ENDE, Desapenari.id – Suasana rapat paripurna DPRD Kabupaten Ende yang seharusnya berlangsung kondusif tiba-tiba berubah menjadi ajang adu fisik. Ketua DPRD Ende, Fransiskus Taso, diduga tega memukul rekannya sesama dewan, Hironimus Irwan Kila Pelo, tepat di tengah pembahasan rancangan perubahan anggaran tahun 2026 pada Selasa (1/9/2026) siang. Insiden memalukan ini langsung menggemparkan publik dan menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan.
Kapolres Ende, AKBP Yudhi Franata, membenarkan kabar mengejutkan tersebut ketika dikonfirmasi awak media. Menurutnya, laporan resmi sudah masuk ke meja penyidik dan proses hukum kini tengah bergulir. “Kami masih mendalami kasus ini lebih lanjut. Saat ini tim masih melengkapi alat bukti, memeriksa saksi-saksi yang berada di lokasi kejadian, dan setelah semua cukup, kami akan segera mengembangkan penyelidikan ke tahap berikutnya,” jelas Yudhi dengan nada serius, Kamis (3/9/2026).
Peristiwa nahas itu pun langsung dilaporkan oleh korban, Hironimus Irwan Kila Pelo, yang menjabat sebagai Ketua Fraksi Hanura, ke Mapolres Ende pada hari yang sama. Rekaman video amatir yang dengan cepat beredar luas di media sosial memperlihatkan momen menegangkan ketika Hironimus yang mengenakan kemeja biru muda berusaha maju, namun langsung dipeluk dan ditahan oleh beberapa aparatur sipil negara (ASN) yang berada di ruangan. Sementara itu, di sisi lain, Fransiskus terlihat memanas dan berulang kali mencoba menerobos untuk mendekati Hironimus, untungnya beberapa peserta rapat sigap menghalanginya sebelum situasi semakin tidak terkendali.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun oleh tim redaksi, pertikaian berdarah ini dipicu oleh perbedaan pandangan yang cukup tajam saat agenda pembahasan aspirasi masyarakat korban gempa bumi dahsyat. Hironimus dengan lantang menyuarakan kekecewaannya terhadap lambatnya penyaluran bantuan bagi warga terdampak gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang masih bertahan di pengungsian. Ia mempertanyakan komitmen pemerintah daerah dan mendesak agar ada langkah konkret, bukan sekadar janji kosong di atas kertas.
Suasana rapat yang awalnya hangat berubah menjadi sangat tegang dan memuncak karena forum tersebut gagal menghasilkan solusi nyata yang bisa meringankan beban para korban. Hironimus terus mendesak jawaban, sementara Fransiskus selaku pimpinan rapat berusaha meredam namun malah tersulut emosi. Keduanya terlibat adu argumen sengit yang kemudian berkembang menjadi saling dorong di antara mereka, dan puncaknya Fransiskus diduga melakukan pemukulan terhadap Hironimus di hadapan para saksi yang sontak terkejut.
Insiden ini tentu mencoreng citra lembaga legislatif dan memicu pertanyaan besar tentang profesionalisme para wakil rakyat di Ende. Warga pun mulai mempertanyakan komitmen dewan dalam mengutamakan kepentingan publik, terutama ketika berhadapan dengan isu kemanusiaan yang sangat kritis seperti penanganan bencana. Di sisi lain, Polres Ende bergerak cepat dengan memeriksa sejumlah saksi mata serta mengamankan rekaman CCTV guna mengungkap fakta-fakta hukum yang terjadi.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Ketua DPRD Fransiskus Taso belum memberikan pernyataan resmi terkait kasus yang menjeratnya. Namun, sejumlah kalangan mendesak agar proses hukum berjalan transparan dan adil, sehingga kepercayaan publik terhadap institusi DPRD dapat kembali pulih. Akankah kasus ini berakhir damai atau justru berlanjut ke meja hijau? Publik Ende menanti kejelasan dan keadilan dalam kasus yang memalukan ini.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

