PINRANG, Desapenari.id – Warga Kelurahan Betteng, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel) mendadak gempar dan dilanda kepanikan luar biasa. Pasalnya, secara tak terduga, rombongan besar berisi sekitar 25 ekor monyet hitam langka dari jenis Macaca maura tiba-tiba menerobos masuk dan menduduki area perkebunan milik penduduk lokal. Kedatangan kawanan satwa liar yang sangat terlindungi ini tentu saja mengejutkan warga sekitar, sebab keberadaan mereka dalam jumlah banyak di dekat pemukiman langsung memicu kekhawatiran meluas akan potensi gangguan keselamatan serta ancaman kerusakan hasil panen warga.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal di lokasi kejadian, kemunculan masif kawanan mamalia endemik Sulawesi ini ternyata bukan tanpa alasan yang jelas. Usut punya usut, fenomena invasi satwa langka tersebut diduga kuat berakar dari musibah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belakangan ini menghanguskan wilayah rimba sekitarnya. Akibatnya, kobaran api melalap habis ekosistem yang selama ini menjadi rumah aman bagi primata tersebut, sehingga mengganggu keseimbangan lingkungan serta menghancurkan tempat tinggal alami mereka secara mendadak.
Menanggapi kehebohan yang menyita perhatian publik tersebut, pihak berwenang langsung bergerak cepat memberikan klarifikasi resmi guna menenangkan warga. Kepala Seksi Perlindungan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sawitto, Andi Suardi, mengonfirmasi bahwasanya rombongan primata tersebut memang terlihat jelas beraktivitas di dalam kebun warga pada hari Senin (19/10/2026) sekitar pukul 17.00 WITA. Pihaknya mengaku langsung menginstruksikan tim patroli untuk memantau pergerakan kawanan satwa liar tersebut tak lama setelah mengantongi laporan berantai dari masyarakat setempat.
“Mula-mula, kami memang menerima laporan mendesak dari warga lokal yang melihat kawanan monyet berjumlah sekitar 25 ekor tiba-tiba muncul di kebun milik masyarakat untuk menyisir serta berburu makanan,” ungkap Andi Suardi saat memberikan keterangan resminya kepada awak media. Ia menambahkan bahwa pergerakan rombongan primata tersebut menunjukkan adanya dorongan bertahan hidup yang sangat mendesak, karena mereka terlihat begitu sibuk mencari apa saja yang bisa dimakan di area pertanian penduduk.
Lebih lanjut, pihak KPH Sawitto menjelaskan bahwasanya gerombolan monyet hitam tersebut terpaksa mengambil keputusan nekat berbondong-bondong keluar dari batas kawasan hutan semata-mata demi menyambung hidup. Pasalnya, bencana kebakaran dahsyat yang menerjang habitat asli mereka telah menghanguskan sumber pasokan pakan alamiah, seperti buah-buahan hutan, dedaunan segar, serta serangga yang selama ini menjadi penopang gizi harian mereka di alam liar.
“Oleh sebab itu, kami sangat meyakini primata-primata ini terdesak berpindah menuju area permukiman masyarakat demi mendapatkan makanan, mengingat api karhutla sudah memusnahkan pepohonan di hutan tempat tinggal mereka,” tutur Andi Suardi secara mendalam. Beliau juga memaparkan bahwa fenomena migrasi darurat ini menjadi bukti nyata betapa dahsyatnya dampak musibah karhutla dalam merusak tatanan rantai makanan dan mengancam kelangsungan hidup flora dan fauna endemik.
Selanjutnya, dalam penjelasannya yang lebih rinci, Andi Suardi menegaskan bahwa spesies yang menyambangi kebun warga tersebut merupakan monyet maura atau yang memiliki nama ilmiah Macaca maura, yakni salah satu jenis primata langka yang sangat dilindungi. Perlu diketahui bersama, keberadaan monyet endemik khas Sulawesi Selatan ini sudah semakin terancam, sehingga kelestariannya mendapat perlindungan ketat dari regulasi pemerintah dan lembaga konservasi internasional.
