PURWOREJO, Desapenari.id – Warga di wilayah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah mendadak gempar setelah jajaran kepolisian setempat bergerak cepat menciduk sebanyak 24 orang pelajar yang disinyalir kuat hendak menggelar aksi tawuran berdarah antar sesama kelompok remaja di jalan raya.
Bahkan, aksi nekat rombongan anak sekolah ini sempat memicu kepanikan luar biasa di tengah masyarakat saat mereka nekad melakukan konvoi motor sembari terang-terangan mengacungkan senjata tajam jenis celurit berukuran panjang di sepanjang Jalan Kemiri-Pituruh, hingga rekaman videonya mendadak viral di berbagai jejaring media sosial.
Menanggapi insiden keributan yang sangat meresahkan warga ini, Kapolres Purworejo, AKBP Erma Rahayu Kusuma Ningrum, segera memberikan penjelasan resminya dan mengonfirmasi bahwa peristiwa mencekam tersebut sebetulnya meletus pada Sabtu (31/10/2026) dini hari yang lalu.
Selanjutnya, tak lama usai video konvoi berbahaya itu mendadak heboh di internet, tim penyidik dari Polres Purworejo langsung berinisiatif menggelar penelusuran mendalam guna melacak nomor pelat kendaraan sekaligus mengidentifikasi wajah para remaja yang terekam jelas dalam durasi video tersebut.
Alhasil, lewat serangkaian langkah investigasi lapangan yang sangat terukur, aparat kepolisian akhirnya sukses mengungkap identitas lengkap para pelaku yang ternyata merupakan deretan murid aktif yang berasal dari sejumlah sekolah jenjang SMP maupun SMK di kawasan Kecamatan Kemiri serta Kutoarjo.
“Berdasarkan data hasil pemeriksaan intensif petugas kami di lapangan, para pelaku aksi yang sangat berisiko ini memang masih tergolong di bawah umur karena mayoritas dari mereka baru menginjak usia sekitar 15 hingga 16 tahun saja,” tegas AKBP Erma Rahayu Kusuma Ningrum secara gamblang pada Jumat (6/11/2026).
Saling Ejek di Medsos
Lebih lanjut lagi, AKBP Erma turut menyingkap akar permasalahan utama di balik terjadinya aksi berbahaya tersebut yang ternyata dipicu oleh persoalan sepele, yakni aksi saling lempar ejekan bernada provokasi antar sesama remaja di platform media sosial.
Ironisnya, perselisihan emosional yang mulanya cuma terjadi di alam maya tersebut lantas memanas hingga melahirkan kesepakatan di antara kelompok anak-anak ini untuk berkumpul bersama demi mencari keberadaan kelompok lawan yang akan menjadi sasaran bentrok mereka.
Sebelum akhirnya memutuskan bergerak menyisir kawasan jalanan di wilayah Kemiri, kelompok gerombolan remaja yang tengah tersulut emosi ini diketahui sempat mengadakan titik kumpul awal di kawasan area Gunung Tugel, Kutoarjo.
Tak butuh waktu lama, seusai berkumpul di titik tersebut, mereka lantas langsung memacu sepeda motor secara beriringan sembari terus menyisir setiap sudut rute perjalanan demi menemukan kelompok remaja lain yang diduga kuat menjadi kubu lawan mereka.
“Bahkan, begitu rombongan konvoi ini mulai merangsek masuk ke area wilayah Kemiri, jajaran petugas kami sebetulnya sudah bersiap melancarkan penghadangan, akan tetapi sebelum rombongan sampai ke kawasan Kerep Kemiri, masyarakat sekitar yang geram justru sudah lebih dahulu membubarkan paksa aksi gerombolan tersebut hingga para remaja langsung kocar-kacir melarikan diri ke berbagai penjuru,” beber Kapolres secara terperinci.
Usai situasi di lokasi kejadian berhasil dikendalikan, jajaran Polres Purworejo bekerja sama dengan Polsek Kemiri langsung bertindak sigap menyisir area sekitar hingga sukses mengamankan sebanyak 24 orang remaja yang berasal dari dua kubu berselisih tersebut.
Selain berhasil menciduk puluhan anak tersebut, aparat kepolisian di lokasi juga menyita barang bukti penting yang diduga berkaitan langsung dengan aksi maut ini, di antaranya berupa dua lembar pakaian jaket jenis jumper, celana panjang, helm berkendara, hingga sebilah senjata tajam jenis celurit tajam yang siap diayunkan.
Tetap Dapat Hak Pendidikan
Meskipun ulah nekat gerombolan remaja ini sudah tergolong sangat membahayakan keselamatan jiwa warga umum, jajaran kepolisian setempat lebih memilih untuk mengedepankan pendekatan bimbingan serta pembinaan secara humanistis ketimbang langsung menjatuhkan sanksi hukum pidana yang berat.
Langkah taktis nan bijaksana ini sengaja diambil oleh aparat kepolisian dengan mempertimbangkan matang-matang kondisi usia para pelaku yang masih sangat belia demi menjaga keberlangsungan masa depan pendidikan yang tengah mereka tempuh saat ini.
“Sebagai langkah nyata perbaikan mental anak, kami sengaja mengundang jajaran orang tua atau wali murid, pihak manajemen sekolah, perangkat desa setempat, serta para tokoh masyarakat di lingkungan rumah anak-anak ini untuk duduk bersama menghadiri agenda rapat pembinaan khusus,” jelas Kapolres terkait skema penanganan hukum yang berkeadilan bagi anak di bawah umur.
Hasilnya, dalam musyawarah bersama tersebut seluruh pihak sepakat bahwa para pelajar yang terlibat ini bagaimanapun juga tetap berhak atas jaminan fasilitas pendidikan dan diizinkan penuh untuk kembali melanjutkan aktivitas belajar mengajar di sekolah mereka masing-masing.
Di samping itu, para siswa yang terlibat aksi kelam tersebut juga telah dengan tulus mengakui kesalahan besar mereka serta secara sadar menyatakan janji bersungguh-sungguh di atas kertas untuk tidak bakal mengulangi perbuatan berbahaya itu lagi di masa mendatang.
Sementara itu, pihak pengelola sekolah juga menyatakan kesiapan penuh mereka untuk makin memperketat sistem pengawasan harian terhadap seluruh anak didik sekaligus rutin memberikan bimbingan karakter secara intensif agar para siswa tersebut tidak kembali terjerumus ke dalam lingkaran aksi tawuran jalanan yang merugikan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

