BANJARMASIN, Desapenari.id – Masyarakat Kalimantan Selatan mendadak dibuat geger dan bertanya-tanya setelah pihak Pemerintah Provinsi Kalsel secara resmi mengambil langkah penanganan bencana yang terbilang cukup mengejutkan, yakni memperpanjang durasi penetapan status Siaga Darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara serentak di seluruh penjuru wilayah hingga tanggal 30 November 2026 mendatang.
Padahal, apabila kita menilik kembali pada dokumen penetapan dan agenda awal pemerintah setempat, penetapan masa siaga bencana asap yang sangat mengancam kesehatan serta aktivitas masyarakat tersebut sebenarnya sudah dipatok bakal berakhir tepat pada hari Sabtu, 31 Oktober 2026.
“Memang benar status siaga darurat karhutla di daerah kita ini secara administratif dijadwalkan habis pada 31 Oktober, namun demikian berdasarkan hasil instruksi tegas dan arahan langsung Pak Gubernur bersama jajaran Forkopimda, kita sepakat meneruskan status kewaspadaan penuh ini sampai 30 November,” tegas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, Ronny Eka Saputra, saat memberikan pernyataan pers secara rinci pada Rabu (28/10/2026).
Lebih lanjut, Ronny membeberkan bahwa keputusan vital ini tidak diambil secara terburu-buru, melainkan mempertimbangkan hasil kalkulasi teknis dan analisis cuaca presisi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang secara terbuka memprediksi bahwa fenomena hujan lebat secara merata baru akan mulai mengguyur bumi Kalsel pada minggu ketiga November.
Maka dari itu, Ronny bersama jajaran tim penanggulangan bencana membumbungkan harapan sangat tinggi agar seluruh rentetan amukan si jago merah yang melahap wilayah Kalsel benar-benar dapat padam total sebelum tenggat waktu perpanjangan 30 November tersebut berakhir.
Prioritas di Kawasan Ring 1 dan Bandara
Di sisi lain, Ronny menjelaskan secara terperinci bahwa aksi pemadaman dan penanganan bencana karhutla di berbagai penjuru Kalsel hingga saat ini masih berlangsung amat masif, di mana tim satgas darat BPBD Kalsel memfokuskan benteng pertahanan utama serta prioritas pengamanan pada kawasan strategis Ring 1 yang mencakup Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Barito Kuala (Batola), hingga sebagian wilayah Tanah Laut (Tala).
Selain memprioritaskan kawasan pemukiman padat tersebut, perhatian super ekstra dan pengawalan ketat tingkat tinggi juga terus dicurahkan oleh jajaran petugas ke area vital penerbangan nasional sekaligus kebanggaan daerah, yakni Bandara Internasional Syamsudin Noor.
Bukan tanpa alasan yang kuat, Ronny menegaskan fakta di lapangan bahwa bandara kebanggaan masyarakat Kalsel tersebut memegang peranan vital sebagai pusat komando dan pangkalan pendaratan utama (homebase) bagi seluruh Armada Satuan Tugas (Satgas) Udara.
Sebab, manakala timbul sedikit saja gangguan asap tebal yang melumpuhkan jadwal operasional bandara, dampaknya dipastikan bakal langsung menghentikan manuver helikopter pemadam water bombing sekaligus mengacaukan jadwal Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang sedang diandalkan.
“Maka dari itu, apabila fasilitas bandara sampai lumpuh akibat pekatnya asap, secara otomatis seluruh pergerakan satgas udara kita ikut lumpuh total; artinya, tidak ada lagi helikopter yang bisa mengangkut air untuk water bombing, bahkan Misi Operasi Modifikasi Cuaca pun dipastikan terhenti total,” imbuh Ronny dengan nada penuh ketegasan.
Sementara itu, rekaman data penanganan karhutla yang dirilis secara resmi di portal BNPB per 28 Oktober mencatat bahwa total volume air yang telah disiramkan oleh armada udara melalui operasi pemadaman di langit Kalsel sudah menembus angka fantastis sebesar 828.500 liter.
Pada saat yang bersamaan, sapuan water bombing lewat jalur udara yang digencarkan oleh tim satgas tersebut berhasil menyelamatkan serta memadamkan hamparan lahan kritis bervegetasi semak belukar seluas 17,5 hektare dari kepungan api.
Hotspot Turun Drastis Usai Hujan
Kabar baiknya, jumlah sebaran titik panas (hotspot) karhutla di seantero wilayah Kalsel dilaporkan mengalami penurunan yang sangat drastis dan signifikan setelah guyuran hujan deras akhirnya membasahi sejumlah titik rawan yang sebelumnya mengering.
Berdasarkan data telemetry terbaru dari BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor per tanggal 28 Oktober 2026, para pakar BMKG hanya mendeteksi sisa lima titik hotspot yang masih bertahan di seluruh wilayah Kalsel.
Apabila dibedah secara rinci, dua titik panas terpantau masih membakar kawasan Kecamatan Kelumpang Utara di Kabupaten Kotabaru, sedangkan tiga titik panas lainnya terdeteksi menyebar di Kecamatan Lokpaikat, Kabupaten Tapin, di mana seluruh titik tersebut terkonfirmasi memiliki tingkat kepercayaan berada pada kriteria sedang (medium confidence).
Tentunya, angka lima titik panas ini menunjukkan perubahan yang sangat fantastis dan drastis jika dibandingkan dengan kondisi mencekam sebelum hujan turun, mengingat pada tanggal 24 Oktober 2026 saja sensor BMKG sempat mendeteksi amukan 1.226 titik hotspot yang mengepung wilayah Kalsel.
Akan tetapi, hanya dalam kurun waktu satu hari berikutnya, jumlah titik api tersebut secara menakjubkan langsung merosot tajam menjadi tinggal 362 titik, atau mengalami penurunan fantastis sebesar 70,5 persen sebagaimana tertuang dalam laporan harian BMKG.
Luar biasanya lagi, tren penurunan titik panas yang begitu tajam ini tercatat amat selaras dengan data pemantauan Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) milik Kementerian LHK, di mana akumulasi deteksi hotspot dari berbagai satelit pada kolom counter sempat menembus rekor 492 titik pada periode 24–25 Oktober 2026.
Namun akhirnya, tatkala memasuki periode pemantauan tanggal 26 hingga 28 Oktober, angka tersebut terus mengalami penurunan drastis hingga tersisa 145 titik saja, yang mana fakta ini membuktikan adanya penurunan tingkat ancaman kerawanan secara konsisten sebesar 70,5 persen.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

