Jakarta, Desapenari.id – Sebuah konser amal yang mengatasnamakan solidaritas untuk korban bencana Nusa Tenggara Timur berakhir tragis. Polisi meringkus 63 orang dalam sebuah razia dadakan di sebuah acara musik di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur, Rabu (26/8/2026) malam. Puluhan botol kaca yang siap dijadikan bom molotov, senjata tajam, hingga minuman keras disita petugas.
Para tersangka yang rata-rata masih muda ini diduga kuat melakukan konsolidasi untuk merencanakan aksi kekacauan. Mereka bahkan disebut-sebut memiliki kaitan dengan kelompok anarko. Hingga saat ini, proses pemeriksaan intensif masih berlangsung, terutama untuk mengungkap aliran dana yang mereka kumpulkan atas nama korban bencana.
Petugas Menangkap 63 Orang yang Diduga Hendak Mengacaukan Demo di DPR/MPR
Aksi penangkapan dramatis ini terjadi pada malam hari, tepat ketika puluhan orang sedang asyik menikmati alunan musik di sebuah gudang di Kalimalang. Kombes Pol Iman Imanuddin, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, mengungkapkan bahwa para pelaku terbagi menjadi dua kelompok utama.
“Dari total 63 orang yang kami amankan, 10 orang di antaranya berada dalam klaster pembiayaan, sementara 53 orang lainnya berperan sebagai klaster pelaksana,” jelas Iman dalam konferensi pers yang digelar di Mapolda Metro Jaya, Kamis.
Yang membuat petugas geram, konsolidasi ini ternyata bukan sekadar kumpul-kumpul biasa. Polisi mendapati adanya pola yang sistematis—mulai dari penguatan narasi, pengumpulan dukungan, mobilisasi massa, hingga persiapan alat-alat untuk membuat kekacauan. Iman menambahkan, “Indikasinya mengarah pada upaya mereka untuk menyusupi aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI.”
Menariknya, para pelaku ini berasal dari berbagai wilayah. Mereka saling terhubung melalui media sosial, kemudian melakukan penjaringan massa secara daring. Mulai dari Bekasi, Depok, Bogor, hingga Bandung—semuanya larut dalam satu misi yang mengkhawatirkan.
Penggalangan Dana Berkedok Kemanusiaan untuk NTT
Konser amal yang bertajuk “Charity Gigs for NTT” ini memang terlihat mulia di permukaan. Dua spanduk besar terpampang di lokasi acara, bertuliskan ajakan solidaritas untuk saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur yang terdampak bencana alam.
Namun, diam-diam di balik gemuruh musik dan semangat berbagi, petugas menemukan fakta mencengangkan. Iman menyatakan bahwa dana yang terkumpul tidak pernah sampai ke tangan korban gempa di NTT. “Kami menemukan fakta yang cukup menarik. Ada penggalangan dana yang mengaku untuk kegiatan sosial, namun ternyata digunakan untuk hal yang sangat berbeda,” ungkap Iman dengan nada prihatin.
Berdasarkan penyelidikan awal, uang hasil donasi justru digunakan untuk membeli berbagai perlengkapan berbahaya. Botol-botol kaca dibeli dalam jumlah besar, senjata tajam dipesan dari berbagai penjuru, dan minuman intisari ditumpuk untuk membuat bom molotov. Sungguh ironis, niat baik berubah menjadi rencana jahat.
Ratusan Barang Bukti yang Membuat Bulu Kuduk Merinding
Saat konferensi pers berlangsung, polisi memamerkan tumpukan barang bukti yang berhasil disita. Pemandangan di ruangan itu sungguh mencekam—201 botol kaca dengan kain penutup tergeletak rapi, berderet bersama 7 jeriken berisi resin. Bau bensin yang menyengat langsung menyeruak ke hidung setiap orang yang masuk ke ruangan.
Belum cukup sampai di situ, petugas juga memperlihatkan 39 senjata tajam jenis celurit dan golok yang mengilap. Dua pucuk air soft gun turut menjadi barang bukti, lengkap dengan satu bungkus peluru dan tabung gasnya. Sepuluh plastik berisi cairan hitam pekat—yang diduga minuman intisari—juga ikut disita.
Yang lebih mencengangkan, 48 botol intisari masih tersusun rapi di dalam kardus. Dua spanduk besar dan satu bendera dibentangkan di lantai, seolah menjadi saksi bisu rencana yang gagal. Salah satu spanduk bertuliskan “Serikat Jalanan: Distortion & Resistance, Charity for NTT” dengan huruf-huruf mencolok.
Prinsip Hukum yang Ditegakkan, Masyarakat Patut Waspada
Kasus ini menjadi pengingat keras bagi kita semua. Di balik kedok kemanusiaan, bisa saja ada niat jahat yang mengancam keamanan bersama. Polisi pun mengimbau masyarakat untuk lebih selektif dalam menyalurkan donasi, terutama yang dilakukan melalui acara-acara musik atau pertemuan massal di media sosial.
“Tindakan tegas kami lakukan untuk menjaga kondusifitas keamanan,” tegas Iman. Ia juga mengingatkan bahwa siapapun yang mencoba mengganggu stabilitas negara akan berhadapan dengan hukum yang tegas.
Saat ini, ke-63 tersangka masih menjalani pemeriksaan intensif di Mapolda Metro Jaya. Polisi terus mendalami jaringan mereka, termasuk kemungkinan adanya aktor intelektual di balik konsolidasi ini. Apakah ada dalang besar yang menyusun rencana ini dari balik layar? Atau murni inisiatif kelompok anarko yang bergerak sendiri?
Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya. Yang jelas, konser amal untuk NTT yang seharusnya menghangatkan hati justru berubah menjadi mimpi buruk. Bukti nyata bahwa tidak semua yang berkilau itu emas, dan tidak semua yang mengaku peduli itu tulus.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

