PADANG, Desapenari.id – Langit Sumatera Barat kembali berubah suram. Asap pekat menyelimuti sejumlah wilayah, memaksa pemerintah daerah mengambil langkah darurat. Aktivitas sekolah untuk jenjang PAUD, TK, SD, hingga SLB pun terpaksa dialihkan ke sistem pembelajaran jarak jauh, bahkan diliburkan total.
Keputusan mendadak ini diambil sebagai respons cepat terhadap buruknya kualitas udara yang semakin mengkhawatirkan. Kabut asap yang kembali muncul dalam beberapa hari terakhir menjadi pemicu utama kebijakan darurat tersebut. Tiga daerah yang sudah lebih dulu menerapkan belajar dari rumah adalah Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Sijunjung, dan Kota Sawahlunto. Orang tua siswa pun panik dan kebingungan menyikapi situasi ini.
Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, mengungkapkan bahwa titik api sempat terdeteksi di sejumlah lokasi, seperti Dharmasraya dan Tanah Datar. Namun demikian, ia menekankan bahwa pemerintah daerah bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) langsung bergerak cepat untuk menangani situasi tersebut.
“Memang di beberapa titik di Sumatera Barat, kemarin sempat muncul titik api. Ada di Dharmasraya, ada juga di Tanah Datar. Alhamdulillah, pemerintah kabupaten dan kota langsung sigap bersama Forkopimda untuk mengantisipasi agar api segera dipadamkan,” ujar Vasko ketika ditemui dalam acara Musda HKTI di Aula Kantor Gubernur Sumbar, Selasa (1/9/2026).
Lalu, bagaimana sebenarnya kondisi titik api di Sumbar saat ini?
Vasko menjelaskan bahwa pemerintah provinsi terus melakukan mitigasi dan pemantauan secara berkala terhadap potensi munculnya titik api baru. Hingga kini, kondisi di Sumatera Barat masih tergolong terkendali dan belum menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan.
“Kami selalu berupaya semaksimal mungkin menjalankan proses mitigasi. Syukurlah sampai detik ini Sumatera Barat masih mampu mengendalikan titik-titik api tersebut,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengingatkan agar kewaspadaan tetap dijaga karena cuaca ekstrem dan vegetasi yang kering bisa memicu kebakaran kapan saja. Masyarakat pun diminta tidak lengah dan segera melapor jika melihat kepulan asap mencurigakan di sekitar lingkungan mereka.
Apakah kabut asap yang menyelimuti Sumbar murni berasal dari wilayah setempat?
Vasko mengakui bahwa kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sumbar tidak hanya berasal dari titik api lokal. Asap kiriman dari provinsi tetangga turut memperparah kondisi udara di beberapa daerah. Akibatnya, kualitas udara di sejumlah titik mengalami penurunan drastis, meskipun tidak merata di seluruh wilayah Sumatera Barat.
Karena itu, masyarakat yang tinggal di daerah dengan kualitas udara buruk diimbau untuk menggunakan masker sebagai langkah perlindungan diri dari paparan asap berbahaya. Anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan diminta lebih waspada dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
“Yang terpenting, yang paling perlu kita jaga adalah jangan sampai ada titik api yang berkembang menjadi besar di Sumatera Barat,” pungkasnya dengan tegas.
Lantas, bagaimana dampak kebijakan ini terhadap aktivitas sekolah?
Sejumlah pemerintah daerah di Sumbar telah mengambil keputusan berani dengan meliburkan sekolah atau menerapkan sistem belajar dari rumah untuk jenjang pendidikan dasar hingga SLB. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipatif agar kesehatan para peserta didik tidak terdampak langsung oleh paparan asap yang mengancam.
Kebijakan tersebut bersifat situasional dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah. Artinya, tidak semua daerah menerapkan kebijakan yang sama. Pemerintah daerah diberikan keleluasaan untuk menilai tingkat urgensi di wilayahnya masing-masing.
