BOGOTA, Desapenari.id – Kolombia kembali berguncang! Sebuah ledakan bom dahsyat menghantam wilayah rawan konflik di barat daya negara itu, tepatnya pada Sabtu (25/4/2026). Akibatnya, 14 orang tewas seketika dan setidaknya 38 lainnya menderita luka-luka. Sungguh tragis!
Peristiwa mengerikan ini terjadi di wilayah Cuaca, yang kini menjadi pusat perhatian dunia. Bom tersebut menjadi gelombang kekerasan teranyar yang memanas menjelang pemilihan presiden Kolombia bulan depan. Semua mata kini tertuju pada negeri kopi tersebut.
Pihak berwenang dengan tegas menuding kelompok gerilya FARC yang telah dibubarkan sebagai otak di balik serangan biadab ini. Mereka tak tinggal diam.
“Orang-orang yang melakukan serangan ini adalah teroris, fasis, dan pengedar narkoba!” seru Presiden Gustavo Petro dengan nada tinggi, sebagaimana dikutip dari AFP pada Minggu (26/4/2026). Kemarahannya begitu meledak-ledak.
“Saya ingin prajurit terbaik kita menghadapi mereka,” tambahnya dengan penuh tekad. Presiden itu jelas tak main-main.
PENJAHAT PALING DICARI JADI BURUAN UTAMA
Presiden beraliran sayap kiri itu langsung menuding Ivan Mordisco sebagai dalang pengeboman tersebut. Siapa dia? Mordisco adalah penjahat paling dicari di seluruh Kolombia, bahkan Presiden Petro berani membandingkannya dengan mendiang raja kokain Pablo Escobar! Wow, betapa seremnya.
Gubernur Cauca, Octavio Guzman, memberikan update lewat unggahan di X. “Hingga saat ini, kami melaporkan 14 orang tewas dan lebih dari 38 orang terluka, termasuk lima anak di bawah umur,” tulisnya dengan nada duka yang mendalam.
Tim penyelamat pun masih sibuk mencari beberapa orang yang dilaporkan hilang, demikian sumber kepolisian membocorkan kabar terbaru.
JALAN RAYA HANCUR, KRATER BESAR MUNCUL!
Ledakan yang terjadi di Jalan Raya Pan-Amerika ini sungguh luar biasa dahsyatnya. Bayangkan, sebuah bus dan van hancur berkeping-keping! Beberapa mobil bahkan terbalik begitu saja akibat kekuatan ledakan yang menggelegar. Tak hanya itu, sebuah kawah besar pun menganga di tengah jalan raya. Pemandangan yang mengerikan!
Kepala militer Hugo Lopez dengan lugas menjelaskan dalam konferensi pers, “Ini adalah serangan teroris terhadap penduduk sipil.” Para penjahat itu rupanya memblokir jalan terlebih dahulu menggunakan sebuah bus dan kendaraan lain, baru kemudian meledakkan bom. Sungguh keji!
Seorang petani kopi bernama Francisco Javier Betancourt yang menyaksikan kejadian itu langsung gemetar ketakutan. “Saya takut,” ucapnya polos. “Kita berada di negara yang sudah hancur. Di mana lagi hal seperti ini bisa terjadi?” keluhnya sambil geleng-geleng kepala.
26 SERANGAN DALAM DUA HARI! BAGAIMANA BISA?
Hebohnya lagi, insiden mematikan ini muncul tepat setelah serangan bom lain pada Jumat (24/4/2026) di sebuah pangkalan militer di Cali, kota terbesar ketiga Kolombia. Serangan sebelumnya melukai dua orang dan memicu rentetan serangan di departemen Valle del Cauca dan Cauca.
Menurut catatan Lopez, sudah 26 serangan tercatat di dua departemen tersebut selama dua hari terakhir saja! Waduh, sungguh mengerikan.
Menteri Pertahanan Pedro Sanchez langsung bereaksi cepat. Pihak berwenang telah meningkatkan kehadiran militer dan polisi di daerah-daerah rawan tersebut, demikian diumumkannya.
SEJARAH KELAM TERULANG, PILPRES DIBAYANGI TEROR
Kolombia memang memiliki sejarah kelam di mana kelompok bersenjata kerap berupaya memengaruhi pemilihan umum melalui kekerasan. Biaya operasi mereka berasal dari perdagangan narkoba, penambangan ilegal, dan pemerasan. Sisa-sisa FARC yang menolak kesepakatan damai tahun 2016 pun secara aktif berusaha mengganggu perundingan damai yang saat ini terhenti dengan Petro.
Isu keamanan menjadi salah satu topik sentral dalam pemilihan presiden yang dijadwalkan pada 31 Mei mendatang. Kekerasan politik sudah mendapat sorotan tajam sejak Juni lalu, ketika seorang calon presiden muda konservatif bernama Miguel Uribe Turbay ditembak di siang bolong saat sedang berkampanye di ibu kota Bogota. Betapa mencekamnya!
SIAP PEMIMPIN BERIKUTNYA? TIGA KANDIDAT DIBAYANGI ANCAMAN
Saat ini, senator sayap kiri Ivan Cepeda unggul dalam berbagai jajak pendapat. Ia dikenal sebagai salah satu arsitek kebijakan kontroversial Petro yang gemar bernegosiasi dengan kelompok bersenjata. Namun, ia tak sendirian.
Di belakangnya, ada kandidat sayap kanan Abelardo de la Espriella dan Paloma Valencia yang sama-sama berjanji akan mengambil sikap keras terhadap kelompok pemberontak. Ketiganya telah mengaku menerima ancaman pembunuhan! Mengerikan, bukan? Mereka kini terpaksa berkampanye di bawah pengamanan super ketat.
Akankah Kolombia selamat dari bayang-bayang teror menuju Pilpres 31 Mei? Atau justru kekerasan akan semakin meledak? Kita nantikan bersama. Satu hal yang pasti: rakyat Kolombia sedang berada dalam ketakutan yang luar biasa. Bom di jalan raya, anak-anak jadi korban, dan para penjahat masih berkeliaran. Sungguh, ini adalah momen tergelap negeri kopi tersebut menjelang pesta demokrasi.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

