SURABAYA, Desapenari.id – Dentuman keras tidak terdengar, tetapi kepanikan justru langsung mencengkeram Jalan Gresik, Selasa malam. Bukan karena aksi kejahatan, melainkan karena benda kecil seperti tablet yang diam-diam menyimpan api dalam perutnya. Aluminium fosfida, racun pembasmi hama yang terkenal buas, tiba-tiba mengamuk tepat di depan gerbang Mako Brimob Surabaya.
Kejadian bermula sekitar pukul 18.43 WIB. Sebuah mobil pikap melintas di kawasan padat kendaraan itu. Tanpa diduga, muatan di bak belakang bergeser. Tiba-tiba, beberapa kotak berisi tablet kimia beracun jatuh bergelindingan ke aspal. Dalam hitungan detik, kepulan asap putih langsung membumbung tinggi disusul bara api yang merambat cepat di aspal.
Masyarakat sekitar yang melihat kejadian itu sontak berteriak. Namun, tanpa mereka sadari, racun mematikan justru sudah menyebar di udara.
Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya langsung bereaksi cepat. Mereka segera mengirimkan pasukan elite dari Unit Tempur Rayon 1 Pasar Turi. Hanya dalam waktu tujuh menit—tepatnya pukul 18.50 WIB—tim tiba di lokasi. Mereka tidak hanya membawa air, tetapi juga strategi khusus untuk menjinakkan “monster kimia” tersebut.
Kepala Bidang Pemadaman DPKP Surabaya, M. Rokhim, mengonfirmasi bahwa objek yang terbakar bukanlah sampah biasa. “Itu aluminium fosfida, biasa dipakai untuk fumigasi. Sangat berbahaya,” tegasnya saat ditemui di lokasi, Selasa malam.
Rokhim menjelaskan, mobil pikap tersebut mengangkut tumpukan tablet beracun dalam kemasan. Saat jatuh dan bergesekan dengan aspal, tablet langsung bereaksi dengan udara lembap. Dari situlah titik api pertama kali muncul. Ia menambahkan, timnya tidak main-main dalam merespons insiden ini. Mereka mengerahkan empat unit mobil pemadam dan lima unit tim rescue. Total kekuatan personel yang dikerahkan bahkan melebihi standar kebakaran biasa.
“Kami kerahkan hampir semua kekuatan yang ada di Rayon 1. Karena begitu tahu itu aluminium fosfida, kami langsung siaga level tertinggi,” ujarnya.
Area terdampak tercatat selebar 3 meter dengan panjang mencapai 15 meter. Meski terlihat kecil, dampak racunnya bisa menjalar puluhan meter jika tertiup angin. Beruntung, petugas segera mengamankan perimeter. Mereka membatasi akses warga yang penasaran dan mulai berkerumun. Tanpa sepengetahuan mereka, menghirup asap dari aluminium fosfida bisa menyebabkan edema paru dalam hitungan menit.
Petugas pemadam tidak langsung menyiram dengan air. Sebab, mereka tahu betul bahwa air justru akan memperparah situasi. Alih-alih padam, aluminium fosfida yang terkena air akan meledak lebih dahsyat. Karena itu, mereka mengambil pendekatan berbeda.
Mereka menyemprotkan heavy foam—busa tebal berwarna putih—ke seluruh permukaan api. Busa itu membungkus tablet kimia seperti selimut raksasa. Tujuannya satu: memutus pasokan oksigen sekaligus menekan reaksi kimia di dalamnya.
Proses pemadaman berlangsung dramatis. Petugas menggunakan alat pelindung diri level tiga. Mereka juga membawa tabung detektor gas untuk memastikan tidak ada kebocoran fosfin di udara. Api akhirnya padam total pukul 19.08 WIB. Namun, petugas tidak lantas beranjak. Mereka masih bersiaga hingga pukul 20.30 WIB untuk memastikan tidak ada bara tersembunyi.
Setelah api benar-benar mati, petugas memasuki fase paling kritis: dekontaminasi. Mereka menyemprotkan cairan penetral ke aspal dan badan jalan. Proses ini memastikan tidak ada partikel beracun yang menempel dan membahayakan pengendara yang melintas kemudian hari.
Yang paling menarik perhatian publik adalah fakta bahwa insiden ini nyaris tidak memakan korban jiwa. Padahal, dalam banyak kasus serupa di negara lain, kecelakaan yang melibatkan aluminium fosfida sering berakhir dengan evakuasi massal dan korban luka berat.
Menurut catatan DPKP, titik api sempat menjalar cukup cepat karena angin malam yang cukup kencang. Namun, letak kejadian yang persis di depan Mako Brimob justru menjadi berkah tersembunyi. Personel Brimob yang melihat kejadian langsung membantu mengalihkan arus lalu lintas. Mereka juga membantu menjauhkan warga yang mulai mendekat karena penasaran.
Rokhim menyebutkan, edukasi tentang bahan kimia berbahaya masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak warga yang tidak paham bahwa tablet kecil seukuran kelereng bisa membunuh hanya dalam hitungan menit. Ia mengaku bersyukur kecelakaan ini tidak terjadi di pasar tradisional atau pemukiman padat.
“Kami sudah dekontaminasi total. Jalan aman dilalui. Tapi masyarakat harus sadar, bahan ini sangat reaktif terhadap kelembapan. Bahkan uap air dari laut bisa memicunya,” tambah Rokhim.
Sebagai informasi tambahan, aluminium fosfida memang dirancang untuk membunuh. Senyawa ini melepaskan gas fosfin saat bereaksi dengan air atau asam. Gas inilah yang membuat serangga dan tikus mati lemas dalam gudang penyimpanan. Tapi, tanpa penanganan tepat, gas yang sama juga bisa membunuh manusia.
Petugas masih mendalami asal-usul muatan dan tujuan pengiriman tablet tersebut. Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum menetapkan tersangka. Yang jelas, malam itu Surabaya nyaris mencatatkan tragedi kimia terbesar tahun ini. Beruntung, profesionalisme petugas DPKP berhasil mencegahnya hanya dalam hitungan jam.
Jalan Gresik kini kembali lengang. Namun, kepulan asap putih itu masih membekas di ingatan warga. Mereka baru sadar, kadang bahaya tidak selalu datang dengan suara keras—ia bisa jatuh diam-diam dari bak truk, lalu menyala tanpa peringatan.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

