AMBON, Desapenari.id – Minggu pagi yang dingin di Gunung Kayu Satu nyaris berubah menjadi tragedi mengenaskan. Seorang mahasiswa Universitas Pattimura (Unpatti) bernama Muhammad Syafi’i Al Faruq Dahlan (18) harus dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi menggigil hebat usai terserang hipotermia saat berkemah. Namun, berkat kecepatan tangan dingin tim SAR Gabungan, nyawa pemuda itu akhirnya berhasil diamankan dari ancaman suhu ekstrem.
Peristiwa nahas itu bermula ketika sekelompok tujuh mahasiswa Unpatti memutuskan untuk menaklukkan puncak Gunung Kayu Satu yang berada di Desa Batu Merah, Kota Ambon. Mereka memulai pendakian pada Sabtu (20/6/2026) sekitar pukul 22.40 WIT dengan semangat membara, berniat menghabiskan malam dengan berkemah di alam terbuka. Namun, siapa sangka, petualangan yang seharusnya seru itu berubah menjadi ujian nyawa ketika cuaca di puncak mulai menunjukkan taringnya. Menjelang pagi buta, tepatnya sekitar pukul 05.30 WIT, kondisi Muhammad Syafi’i mendadak memburuk; tubuhnya menggigil tak terkendali karena suhu dingin yang menusuk tulang. Melihat situasi kritis tersebut, rekan-rekannya yang panik namun sigap segera mengangkat ponsel dan menghubungi tim Basarnas Ambon untuk meminta pertolongan darurat.
Kepala Kantor SAR Ambon, Arafah, menjelaskan kronologi mencekam tersebut dengan nada lega. Menurutnya, laporan mengenai kondisi gawat darurat itu pertama kali diterima oleh petugas pada Minggu dini hari sekitar pukul 05.30 WIT dari seorang perempuan bernama Niken Ratih yang merupakan salah satu rekan korban. Setelah mendengar suara panik dari ujung telepon, petugas piket langsung mengaktifkan status siaga dan memobilisasi seluruh personel. “Begitu laporan masuk, kami tidak membuang waktu sedetik pun. Tim SAR langsung kami kerahkan menuju lokasi kejadian,” ujar Arafah kepada wartawan di ruang kerjanya pada Senin (22/6/2026). Dia menambahkan, jarak tempuh dari Kantor SAR Ambon menuju titik bencana terhitung sekitar 18 kilometer, yang berarti tim harus melaju cepat melintasi jalanan Ambon yang masih sepi.
Mobil rescue pun melesat kencang membelah pagi, dan tepat pukul 06.30 WIT, tim SAR yang dipenuhi adrenalin itu sudah berdiri kokoh di kaki Gunung Kayu Satu. Namun, pekerjaan besar belum selesai. Sebelum memulai pendakian ekstrem untuk menjangkau posisi korban yang membeku, tim terlebih dahulu menghentikan langkah sejenak untuk berkoordinasi secara intens dengan warga masyarakat setempat. Langkah strategis ini mereka ambil agar proses pencarian tidak tersesat dan mendapatkan informasi akses jalur tercepat. Para petugas juga memanfaatkan momen itu untuk mengecek perlengkapan medis dan perlengkapan pendakian, memastikan semua peralatan dalam kondisi prima untuk menaklukkan medan yang terjal.
Tak butuh waktu lama bagi para pahlawan bertas merah itu untuk menemukan target. Tepat pada pukul 06.57 WIT, atau hanya berselang 27 menit setelah mereka memulai pendakian, tim akhirnya berhasil menyentuh lokasi keberadaan Muhammad Syafi’i. Saat ditemukan, korban masih dalam kondisi sadar, yang tentunya merupakan kabar baik yang sangat melegakan, namun tubuhnya terus menggigil hebat akibat hipotermia tingkat awal. Segera setelah itu, tim medis yang tergabung dalam rombongan langsung menggelar perlengkapan darurat dan memberikan penanganan medis awal di tengah dinginnya udara gunung. Mereka menyelimuti tubuh korban dengan selimut penghangat, memberikan minuman hangat, dan memantau tanda-tanda vitalnya agar tidak semakin memburuk.
Setelah kondisi korban dirasa cukup stabil untuk dipindahkan, proses evakuasi yang mendebarkan pun segera dimulai. Tim SAR bergotong-royong menggotong tandu melintasi jalur berbatu dan licin demi menyelamatkan nyawa mahasiswa tersebut. Perjalanan menurunkan korban dari ketinggian gunung menuju ambulans yang siaga di bawah pun berlangsung dengan penuh kehati-hatian, mengingat medan yang cukup ekstrem. Akhirnya, dengan selamat, mereka berhasil membawa Muhammad Syafi’i ke Rumah Sakit Siloam Ambon untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut. Di sana, para dokter langsung mengambil alih penanganan untuk memastikan suhu tubuhnya kembali normal dan tidak ada komplikasi serius yang mengintai.
Arafah menambahkan, insiden memilukan ini sejatinya menjadi pelajaran berharga bagi para pencinta alam. Menurutnya, hipotermia tidak bisa dianggap remeh karena menyerang secara diam-diam dan cepat, terutama saat tubuh kelelahan dan tidak memiliki perlindungan hangat yang cukup. “Kami selalu mengingatkan agar pendaki selalu membawa jaket tebal, perlengkapan tidur yang layak, serta makanan berkalori tinggi,” tegas Arafah dengan nada serius. Pria itu juga menyayangkan jika para pendaki pemula kerap mengabaikan faktor cuaca yang bisa berubah drastis di pegunungan Maluku. Oleh karena itu, pihak Basarnas berencana untuk meningkatkan sosialisasi tentang mitigasi bencana alam khususnya bagi komunitas mahasiswa yang kerap menjadikan Gunung Kayu Satu sebagai lokasi camping favorit.
Meski nyaris celaka, keberhasilan evakuasi ini tidak lepas dari kerja sama tim yang solid dan respons cepat dari semua pihak. Para rekan korban pun mengucapkan syukur yang dalam karena tim SAR tiba sebelum kondisi Muhammad Syafi’i bertambah parah. Mereka mengaku tidak akan pernah melupakan malam mencekam di gunung tersebut, dan berjanji akan lebih mempersiapkan diri jika ingin berkemah di lain waktu. Di sisi lain, pihak kampus Unpatti juga bergerak cepat menjenguk korban dan memberikan dukungan moril kepada keluarga yang sempat dilanda was-was. Kabar baiknya, hingga berita ini diturunkan, kondisi Muhammad Syafi’i dilaporkan mulai membaik dan merespon pengobatan dengan positif.
Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya peran Basarnas sebagai garda terdepan dalam menyelamatkan nyawa manusia dari ancaman alam. Mereka tidak hanya mengandalkan peralatan canggih, tetapi juga mengandalkan insting, pengalaman, dan kerjasama dengan masyarakat lokal untuk memecahkan teka-teki medan. Kegigihan tim SAR dalam melawan keterbatasan waktu dan cuaca buruk patut diacungi jempol. Aksi heroik ini pun langsung menjadi buah bibir hangat di kalangan warga Ambon, bahkan banyak yang mendoakan kesembuhan cepat bagi sang mahasiswa. Semoga kejadian ini menjadi alarm bagi kita semua untuk selalu waspada dan tidak memaksakan diri saat kondisi alam sedang tidak bersahabat.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

