Desapenari.id – Masyarakat Kabupaten Lamongan mendadak gempar setelah mencuat kabar panas mengenai dugaan aksi kekerasan brutal yang melibatkan seorang oknum prajurit TNI berpangkat Sersan Mayor berinisial MS. Menariknya, korban dari peristiwa yang menghebohkan ini bukanlah warga biasa, melainkan Munir, sosok tokoh masyarakat yang sangat terpandang karena mengemban amanah sebagai Kepala Madrasah Ibtidaiyah di Desa Meluntur, Kecamatan Glagah, sekaligus menjabat pada jajaran pimpinan Wakil Rois Syuriah MWC NU. Meskipun telah menjadi korban tindakan penganiayaan yang cukup serius tersebut, figur pendidik panutan di Jawa Timur ini justru menunjukkan keteguhan mental luar biasa dengan mengaku sama sekali tidak merasakan trauma psikologis sedikit pun pasca-kejadian mencekam itu.
Mendasari keteguhan mental tersebut, Munir secara tegas mengambil sikap pantang mundur dan menyatakan tekad bulatnya untuk terus mengawal berjalannya proses hukum hingga tuntas di meja hijau. Alhasil, perkara dugaan tindak pidana ini langsung bergulir secara resmi dan kini ditangani secara intensif oleh tim penyidik Subdenpom V/2-3 Lamongan demi menegakkan keadilan yang transparan serta obyektif tanpa pandang bulu.
Selain itu, keberanian mental luar biasa yang terpancar dari sosok Munir ternyata berakar kuat dari rekam jejak pengalamannya yang sangat panjang dan penuh gemblengan fisik di masa lalu. Pasalnya, beliau pernah bertahun-tahun mengemban tugas vital sebagai mantan petugas keamanan di Pondok Pesantren Langitan, sehingga berbagai ancaman fisik maupun tekanan krisis di lapangan sudah menjadi makanan sehari-hari yang membentuk karakter tangguh dalam dirinya.
Lantas, saat ditemui para insan pers seusai merampungkan agenda konsolidasi strategi hukum di Kantor PCNU Kabupaten Lamongan pada Senin (19/10/2026), Munir melontarkan pernyataan menohok yang langsung membakar semangat keadilan masyarakat. “Masa trauma? Saya juga mantan keamanan Langitan. Sudah biasa seperti itu, saya enggak ada trauma. Tambah berani dan semangat untuk maju!” serunya dengan nada suara penuh optimisme dan tanpa keraguan sedikit pun.
Soroti Peran Aparat dan Hubungan Kekeluargaan yang Mengejutkan
Di sisi lain, Munir menyuarakan rasa keprihatinan serta kekecewaan yang amat mendalam atas terjadinya insiden penganiayaan di lingkungan lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi zona steril dan aman bagi seluruh anak didik. Padahal, seorang prajurit Babinsa yang bertugas di tengah pemukiman masyarakat memikul tanggung jawab moral serta fungsi konstitusional yang amat sakral untuk senantiasa mengayomi, mengamankan, dan memberikan perlindungan maksimal bagi seluruh warga desa tanpa terkecuali.
Bahkan, dengan nada bicara yang amat prihatin, tokoh ulama ini menyoroti ironi besar yang merusak citra pengayom masyarakat di lapangan. “Babinsa Desa Meluntur yang sebenarnya tugasnya mengayomi, mengamankan kepada masyarakat, malah menyiksa. Ya, lebih-lebih saya sebagai seorang guru Kepala Madrasah Ibtidaiyah, tokoh masyarakat, pengurus MWC NU, pengurus Kesan Pondok Pesantren Langitan,” tutur Munir sembari membeberkan kepedihan atas perlakuan yang menimpanya.
Lebih lanjut, sebuah fakta tak terduga yang cukup mengejutkan publik terkuak ketika Munir membongkar garis kekerabatan antara dirinya dengan oknum TNI terduga pelaku penganiayaan tersebut. Pasalnya, kedua belah pihak ternyata masih terikat hubungan pertalian keluarga jauh yang tersambung melalui jalur silsilah dari pihak sang istri.
Mengenai detail kedekatan garis keturunan tersebut, Munir menyampaikannya secara santai dengan mengutip frasa kekeluargaan yang sangat populer dalam tradisi masyarakat Jawa. “Istri pelaku masih… istilah orang Jawa itu bilang ‘ming telu’ (hubungan keluarga jauh), enggak ketemu darah,” ungkapnya saat menjelaskan posisi silsilah mereka yang sejatinya masih berada dalam satu lingkaran sanak saudara.
Sementara itu, aparat pemerintah desa setempat sebenarnya sempat berinisiatif memprakarsai forum mediasi demi menyelesaikan bentrokan ini melalui jalur damai kekeluargaan. Namun demikian, Munir bersama tim pengacara senior dari Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum (LPBH) NU PCNU Lamongan serta LBH Kesan Langitan secara kompak menolak tawaran damai tersebut dan bersepakat bulat untuk menuntaskan perkara hukum ini sampai ke tingkatan Pengadilan Militer.
Meskipun bertindak sangat tegas dan tidak tergoyahkan dalam mengawal proses peradilan, pimpinan sekolah berjiwa besar ini tetap mempraktikkan ajaran syariat Islam mengenai keluhuran budi pekerti dan keikhlasan memaafkan. Oleh sebab itu, beliau secara pribadi telah membukakan pintu maaf yang tulus bagi sang pelaku, namun memberikan batas tegas bahwasanya mekanisme peradilan militer wajib hukumnya untuk terus berlanjut demi memuluskan keadilan.
Sebagai penutup pertemuan konsolidasi tersebut, Munir kembali menggemakan komitmen penegakan hukumnya yang amat kokoh tanpa bisa digoyahkan oleh bujuk rayu damai apa pun. “Kalau secara pribadi, sebagaimana disampaikan kuasa hukum saya itu, secara pribadi saya memaafkan, tapi untuk hukum tetap berlanjut sampai akhir,” tegas Munir secara lugas sembari mengakhiri pembicaraannya dengan penuh kepastian.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

