BOGOR, Desapenari.id – Siapa bilang pasar tradisional itu cuma tempat becek, sumpek, dan bau amis? Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor siap membalikkan stereotip itu dengan menghadirkan sebuah gebrakan besar. Mereka memastikan rencana untuk menyulap Pasar Leuwiliang menjadi pusat ekonomi modern yang dilengkapi bioskop. Bukan satu, tapi dua studio bakal langsung mereka bangun sebagai bagian dari wajah baru pasar yang lebih ramah pengunjung.
Mereka mendesain kehadiran gedung bioskop ini bukan sekadar tempelan. Justru, pemerintah membidiknya menjadi magnet baru yang menyatukan pusat perbelanjaan dan hiburan. Harapannya, warga Bogor Barat tidak perlu lagi jauh-jauh ke kota untuk sekadar menonton film sambil belanja kebutuhan sehari-hari.
Konsep Pasar Hiburan, Bukan Sekadar Jual Beli
Haris Setiawan, Direktur Utama Perumda Pasar Tohaga, dengan antusias membeberkan ambisi besar mereka. Menurutnya, revitalisasi ini merupakan upaya serius untuk membangkitkan kembali fungsi pasar. Ia ingin pasar tidak lagi mati suri setelah matahari tergelincir. Pasar harus hidup dari pagi hingga malam, tidak hanya sebagai tempat transaksi jual beli sayur dan daging, tetapi juga sebagai ruang aktivitas dan hiburan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Konsep ini, lanjut Haris, sekaligus menjadi cara untuk menghidupkan kembali nostalgia masa lalu. Banyak warga sepuh di Leuwiliang yang pasti masih ingat bagaimana hiruk-pikuknya kota kecil ini dulu. Leuwiliang ternyata pernah memiliki bioskop sendiri yang menjadi pusat keramaian dan tempat nongkrong favorit generasi 80-an. Kini, mereka berusaha menghadirkan kembali semangat itu dengan kemasan yang jauh lebih modern.
“Insya Allah, tim kami sudah berkomunikasi intensif dengan penyedia layanan bioskop nasional. Untuk tahap awal, kami sepakat akan membangun dua studio terlebih dahulu,” ujar Haris dengan penuh optimisme dalam keterangannya kepada awak media, Minggu (15/2/2026). Ia menegaskan, pembangunan dua studio ini baru langkah awal. Jika animo masyarakat tinggi, bukan tidak mungkin mereka akan menambah jumlah studio di masa mendatang.
Sinergi Jualan Ikan dan Jualan Tiket
Banyak pedagang awalnya khawatir. Mereka takut kehadiran bioskop justru akan menggeser eksistensi mereka. Namun, Haris buru-buru meluruskan kekhawatiran ini. Dengan tegas ia menjelaskan bahwa rencana kehadiran bioskop di Pasar Leuwiliang justru dirancang untuk saling menguatkan, bukan menghilangkan peran pasar rakyat.
Logikanya sederhana. Seorang anak muda yang datang untuk nonton film, pasti akan melewati deretan lapak pedagang. Ia mungkin tergoda membeli gorengan atau jajanan pasar sambil menunggu jam tayang. Seorang ibu yang biasanya hanya belanja sayur, mungkin akan mengajak serta keluarganya karena ada tujuan hiburan. Dengan adanya fasilitas hiburan ini, mereka yakin jumlah pengunjung pasar akan melonjak drastis. Pada akhirnya, perputaran uang di tangan pedagang tradisional justru akan ikut berputar lebih kencang.
“Saat ini, pembangunan fisik Pasar Leuwiliang terus berjalan sesuai rel. Progressnya sudah mendekati 50 persen. Target kontrak memang Desember, tetapi kami terus memacu kontraktor agar bisa menyelesaikan lebih cepat dari jadwal,” ungkap Haris memperlihatkan data progres pembangunan.
Modern Tanpa Mengusir Pedagang Kaki Lima
Pembangunan pasar ini tidak akan serta-merta mengubah Leuwiliang menjadi tempat yang elitis. Pengembangan Pasar Leuwiliang akan mereka arahkan menjadi kawasan yang modern namun tetap inklusif. Mereka akan menghadirkan pilihan kuliner kekinian di satu sisi, tetapi tetap menyediakan lapak murah bagi pedagang lokal yang sudah berjualan selama puluhan tahun di sana.
Tim manajemen pasar akan mengatur segmen pasar dengan rapi. Lantai dasar mungkin akan dipadati oleh pedagang sembako dan pakaian dengan harga merakyat. Sementara di area yang lebih strategis, mereka akan menyulapnya menjadi food court dengan variasi kuliner yang bisa menjangkau kantong anak muda hingga keluarga kelas menengah. Tidak ada satu pun pedagang lama yang akan mereka usir. Justru, mereka beri prioritas.
“Jika semua rencana ini terealisasi sesuai mimpi kami, pasar ini diharapkan tidak hanya menjadi tempat belanja, tetapi juga menjadi salah satu ikon baru pusat aktivitas ekonomi dan hiburan masyarakat di wilayah barat Kabupaten Bogor,” pungkas Haris dengan penuh harap.
Luka Lama Sembuh, Kini Bersolek
Masyarakat Leuwiliang pasti masih ingat betul peristiwa pilu beberapa waktu lalu. Pasar Leuwiliang sempat dilalap si jago merah. Api melumat puluhan kios dan los pasar, membuat aktivitas perdagangan lumpuh total selama berbulan-bulan. Pedagang terpaksa berjualan di tenda-tenda darurat di pinggir jalan.
Peristiwa nahas tersebut ternyata menjadi momentum perubahan. Pemerintah tidak hanya membangun kembali apa yang rusak, tetapi menggunakan momen ini untuk melakukan penataan total. Kini, dari puing-puing kebakaran, akan lahir sebuah pasar yang lebih tertata, lebih representatif, dan yang paling penting, lebih menghibur. Warga Leuwiliang pun kini tak sabar menunggu kapan mereka bisa kembali ramai-ramai, kali ini tidak hanya untuk belanja, tapi juga untuk nonton bareng film favorit di kota mereka sendiri.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

