BAUBAU, Desapenari.id — Para ibu rumah tangga dan pelaku usaha kuliner di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, mendadak dibuat gempar setelah menyaksikan harga komoditas pedas cabai melonjak luar biasa drastis di kawasan Pasar Tradisional Karya Nugraha. Lonjakan gila-gilaan yang sangat mencekik kantong ini tercatat sudah berlangsung lama selama hampir sebulan penuh, sehingga secara perlahan tapi pasti langsung mengacak-acak anggaran belanja harian masyarakat setempat yang sangat bergantung pada ketersediaan bumbu dapur utama tersebut.
Bahkan, lonjakan harga yang sangat ekstrem ini tercatat menghantam hampir seluruh varian komoditas cabai tanpa ada yang terlewatkan, di mana harga cabai rawit merah secara mengejutkan berhasil menembus rekor fantastis mencapai Rp 250.000 per kilogram. Kenaikan harga yang dinilai sangat tidak masuk akal oleh warga ini terjadi justru di tengah kondisi ketersediaan stok barang di tingkat pedagang pasar yang kian hari makin kritis dan terbatas.
Sementara itu, kejutan harga yang tak kalah merosotkan daya beli masyarakat juga melanda varian cabai kristal yang mana nilainya mendadak meroket tajam dari yang semula hanya dijajakan seharga Rp 25.000 per kilogram kini melambung hingga angka Rp 140.000 per kilogram. Tentu saja lonjakan harga yang mencapai berlipat-lipat ganda tersebut langsung membuat para pembeli elus dada dan mengeluhkan mahalnya biaya memasak sehari-hari.
Oleh karena itu, berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan penuturan para pedagang, fenomena meroketnya harga bumbu pedas ini disinyalir kuat berkaitan erat dengan cuaca kering ekstrem serta bencana kekeringan yang meluas. Gelombang kemarau panjang yang menghantam daerah penghasil ini secara nyata melumpuhkan kapasitas produksi tanaman cabai di tingkat petani lokal sehingga panen menjadi sangat minim.
Selanjutnya, Arifin selaku salah seorang pedagang cabai senior yang sehari-hari menggelar lapak di Pasar Karya Nugraha mengonfirmasi langsung bahwa tren kenaikan harga ini memang telah meresahkan pedagang selama beberapa pekan terakhir. Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini pergerakan harga bahan pangan tersebut masih terus bertahan tinggi dan belum menunjukkan tanda-tanda bakal mengalami penurunan dalam waktu dekat.
“Harga cabai memang lagi naik gila-gilaan, dan kondisi melambung ini sudah terjadi sejak hampir satu bulan terakhir. Buntutnya, harga cabai kristal yang dulunya cuma Rp 25 ribu langsung melonjak naik menjadi Rp 140 ribu per kilogram. Semua kekacauan ini murni dipengaruhi oleh cuaca buruk dan fenomena kekeringan parah ini,” kata Arifin saat membeberkan gambaran riil kondisi pasar kepada wartawan pada Rabu (28/10/2026).
Datangkan cabai dari luar daerah
Akibatnya, menyusutnya pasokan hasil panen lokal secara drastis memaksa para pedagang pasar tradisional harus memutar otak dan berani mengambil risiko mendatangkan pasokan cabai segar dari luar daerah. Langkah darurat ini terpaksa mereka tempuh demi terus menjaga ketersediaan barang di lapak dagangan sekaligus guna memenuhi tingginya angka permintaan komoditas cabai dari para konsumen harian.
“Oleh sebab itu, stok cabai segar ini terpaksa kami ambil dan datangkan langsung dari daerah luar seperti pengiriman Kendari, Makassar, hingga Maumere,” ujar Arifin menjelaskan skema rantai pasok alternatif yang terpaksa ia jalani demi menambal kekosongan stok barang di pasaran.
Selain itu, kenaikan harga yang membumbung tinggi ini rupanya tidak cuma memukul komoditas cabai kristal semata, melainkan turut merembet luas ke jenis cabai lainnya. Terbukti nyata, varian cabai Indofood yang tadinya dipasarkan pada harga normal Rp 25.000 per kilogram, kini melompat hebat ikut menyentuh angka yang sama tingginya yaitu sebesar Rp 140.000 per kilogram.
Di samping itu, varian cabai keriting tidak mau ketinggalan mengalami kenaikan signifikan, dari harga semula Rp 40.000 kini bertengger naik pada rentang Rp 80.000 hingga menembus Rp 100.000 per kilogram. Kendati demikian, lonjakan harga paling mencengangkan dan spektakuler tetap didominasi oleh cabai rawit yang melambung sangat tinggi hingga menembus rekor puncak Rp 250.000 per kilogram.
“Bahkan untuk jenis cabai rawit saat ini harganya sudah resmi melonjak fantastis menjadi Rp 250 ribu per kg, dan ironisnya lagi barangnya sendiri memang sudah sangat langka di pasaran,” tutur Arifin mengomentari kondisi minimnya pasokan cabai yang kian mengkhawatirkan.
Lebih lanjut, Arifin memberikan isyarat dan peringatan mengkhawatirkan bahwa tren lonjakan harga cabai yang membumbung tinggi ini berpotensi besar masih akan terus berlanjut hingga Januari 2027 mendatang. Prediksi pahit ini dipastikan bakal menjadi kenyataan pahit apabila anomali cuaca ekstrem kekeringan tidak kunjung membaik dan kondisi rantai pasokan dari daerah penghasil belum juga pulih normal.
“Kalau kondisi cuaca memang masih terus-menerus kekeringan seperti ini, maka harga dipastikan masih akan mengalami kenaikan berantai hingga bulan satu tahun 2027 nanti. Apalagi dengan adanya kemarau panjang ini, kami sendiri meragukan sampai bulan satu nanti apakah pasokan barangnya masih ada atau malah menghilang total,” ucapnya menyampaikan kekhawatiran mendalam.
Berharap pemerintah turun tangan
Buntut dari tak terkontrolnya lonjakan harga bumbu dapur utama ini, warga masyarakat di Kota Baubau ramai-ramai menyampaikan keluhan mendalam karena terpaksa menguras dompet lebih dalam demi sekadar mempertahankan kebutuhan harian konsumsi rumah tangga mereka.
Pada kesempatan yang sama, salah seorang warga pembeli bernama Dewi mengutarakan kekecewaannya seraya mengungkapkan bahwa tingkat kenaikan harga komoditas cabai saat ini dirasakan sangat tidak wajar dan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan kondisi harga pada periode-periode sebelumnya.
“Jujur saja, harga cabai saat ini sangat mahal dan benar-benar mencekik pengeluaran dapur. Padahal biasanya kami cuma dengan modal membeli Rp 15 ribu saja sudah bisa dapat membawa pulang cabai hingga setengah kilogram, tetapi sekarang nominal sebesar itu sudah sangat tidak terasa ada artinya,” kata Dewi meluapkan kekesalannya atas mahalnya harga barang.
Oleh sebab itu, Dewi sangat berharap agar pihak pemerintah daerah maupun pusat bisa segera turun tangan mengambil langkah konkret untuk mengintervensi serta mengendalikan gejolak harga cabai di pasar agar kembali stabil. Langkah nyata dan operasi pasar dari pemerintah sangat dinantikan oleh warga supaya bumbu dapur esensial ini bisa kembali dijangkau oleh daya beli masyarakat luas.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

