tetap berjalan ramai seperti hari-hari biasanya.
Alhasil, para konsumen tetap berdatangan memadati lapak untuk membeli daging ayam, walaupun mereka kerap melontarkan rintihan mengenai nominal harga yang kian tidak ramah di kantong.
Sebab, Baso mengamati bahwa fenomena ini menunjukkan betapa komoditas ayam potong telah menjadi bahan pangan esensial yang tidak bisa digantikan dalam menu harian warga, sehingga masyarakat tetap membelinya kendati harganya sedang melonjak.
Oleh sebab itu, kenaikan harga komoditas ayam potong ini mendadak menyedot perhatian publik di Kabupaten Luwu, sebab peristiwa ini terjadi persis di tengah kabar hambatan distribusi BBM yang masih terus menyelimuti wilayah tersebut.
Maka dari itu, para pedagang kini sangat menaruh harapan besar agar kendala distribusi BBM bisa secepatnya terurai lancar. Sehingga, alur pasokan ayam potong dari wilayah pemasok ke Kabupaten Luwu kembali berjalan normal dan harga jual di pasaran dapat secepatnya stabil kembali seperti semula.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

