Nablus/Tel Aviv (Desapenari.id) – Ratusan warga Palestina menggelar aksi protes menentang perang di Jalur Gaza dengan penuh semangat di Kota Nablus, Tepi Barat, pada Selasa (29/7). Mereka menyuarakan penolakan keras terhadap kekerasan yang terus berlanjut sambil membawa spanduk bertuliskan tuntutan perdamaian. Tidak hanya itu, aksi serupa langsung menyulut respons di Tel Aviv, Israel tengah, di mana para demonstran juga turun ke jalan pada hari yang sama. Mereka mendesak pemerintah mencabut semua pembatasan bantuan kemanusiaan ke Gaza dan segera mengupayakan gencatan senjata.
Nablus: Gelombang Kemarahan Warga Palestina
Di Nablus, suasana aksi berlangsung panas namun tertib. Para pengunjuk rasa—terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, aktivis, hingga keluarga korban—berkumpul di pusat kota sejak pagi. Mereka meneriakkan yel-yel penuh emosi, menuntut diakhirinya serangan Israel di Gaza. Beberapa pembicara naik ke panggung darurat, menyampaikan pidato yang menggugah tentang dampak perang terhadap warga sipil.
“Kami tidak bisa diam melihat saudara-saudara kami di Gaza menderita setiap hari,” seru salah seorang orator, disambut sorak-sorai massa. Spanduk bertuliskan “Stop the Bloodshed” dan “Free Palestine” terlihat berkibar di tengah kerumunan. Aksi ini juga diwarnai dengan pembacaan puisi dan lagu-lagu perlawanan yang semakin memanaskan suasana.
Meski polisi setempat mengawasi ketat, tidak ada insiden kekerasan yang terjadi. Namun, beberapa pengamat mencatat bahwa ketegangan masih terasa, terutama setelah aksi serupa di kota-kota lain di Tepi Barat sempat berakhir bentrok.
Tel Aviv: Tekanan Keras untuk Gencatan Senjata
Sementara itu, di Tel Aviv, ribuan orang memenuhi jalan-jalan utama dengan tuntutan yang sama: menghentikan perang dan membuka akses bantuan kemanusiaan. Mereka bersatu dalam satu suara, menyerukan perdamaian dan keadilan.
“Kami lelah dengan kekerasan yang tidak ada ujungnya,” kata Miriam, seorang aktivis Yahudi yang tergabung dalam kelompok perdamaian. “Pemerintah harus segera bertindak untuk menyelamatkan nyawa, baik warga Gaza maupun tentara kami.”
Para demonstran membawa lilin dan foto korban perang, menciptakan suasana yang haru sekaligus penuh tekad. Mereka juga mengkritik keras blokade bantuan makanan dan obat-obatan ke Gaza, yang mereka anggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia. Aksi ini berlangsung hingga malam, dengan peserta terus menyanyikan lagu-lagu perdamaian.
Respons Pemerintah dan Reaksi Internasional
Di sisi lain, Hamas melalui pernyataan singkatnya menyambut baik dukungan dari warga Palestina di Tepi Barat dan warga Israel yang anti-perang.
Sementara itu, komunitas internasional terus memantau perkembangan. PBB mendesak kedua belah pihak untuk segera berunding, sementara beberapa negara Eropa mengutuk pembatasan bantuan kemanusiaan. Aktivis di seluruh dunia juga menggalang solidaritas melalui kampanye di media sosial, mendorong tekanan global untuk mengakhiri konflik.
baca juga: Truk Bantuan Kemanusiaan Akhirnya Masuk Gaza
Meski terpisah secara geografis, protes di Nablus dan Tel Aviv ini menunjukkan satu hal yang sama: rakyat dari kedua belah pihak menginginkan perdamaian. Mereka membuktikan bahwa di tengah konflik yang memanas, masih ada suara-suara rasional yang menolak kekerasan.
“Ini bukan tentang Palestina atau Israel, ini tentang kemanusiaan,” tegas salah seorang koordinator aksi di Tel Aviv.
Sebab, bagi mereka, perdamaian bukanlah pilihan, melainkan keharusan.

