TANGERANG SELATAN, Desapenari.id – Jagat media sosial mendadak heboh dan gempar akibat beredarnya sebuah rekaman video viral yang mendadak menyudutkan salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum di kawasan Tangerang Selatan. Pihak manajemen pengelola SPBU 34.152.06 yang berlokasi di wilayah strategis Bintaro, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan akhirnya tidak tinggal diam dan langsung memberikan tanggapan resmi demi meluruskan berbagai tuduhan miring warganet yang menyudutkan petugas mereka atas dugaan tindakan curang saat melayani pengisian bahan bakar minyak.
Selanjutnya, Pardan selaku sosok pengawas resmi yang mengomandoi operasional harian di SPBU 34.152.06 tersebut secara tegas pasang badan dan memastikan bahwa sebetulnya pihak pembeli sama sekali tidak mengantongi kerugian berupa uang maupun volume BBM sepeser pun dalam insiden yang terlanjur viral tersebut.
Malahan, Pardan membeberkan fakta lapangan secara gamblang bahwa keributan yang sempat memicu perdebatan sengit ini murni meletus lantaran faktor kelalaian serta kurangnya konsentrasi petugas lapangan, yang kemudian memicu miskomunikasi secara mendadak dengan pihak pembeli sewaktu proses pengisian BBM jenis Pertalite senilai nominal Rp 100.000 sedang berlangsung.
“Bahkan kalau kita cermati secara jernih, sejujurnya tak ada satu pun pihak yang menderita kerugian materiil di sini, sama sekali nihil. Namun sayangnya, sang konsumen justru terburu-buru menganggap serta menyimpulkan bahwa operator kami sengaja memiliki niat buruk untuk berbuat curang, ya hanya sebatas salah paham begitu saja,” ungkap Pardan saat menyampaikan klarifikasi secara langsung sewaktu menemui awak media di area SPBU pada hari Selasa.
Fakta Sebenarnya dan Urutan Kejadian Menurut Versi Pihak Pengelola
Kemudian, Pardan mulai mengurai secara mendetail kronologi alur peristiwa yang sebenarnya, yang mana cerita bermula ketika seorang pengendara mobil mendatangi area dispenser SPBU untuk memesan pengisian bensin jenis Pertalite dengan nominal angka sebesar Rp 100.000. Petugas lapangan kami pun lantas merespons dan melayani permintaan pembelian bensin tersebut sebagaimana prosedur biasa.
Namun demikian, ketika proses pengocuran bahan bakar sedang berjalan di tengah jalan, sang operator mendadak mengalami kelalaian serta hilang fokus sehingga tanpa sengaja mengangkat nosel pengisian dan langsung mengembalikannya ke tatakan dispenser sebelum angka di layar monitor dispenser menyentuh target penuh Rp 100.000.
Lantas, publik perlu memahami betul bahwa sistem transaksi pembayaran di stasiun pengisian ini sepenuhnya mengandalkan metode nontunai berbasis QRIS yang baru diproses tepat setelah bensin selesai mengucur. Oleh sebab itu, sewaktu hendak melakukan pembayaran digital, sang pengendara kaget bukan main saat memelototi monitor dispenser yang ternyata baru menunjukkan nominal pengisian di angka Rp 80.800 saja.
Sontak saja, pelanggan tersebut langsung menyemprot dan menegur petugas yang sedang bertugas. Setelah mengecek ulang layar dispenser secara langsung, petugas pun mendadak menyadari kekeliruan fatalnya dan serta-merta menawarkan opsi santun untuk menyuntikkan sisa bensin yang masih kurang agar pas sesuai nominal pesanan awal.
“Selanjutnya petugas kami baru tersadar pas memelototi layar dispenser. ‘Aduh maaf banget Bu, apa mau saya tambahkan lagi sisa kekurangan nominalnya, Bu?’ kata petugas kami waktu itu. Tapi ibu konsumen justru menjawab, ‘Enggak usah, enggak usah Mas,’ sehingga pada akhirnya pembeli cukup membayar nominal yang terpasang di layar itu saja,” cerita Pardan sambil menceritakan kembali detail kejadian tersebut.
Selain itu, Pardan juga secara tegas meyakinkan publik bahwa pihak konsumen sama sekali belum menyerahkan uang pecahan Rp 100.000 sewaktu nosel bensin sedang mengucur ke dalam tangki, sebab alur pembayaran memang baru berjalan persis setelah seluruh proses pengisian bensin selesai dihentikan.
Oleh sebab itu, transaksi pembayaran dompet digital via QRIS yang terjadi pada momen tersebut murni hanya menyedot saldo sebesar Rp 80.800 saja, yakni angka yang persis selaras dengan volume bensin aktual yang telah mengucur keluar dari mesin dispenser.
“Faktanya pembeli belum membayar uang Rp 100.000 itu sama sekali saat pengisian. Karena pembayarannya kan belakangan menggunakan QRIS. Nah, makanya petugas kita langsung meminta maaf, ‘Oh iya Bu maaf saya tidak tahu. Yang kurangnya mau kita tambahkan lagi ya Bu?’ Tapi konsumen menolak, ‘Udah tidak usah,’ alhasil pembeli cuma membayar pas sesuai angka yang tertera di layar monitor pengisian,” jelas Pardan mendetail.
