CIANJUR, Desapenari.id – Dalam sepekan terakhir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, berhasil mendokumentasikan sebuah kejadian luar biasa: belasan rumah warga harus mengalami kerusakan parah akibat dihantam pohon tumbang yang dipicu oleh cuaca ekstrem yang menggila. Sungguh, bencana ini tidak datang sendirian, tetapi seolah menari diiringi angin kencang yang merusak.
Kemudian, Sekretaris BPBD Cianjur, Asep Sudrajat, pun membenarkan kekhawatiran publik. Ia dengan tegas menyebutkan, pihaknya mencatat ada 18 titik kejadian pohon tumbang di lokasi yang berbeda-beda, dan yang mencengangkan, semua terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan! “Untungnya, korban jiwa nihil alias nol,” ujar Asep melalui sambungan telepon pada Sabtu (30/1/2026). “Akan tetapi, jangan berlega hati dulu. Faktanya, sebelas rumah warga harus kami laporkan mengalami kerusakan berat dan nyaris tidak layak huni.”
Selanjutnya, dampak kerusakan ternyata tidak berhenti sampai di situ. Pohon-pohon raksasa yang tumbang itu tidak hanya merusak hunian warga, tetapi juga dengan beringas merobohkan jaringan kabel PLN sehingga memutus aliran listrik. Bahkan, batang-batang pohon besar itu sempat menghalangi badan jalan utama, yang akhirnya mengakibatkan kemacetan dan mengganggu arus lalu lintas di sejumlah titik vital. “Lebih parah lagi,” kata Asep melanjutkan, “angin kencang itu juga berhasil merobohkan tiang listrik, merobek atap bangunan pesantren, dan yang memilukan, dua rumah warga harus mengalami kerusakan total hingga ambruk tak berbentuk.”
Selain itu, bencana ini ternyata menyebar luas tanpa pandang bulu. Mulai dari Kecamatan Cugenang yang pernah luluh lantak akibat gempa, lalu merambat ke Pagelaran, Takokak, hingga ke wilayah Naringgul yang sejuk, termasuk juga di kawasan perkotaan Cianjur sendiri. Menurut Asep, cuaca ekstrem di Cianjur saat ini terjadi hampir merata di seluruh wilayah. Oleh karena itu, ia mendesak masyarakat untuk benar-benar membuka mata dan telinga, serta meningkatkan kepekaan terhadap setiap gejala alam yang terasa tidak biasa.
Berdasarkan imbauan tersebut, Asep secara khusus menyoroti warga yang tinggal di zona merah. Ia mengajak mereka untuk segera meningkatkan level kewaspadaan. “Jika hujan lebat dengan durasi lama mulai turun,” imbaunya tegas, “warga harus segera mengambil inisiatif untuk melakukan evakuasi mandiri. Hindari semua aktivitas di dekat lereng curam atau aliran sungai yang tampak membengkak, karena risiko longsor dan banjir bandang bisa datang tiba-tiba.”
Di sisi lain, situasi kesiapsiagaan saat ini benar-benar dalam status tinggi. Pasalnya, Kabupaten Cianjur masih menyandang status siaga bencana hidrometeorologi, dan status mengerikan ini diprediksi akan bertahan hingga Mei 2026! Langkah antisipasi ekstra ini sengaja diambil untuk menghadapi fase cuaca ekstrem yang diprediksi masih panjang. Berbagai potensi bencana seperti banjir, tanah longsor, hingga puting beliung yang mematikan, harus diwaspadai. “Kenyataannya, hampir seluruh wilayah di Cianjur adalah zona rawan bencana hidrometeorologi,” tambah Asep dengan nada serius. “Oleh sebab itu, berbagai potensi bencana wajib kita antisipasi sejak dini. Tujuannya jelas: mencegah jatuhnya korban jiwa yang tidak perlu.”
Untuk mengatasi semua tantangan di lapangan, BPBD Cianjur tidak tinggal diam. Mereka telah menyiagakan seluruh lini Relawan Tanggap Bencana yang tersebar di setiap desa. Dengan begitu, respons terhadap keadaan darurat diharapkan bisa lebih cepat dan tepat. Selain itu, sejumlah rambu peringatan berwarna mencolok juga telah dipasang di lokasi-lokasi yang dinilai memiliki risiko tinggi terdampak. Jadi, mulai sekarang, perhatikanlah setiap tanda peringatan itu agar kita semua bisa terhindar dari bahaya yang mengintai.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

