JAKARTA, Desapenari.id – Kabar mengejutkan datang dari jalanan ibu kota yang belakangan ini makin rawan bahaya. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, akhirnya turun tangan secara langsung dan memberikan instruksi tegas kepada jajaran Dinas Bina Marga DKI Jakarta untuk segera menggarap perbaikan total pada separator alias pembatas jalur bus Transjakarta yang membentang di sepanjang Koridor 9. Langkah cepat ini diambil oleh jajaran pemerintah daerah guna merespons keresahan warga yang sudah sangat jenuh melihat fasilitas umum di jalur sibuk tersebut terus-menerus hancur akibat benturan berulang.
Oleh sebab itu, pengerjaan proyek perbaikan ini membawa misi yang sangat krusial demi menjamin keselamatan para pengguna jalan. Pemerintah kota merancang langkah ini khusus untuk menghentikan manuver berbahaya dari kendaraan berbobot berat, terutama armada truk besar, agar tidak lagi melompati barikade atau asal menerobos masuk ke dalam jalur steril busway. Pasalnya, deretan kecelakaan mengerikan yang terjadi belakangan ini terbukti telah merobohkan dan memporak-porandakan struktur beton pembatas jalan hingga membahayakan nyawa pengemudi lain.
Selanjutnya, Pramono Anung memberikan konfirmasi resmi mengenai arahan penting ini sewaktu menyapa awak media di tengah kunjungannya ke kawasan Taman Sari, Jakarta Barat, pada Senin (26/10/2026). Orang nomor satu di DKI Jakarta tersebut menekankan bahwa pihak Pemprov tidak bisa lagi tinggal diam melihat kondisi jalan yang kian memprihatinkan. Oleh karena itu, ia langsung memberikan instruksi khusus kepada dinas terkait agar secepatnya mengeksekusi perbaikan di lapangan serta merapikan seluruh bagian separator yang mengalami keretakan dan kerusakan parah.
Bahkan, akibat gelombang kecelakaan lalu lintas yang terus berulang tanpa henti, pemandangan di sepanjang lintasan tersebut kini menyajikan barisan beton separator yang hancur berkeping-keping. Banyak benteng pembatas jalan yang sudah tidak lagi berdiri mengunci jalur, melainkan hancur berantakan dan menyisakan puing-puing berbahaya di pinggir jalan raya. Keadaan mengkhawatirkan ini tentu saja menambah deretan panjang ancaman keselamatan bagi para pengendara sepeda motor maupun mobil pribadi yang sehari-hari melintasi kawasan padat tersebut.
Kendati demikian, Pramono Anung hingga saat ini memang belum mengumumkan tanggal pasti kapan pergerakan alat berat dan perbaikan fisik separator tersebut akan mengeksekusi lokasi kejadian. Publik dan para pengguna jalan setia Transjakarta pun masih harus bersabar menanti jadwal pasti pengerjaan konstruksi pembatas baru tersebut. Gubernur tampaknya masih menunggu koordinasi teknis yang matang dari tim Dinas Bina Marga agar proses pengerjaan jalanan tidak makin memperparah kemacetan Jakarta.
Lebih lanjut lagi, Pramono menyampaikan pernyataan lanjutan mengenai kejelasan tenggat waktu eksekusi perbaikan pembatas jalan tersebut. Ia menegaskan bahwa seluruh proses pengerjaan lapangan pastinya akan segera berjalan begitu seluruh tahapan persiapan awal dan perencanaan teknis dari dinas terkait selesai mereka matangkan. Oleh sebab itu, jajaran Pemprov DKI Jakarta berjanji akan terus memantau perkembangan proses persiapan ini agar perbaikan pembatas jalur busway tidak mengulur waktu lebih lama.
Padahal, jika kita menengok kembali catatan riwayat lalu lintas ibu kota, rentetan insiden tabrakan dahsyat yang melibatkan armada truk bertubuh bongsor memang sudah berulang kali terjadi di Jakarta. Dampak dari kelalaian berkendara dan kecelakaan fatal tersebut tidak main-main karena terus merusak berbagai fasilitas umum milik publik secara signifikan. Selain merugikan keuangan daerah, peristiwa-peristiwa kelam di jalan raya ini juga merenggut kenyamanan warga yang bergantung pada kelancaran transportasi umum.
Salah satu tragedi lalu lintas yang paling menyedot perhatian publik adalah petaka melibatnya sebuah truk pengangkut muatan garam yang menghantam keras beton pembatas busway di kawasan Jalan MT Haryono, Jakarta Timur. Peristiwa mencekam yang terjadi pada Senin (19/10/2026) saat dini hari tersebut seketika mengejutkan warga sekitar serta pengguna jalan yang melintas. Benturan dahsyat armada muatan berat itu langsung membuat pembatas jalur Transjakarta hancur seketika dan menutup sebagian badan jalan utama.
Menanggapi peristiwa mengerikan tersebut, Kanit Laka Lantas Polres Metro Jakarta Timur, AKP Darwis Yunarta, langsung memberikan gambaran rinci mengenai kronologi kejadian perkara. Ia membeberkan bahwa petaka tersebut bermula saat armada truk dengan nomor polisi E 9524 QA yang berada di bawah kendali pengemudi bernama Dodo Rivaldo melaju kencang dari arah timur menuju ke barat di lintasan Jalan MT Haryono, wilayah Kramat Jati, Jakarta Timur.
Namun, saat truk bermuatan berat itu melintas tepat di area depan SPBU Shell, sang sopir mendadak kehilangan kendali atas kendaraannya hingga akhirnya menghantam barikade beton pembatas busway dengan sangat keras. Akibat laju kendaraan yang terlalu kencang dan hantaman yang begitu dahsyat, posisi truk tersebut langsung tersangkut di atas separator jalan. Kejadian mendadak ini membuat kendaraan berukuran besar itu membentang kaku dan memblokir alur kendaraan lain di lokasi tersebut.
Di samping itu, benturan keras tersebut menyebabkan struktur bemper bagian depan truk mengalami kerusakan amat parah dan membuat roda depannya langsung terlepas dari porosnya, papar Darwis secara gamblang melalui keterangan tertulis resmi yang diterima oleh media pada hari Senin tersebut. Kerusakan mekanis yang begitu hebat ini membuktikan betapa dahsyatnya energi benturan saat armada muatan berat menabrak benteng pembatas jalur Transjakarta.
Selain insiden truk garam tersebut, pada Selasa (22/9/2026) pagi yang lalu, sebuah armada bus juga pernah menyundul keras separator pembatas jalur hingga hancur berantakan. Akibat peristiwa nahas di pagi hari saat jam sibuk kerja tersebut, kemacetan parah dan penumpukan kendaraan yang sangat mengular tidak terelakkan lagi melanda kawasan lalu lintas sekitar Petamburan, Denpasar, hingga menjangkau wilayah Pancoran.
Alhasil, dampak buruk dari kekacauan lalu lintas tersebut langsung melumpuhkan efisiensi layanan transportasi publik Transjakarta, khususnya pada koridor 9. Banyak armada bus Transjakarta yang terjebak di tengah antrean kendaraan, sehingga berbagai rute perjalanan utama mengalami keterlambatan jadwal yang sangat signifikan. Pengalaman buruk inilah yang akhirnya mendorong Pemprov DKI Jakarta untuk mempercepat revitalisasi fisik seluruh separator demi kenyamanan masyarakat luas.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