Pengelola Sudah Pasang Badan dan Mengundang Pemilik Rekaman Video
Tak berhenti di situ, Pardan menyampaikan bahwa jajaran manajemen SPBU 34.152.06 sudah menunjukkan iktikad baik dengan proaktif mengontak pemilik akun media sosial yang mengunggah video viral tersebut melalui pesan pribadi. Maksud pengelola tak lain agar pemilik akun berkenan mendatangi stasiun pengisian BBM demi melangsungkan klarifikasi secara terbuka dan transparan.
“Padahal kami sudah melayangkan undangan resmi kepadanya. Saya pribadi bahkan sudah menyapa lewat pesan pribadi. Pengunggah video itu pun sempat membalas pesan saya dengan berkata, ‘Baik nanti saya akan datang ke sana Pak’,” ujar Pardan mengungkapkan respons singkat sang pemilik akun.
Oleh karena itu, Pardan sangat mendesak dan berharap agar pemilik akun tersebut beriktikad baik untuk segera menginjakkan kaki di lokasi SPBU, supaya simpang siur rumor miring ini dapat terurai secara terang benderang serta tidak memicu bola liar di tengah masyarakat.
Bahkan, jajaran pimpinan PT Pertamina Patra Niaga selaku pengelola resmi turut memberikan instruksi khusus agar manajemen SPBU segera mendudukkan konsumen tersebut secara tatap muka guna melangsungkan sesi dialog bersama demi meluruskan fakta lapangan secara lengkap.
Nasib Apes Sang Operator yang Harus Rela Dipecat Akibat Lalai
Di samping itu, Pardan menerangkan bahwa pihak pengelola stasiun langsung bergerak cepat menyelenggarakan investigasi internal yang mendalam persis setelah rekaman video tersebut mendadak gempar di berbagai platform media sosial pada petang hari di tanggal kejadian.
Sebagai wujud komitmen tinggi dalam menjaga profesionalisme serta menegakkan integritas standar operasional prosedur internal, jajaran manajemen tanpa ragu langsung menjatuhkan sanksi administratif yang sangat berat terhadap petugas yang melayani transaksi tersebut.
Malahan, Pardan mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa petugas tersebut terbukti sah melakukan kelalaian kerja, terlebih dirinya ternyata sudah pernah mengantongi rekam jejak kesalahan serupa hingga memperoleh Surat Peringatan tingkat 3. Atas pertimbangan rekam jejak yang buruk itulah, pihak manajemen akhirnya mengambil keputusan drastis untuk memberhentikan sang karyawan secara permanen.
“Faktanya kami memperhatikan operator ini memang terbukti sangat lalai saat menjalankan tugasnya. Mengingat dia sebelumnya juga pernah melakukan kesalahan serupa dan mengantongi surat peringatan, maka mau tidak mau perusahaan terpaksa mengambil tindakan tegas dengan merumahkan serta memecat yang bersangkutan,” tegas Pardan secara lugas.
Selanjutnya, jajaran manajemen menjamin bahwa seluruh aktivitas pelayanan di stasiun pengisian BBM akan selalu berjalan mengacu pada standar operasional prosedur yang berlaku ketat. Prosedur standar tersebut secara wajib mengharuskan setiap petugas mengawali hitungan meteran dari angka nol serta memamerkan hasil akhir pengisian kepada konsumen demi menangkal potensi salah paham.
Awal Mula Video Dugaan Manipulasi Bensin yang Menghebohkan Publik
Sebelumnya, unggahan video milik akun Threads @bydemata mendadak meledak dan menjadi bahan perbincangan panas di media sosial setelah merekam dugaan manipulasi pengisian BBM di stasiun pengisian 34.152.06 area Bintaro, Pondok Aren, Tangerang Selatan pada hari Minggu (25/10/2026).
Dalam unggahan video yang mendadak gempar tersebut, sang pengunggah mengklaim bahwa dirinya sudah memesan bensin Pertalite seharga Rp 100.000, namun secara mengejutkan proses pengisian bensin justru mendadak terhenti di kisaran angka Rp 80.000 tanpa penjelasan sedikit pun dari petugas.
Bahkan, pengunggah video menuding bahwa setelah dirinya melontarkan teguran keras, sang operator SPBU diklaim langsung menyodorkan uang kembalian senilai Rp 20.000 secara terburu-buru demi menutupi kesalahannya.
Menanggapi kehebohan publik yang kian membara, Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Jawa Bagian Barat PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto, menegaskan bahwa pihak Pertamina mengambil langkah tegas dengan merestui sanksi PHK kepada oknum operator yang bersangkutan.
“Sebagai bukti keseriusan kami dalam merespons kejadian menghebohkan ini, operator yang bersangkutan telah resmi dikenakan sanksi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh manajemen SPBU,” tegas Reno saat memberikan pernyataan resminya.
Sementara itu, jajaran jurnalis terus berupaya membuka jalur komunikasi serta menghubungi pemilik akun Threads @bydemata guna mendapatkan konfirmasi serta sudut pandang yang seimbang mengenai insiden viral ini.
Namun demikian, sampai berita ini resmi diunggah dan disebarluaskan kepada khalayak ramai, pemilik akun media sosial tersebut rupanya masih bungkam dan belum memberikan respon atau tanggapan balasan apa pun.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

