DEPOK, Desapenari.id — Fenomena kekeringan ekstrem yang teramat mengejutkan kini mendadak melanda kawasan Pangkalan Jati, Depok, Jawa Barat. Pasalnya, Danau Cinere yang tadinya menjadi ikon keindahan wilayah tersebut kini mengalami penyusutan air secara drastis akibat terpaan musim kemarau panjang yang membakar selama rentang waktu beberapa bulan belakangan ini.
Selanjutnya, berdasarkan hasil pengamatan langsung di lokasi kejadian pada Senin (21/9/2026), bentangan air jernih nyatanya tidak lagi memenuhi kawasan cekungan danau tersebut. Malahan, pemandangan yang tersisa saat ini hanyalah berupa sedikit kubangan air yang bertahan seadanya tepat di area tengah danau.
Dampaknya, peristiwa surutnya debit air yang sangat masif ini pada akhirnya menyingkapkan seluruh permukaan dasar danau secara telanjang ke hadapan publik. Bahkan, sebagian besar area pinggiran danau kini mulai ditumbuhi oleh semak belukar serta rerumputan liar yang tumbuh semakin lebat.
Selain itu, sengatan sengit musim kemarau berkepanjangan turut membuat lapisan tanah di dasar danau kehilangan seluruh kandungan kelembapannya hingga benar-benar mengering. Kritisnya kondisi ini terlihat sangat jelas dari permukaan tanah yang kini dipenuhi oleh retakan-retakan menganga akibat terpaan panas ekstrem.
Kendati demikian, fenomena cuaca berupa hujan yang sempat menyiram dan mengguyur sebagian kawasan Depok pada beberapa hari lalu ternyata belum sanggup memulihkan tingkat kelembapan tanah di dasar danau yang sudah telanjur gersang tersebut.
Di sisi lain, seorang warga lokal yang menetap di wilayah RT 04 RW 04 bernama Fani menegaskan bahwasanya proses menyusutnya air Danau Cinere sejatinya sudah mulai berlangsung konsisten sejak kurun waktu tiga hingga empat bulan belakangan.
“Fenomena ini sebetulnya sudah terjadi cukup lama, kira-kira sekitar tiga sampai empat bulanan. Padahal, pada kondisi biasa, volume air danau ini selalu terisi sangat penuh dan melimpah,” tutur Fani saat membagikan kesaksiannya di lapak UMKM RW 04 persis di tepi Danau Cinere, Senin.
Lebih lanjut, Fani meyakini bahwasanya musabab utama dari surutnya cadangan air Danau Cinere secara drastis tidak lain berasal dari terpaan musim kemarau berkepanjangan yang melanda wilayah permukiman mereka.
Bahkan, para warga menilai durasi terik musim kemarau pada tahun ini berjalan jauh lebih panjang apabila kita membandingkannya dengan periode musim kemarau pada tahun-tahun terdahulu. Alhasil, Fani menjelaskan bahwasanya kondisi danau yang mengering hingga memicu keretakan tanah parah kali ini menduduki tingkat keparahan yang paling memprihatinkan sepanjang ingatan warga.
“Kalau untuk kali ini sih memang tergolong yang bener-bener paling parah cuaca panasnya. Guyuran hujan yang sempat turun kemarin-kemarin pun tidak terlalu memberikan pengaruh signifikan sebab durasi hujannya sangat singkat,” ungkap Fani saat mengutarakan keluh kesahnya.
Oleh karena itu, ia kemudian menambahkan keterangan bahwasanya Danau Cinere sebetulnya pernah pula melewati fenomena kekeringan serupa ketika musim kemarau melanda sekitar rentang tahun 2022 atau 2023 silam. Namun demikian, dampak kerusakan serta kondisi kekeringannya saat itu sama sekali tidak separah yang terjadi saat ini.
Kala fenomena lampau itu terjadi, deretan rerumputan liar memang sempat tumbuh menginvasi permukaan dasar danau sewaktu genangan air menyusut. Namun, struktur dan kelembapan tanah pada masa itu tidak sampai mengalami celah retakan dahsyat seperti penampakan memprihatinkan yang terlihat sekarang.
“Jadi, seingat saya sekitar empat tahun yang lalu tempat ini sudah pernah juga mengering seperti ini. Ini merupakan kejadian yang kedua kalinya. Dulu meskipun kering, sisa air masih ada dan tekstur tanahnya masih berbentuk lumpur lembek, tidak sampai sekering kerontang ini. Ini mungkin jadi yang paling parah,” tegas Fani menceritakan perbandingan kondisi tersebut.
Selanjutnya, hal serupa juga disampaikan oleh seorang petugas keamanan perumahan di sekitar danau yang bernama Idan. Ia membeberkan fakta bahwasanya penurunan debit air Danau Cinere hingga mengering ini sejatinya telah mulai berlangsung secara konsisten sejak awal bulan Juni 2026.
Sayangnya, presipitasi hujan yang sempat turun menyiram kawasan tersebut pada beberapa hari lalu terbukti tidak cukup kuat memberikan pengaruh berarti guna memulihkan serta membenahi kondisi ekosistem danau yang kian mengering gersang.
“Sejak awal Juni musim kemarau sudah mulai menerpa dan terasa sangat panas, sehingga air danau otomatis mulai berkurang. Kemarin sempat turun hujan sampai pukul 17.00 WIB sore, tetapi airnya langsung meresap habis ke dalam tanah. Usai hujan reda, air danau langsung hilang kembali dan tanahnya mendadak kering seketika,” pukas Idan saat ditemui di pos jaga tepi Danau Cinere, Senin.
Padahal, Idan mengungkapkan kenyataan menarik bahwasanya apabila iklim berada dalam kondisi normal dan seimbang, kedalaman air Danau Cinere sanggup membendung air hingga menyentuh angka dua meter.
Dampaknya, perubahan fenomena lingkungan yang ekstrem ini membuat jumlah masyarakat sekitar, para pengunjung wisata, hingga para pengendara sepeda motor yang biasanya sengaja mampir untuk menikmati keindahan lanskap Danau Cinere kini menurun sangat drastis.
“Kalau air danau sedang melimpah, pemandangannya sebetulnya sangat bagus dan enak dipandang mata. Apalagi di dalam danau ini dulu terdapat banyak sekali ikan, sehingga banyak pengunjung suka datang membawa keluarga untuk sekadar memberi makan ikan-ikan tersebut,” kenang Idan mengenai masa-masa keemasan danau tersebut.
“Gara-gara terpaan musim kemarau panjang ini, tingkat kunjungan masyarakat jelas berkurang drastis. Penyebabnya tentu karena tidak ada lagi hal menarik yang bisa pengunjung nikmati dari lanskap danau yang menyusut dan gersang begini,” pungkas Idan mengakhiri penjelasannya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