Pemprov Sumbar menegaskan bahwa evaluasi harian akan terus dilakukan untuk memantau perkembangan kualitas udara dan sebaran titik api. Dengan demikian, kebijakan yang diambil bisa lebih responsif dan tepat sasaran.
Terkait dampak kesehatan, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), Vasko menyebut hingga saat ini belum ada laporan kasus yang mengkhawatirkan. Namun, ia mengakui bahwa di beberapa titik, kualitas udara sudah menunjukkan penurunan yang signifikan.
“Kalau laporan ISPA di Sumatera Barat, sejauh ini belum ada yang saya pantau secara khusus. Belum ada laporan yang cukup mengkhawatirkan. Tapi di beberapa titik, di beberapa daerah, kami memang sudah mencatat adanya udara yang kurang baik,” katanya.
Pemprov Sumbar berkomitmen untuk terus memperkuat upaya mitigasi dan koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota. Evaluasi harian dilakukan secara konsisten agar setiap perkembangan di lapangan bisa segera ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat.
Pemerintah daerah juga diberi ruang untuk mengambil keputusan sesuai dengan kondisi lokal masing-masing, terutama terkait kegiatan belajar mengajar dan perlindungan masyarakat. Hal ini penting agar kebijakan yang diambil benar-benar sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.
“Ya kita lihat dulu nanti, kami akan terus melakukan evaluasi. Setiap hari ada komunikasi untuk evaluasi itu,” ujarnya.
Menurut Vasko, pemerintah kabupaten dan kota lebih memahami kondisi riil di wilayahnya masing-masing. Karena itu, kebijakan penanganan dampak kabut asap akan lebih tepat sasaran jika disesuaikan dengan kearifan lokal dan situasi faktual di setiap daerah.
“Pemerintah kabupaten dan kota tentu mereka yang paling memahami kondisi di tingkat kabupaten, di wilayah yang memang terdampak udara buruk. Mereka tahu keadaan konkret di titiknya. Tentu kebijakan-kebijakan itu pun akan kami dukung sepenuhnya,” pungkasnya.
Sementara itu, para orang tua siswa di tiga daerah yang menerapkan kebijakan belajar dari rumah mengaku khawatir dengan kualitas pembelajaran daring. Banyak dari mereka yang mengeluhkan keterbatasan kuota internet dan gawai untuk mendukung anak-anak belajar dari rumah. Namun, mereka juga memahami bahwa kebijakan ini diambil demi keselamatan dan kesehatan putra-putri mereka.
Dinas Pendidikan setempat pun bergerak cepat menyiapkan modul pembelajaran jarak jauh agar proses belajar mengajar tetap berjalan meskipun tidak tatap muka. Guru-guru diarahkan untuk membuat materi yang interaktif dan mudah dipahami oleh siswa di rumah.
Di sisi lain, petugas pemadam kebakaran dan relawan terus bersiaga di titik-titik rawan kebakaran. Mereka melakukan patroli rutin dan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya membuka lahan dengan cara dibakar. Langkah preventif ini dinilai penting untuk mencegah munculnya titik api baru yang bisa memperparah kondisi kabut asap.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran sampah atau lahan di musim kemarau ini. Sanksi tegas akan diberikan kepada siapa pun yang terbukti menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.
Hingga berita ini diturunkan, tiga daerah yang meliburkan sekolah masih menunggu hasil evaluasi selanjutnya. Jika kualitas udara membaik, kegiatan belajar mengajar kemungkinan akan kembali normal dalam waktu dekat. Namun, jika kondisi tetap buruk, kebijakan belajar dari rumah bisa diperpanjang.
Masyarakat pun diminta untuk tetap tenang namun waspada. Informasi resmi hanya boleh diambil dari sumber terpercaya seperti pemerintah daerah dan BPBD. Hindari penyebaran hoaks yang bisa memicu kepanikan di tengah situasi yang sudah tidak menentu ini.
Yang jelas, kabut asap kali ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan menghentikan praktik pembakaran lahan secara sembarangan. Semua pihak harus bergotong royong agar bencana asap tidak terulang lagi di masa mendatang.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