Oleh karena fakta status konservasinya yang sangat krusial, maka prosedur penanganan penampakan satwa liar di lahan warga wajib mengedepankan kaidah dan protokol keselamatan konservasi secara ketat. Tentu saja, langkah terukur ini bertujuan utama demi menjaga keselamatan jiwa warga sekitar dari potensi serangan, sekaligus memastikan primata terlindungi tersebut tidak mengalami tindakan kekerasan, stres berat, ataupun cedera fisik selama berada di luar kawasan hutan.
Maka dari itu, pihak otoritas lingkungan menyampaikan imbauan yang sangat tegas agar seluruh lapisan masyarakat tidak coba-coba menangkap, melukai, menembak, ataupun mengusik kehadiran kawanan monyet tersebut. Warga diminta untuk tetap tenang dan menyikapi keberadaan primata ini dengan kepala dingin tanpa melakukan aksi menghakimi sendiri yang dapat membahayakan diri sendiri maupun kelestarian satwa langka tersebut.
Fenomena Langka yang Menggegerkan Petugas!
Selanjutnya, Andi Suardi membeberkan sebuah fakta mengejutkan bahwa peristiwa hadirnya rombongan monyet dalam jumlah sebesar ini merupakan fenomena yang sangat langka dan sama sekali tidak biasa. Berdasarkan catatan dan rekam jejak laporan harian yang biasa diterima oleh petugas lapangan KPH Sawitto, pola kemunculan primata ini biasanya tidak pernah melibatkan kelompok sebesar sekarang.
“Pada kondisi normal, monyet-monyet ini biasanya hanya menampakkan diri sesekali di atas dahan pohon tinggi, itu pun jumlahnya sangat sedikit yakni cuma satu sampai dua ekor saja,” jelas Andi Suardi secara terbuka. Namun, pada insiden kali ini, mereka justru bergerak secara serentak dalam bentuk rombongan besar, sebuah pemandangan tidak biasa yang mempertegas betapa daruratnya kondisi krisis pakan yang sedang mereka hadapi di dalam kawasan hutan.
Lantaran situasi ini membutuhkan penanganan yang cepat dan hati-hati, pihak KPH Sawitto meminta dengan sangat agar warga segera melapor kepada petugas lapangan apabila kembali memergoki kawanan monyet tersebut berkeliaran di lahan kebun maupun lingkungan pemukiman. Laporan yang cepat dan akurat dari masyarakat akan menjadi kunci utama bagi petugas dalam mengambil tindakan penanganan yang tepat sasaran.
Di samping itu, seluruh laporan resmi yang masuk dari masyarakat nantinya akan langsung diteruskan dan dikoordinasikan secara berjenjang kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Selatan. Prosedur ini wajib dilaksanakan mengingat Macaca maura menyandang status hukum sebagai satwa dilindungi undang-undang, sehingga kewenangan teknis evakuasi maupun penanganannya berada langsung di bawah pengawasan BKSDA.
“Mula-mula, kami fokus menggiatkan patroli lapangan guna memantau secara langsung di mana titik keberadaan kawanan monyet tersebut, barulah setelah posisinya terpetakan secara pasti, kami melaporkannya secara resmi ke BKSDA untuk tindakan penyelamatan selanjutnya,” imbuh Andi Suardi menjelaskan tahapan penanganan yang sedang berjalan.
Pada akhirnya, pihak KPH Sawitto menaruh harapan besar agar kegiatan pemantauan intensif yang dipadukan dengan koordinasi erat bersama BKSDA mampu memastikan seluruh proses penanganan satwa berjalan lancar sesuai standar konservasi. Di saat yang sama, upaya bersinergi ini diharapkan sanggup mengantisipasi serta mencegah timbulnya potensi gesekan maupun gangguan ancaman keamanan bagi warga yang bermukim di sekitar lokasi kemunculan primata endemik tersebut.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

