BLITAR, Desapenari.id – Seorang remaja berusia 17 tahun berinisial MNN membuat orang tuanya panik setengah mati. Pasalnya, ia berpamitan untuk berangkat ke sekolah dengan alasan mengikuti visitasi Pramuka, namun nyatanya ia justru memilih jalur ekstrem mendaki Gunung Buthak bersama sahabatnya, RWAP (17). Petualangan mereka yang semula tampak seru itu berubah menjadi mimpi buruk ketika keduanya tersesat di jalur pendakian yang terjal via Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, pada Minggu (28/6/2026).
Nasib baik masih berpihak kepada mereka. Setelah menjalani malam yang mencekam di tengah hutan, kedua remaja ini akhirnya berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat oleh tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Blitar pada Senin (29/6/2026). Proses evakuasi yang cukup menegangkan ini pun berakhir dengan suka cita, meski keduanya harus segera mendapatkan perawatan intensif.
“Kedua survivor berhasil kami evakuasi dalam keadaan selamat,” ujar Kepala BPBD Kabupaten Blitar, Wahyudi, dengan nada lega saat ditemui awak media pada Selasa (30/6/2026). Namun, ia mengungkapkan bahwa kondisi salah satu survivor, yakni MNN, sempat dikabarkan sangat lemas dan kelelahan. Oleh karena itu, begitu tiba di basecamp, tim medis langsung sigap membawa kedua remaja tersebut ke Puskesmas Slumbung guna menjalani pemeriksaan serta penanganan medis lebih lanjut.
Lantas, bagaimana kronologi lengkap insiden yang membuat warga Blitar ikut gempar ini? Mari kita bedah satu per satu kejadiannya.
Berawal dari Pamit ke Sekolah yang Berbuah Petaka
Semua bermula pada Minggu pagi yang cerah, tepatnya sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu, MNN dengan tenang berpamitan kepada orang tuanya. Ia berdalih akan berangkat ke sekolah untuk mengikuti kegiatan visitasi Pramuka di SMA Negeri 1 Talun. Tanpa curiga sedikit pun, orang tua MNN pun merestui kepergiannya. Namun, waktu berganti siang, lalu petang, dan jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, MNN belum juga menunjukkan batang hidungnya di rumah. Kecemasan mulai merayap di hati sang ibu.
Dengan perasaan was-was yang semakin menjadi-jadi, ibu MNN lantas mencoba menghubungi sang anak melalui pesan singkat. Namun, deretan pesan yang ia kirimkan hanya berakhir pada tanda centang satu. Tak ada balasan, tak ada kabar. Hingga akhirnya, pukul 18.00 WIB, kepanikan mencapai puncaknya. Ibu MNN yang kalap lantas memutuskan untuk mendatangi rumah teman MNN, yaitu RWAP, untuk mencari informasi terkait keberadaan putranya.
Sesampainya di sana, sebuah fakta mengejutkan terungkap. Dari pengakuan keluarga RWAP, diketahui bahwa kedua remaja tersebut sama sekali tidak berniat pergi ke sekolah atau mengikuti kegiatan Pramuka. Mereka justru berpamitan kepada keluarga RWAP untuk pergi bermain ke Air Terjun Watu Tangis yang terletak di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari. Keduanya nekat pergi berboncengan mengendarai sepeda motor Honda Vario berwarna merah.
Mendengar pengakuan itu, kedua keluarga pun langsung bergerak cepat. Mereka segera menuju kawasan Air Terjun Watu Tangis untuk memastikan kondisi anak-anak mereka. Setibanya di lokasi, mereka mendapati fakta lain yang membuat jantung mereka berdegup lebih kencang. Sepeda motor milik korban ternyata sudah dititipkan di rumah Ketua RT setempat. Ini mengindikasikan bahwa kedua remaja tersebut benar-benar telah memasuki kawasan pendakian atau jalur menuju air terjun.
Tanpa membuang waktu, sekitar pukul 20.00 WIB, keluarga yang dibantu oleh warga sekitar langsung menggelar operasi pencarian mandiri. Mereka melakukan penyisiran di kawasan Air Terjun Watu Tangis dan sekitarnya. Suara teriakan memanggil nama kedua remaja itu bergema di antara pepohonan, namun hanya hening yang menjawab. Hujan deras dan medan yang licin membuat upaya pencarian pada malam itu harus terhenti. Mereka terus berjuang menyisir hingga keesokan harinya, tetapi kedua remaja tersebut belum juga ditemukan. Keputusasaan mulai menyelimuti keluarga.
Dievakuasi Tim BPBD Setelah Berjuang Melawan Gelapnya Malam
Menyadari bahwa upaya mandiri tidak membuahkan hasil, pihak keluarga akhirnya melaporkan kejadian ini kepada aparat desa. Wahyudi menjelaskan, BPBD Blitar baru menerima laporan resmi dari Kepala Desa Krisik pada Senin pagi. Begitu menerima laporan itu, pihaknya pun langsung mengerahkan tim terbaik untuk menuju lokasi kejadian.
“Senin pagi, kami menerima laporan dari Kepala Desa Krisik, dan tanpa menunggu lama, kami segera bergerak menuju lokasi kejadian,” tegas Wahyudi.
Setibanya di lokasi, tim BPBD tidak langsung asal terjun. Mereka terlebih dahulu melaksanakan asesmen atau penilaian situasi serta berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait. Koordinasi ini sangat krusial untuk mengumpulkan informasi awal mengenai survivor dan titik koordinat terakhir yang mungkin diketahui. Tim juga menyusun strategi pencarian yang efektif mengingat jalur pendakian Gunung Buthak yang terkenal cukup menantang dan minim penerangan.
Hingga akhirnya, pada Senin (29/6/2026) sekitar pukul 08.00 WIB, angin segar berhembus bagi tim pencari. Mereka menerima informasi bahwa salah satu survivor, RWAP, akhirnya berhasil dihubungi melalui ponselnya. Dari percakapan singkat itu, tim pun mengetahui secara pasti lokasi keberadaan mereka. Kemudian, tim yang sudah bersiaga langsung bergerak cepat menuju titik koordinat yang diberikan untuk melakukan penjemputan.
Dengan susah payah melewati semak belukar dan tebing terjal, tim akhirnya berhasil menemukan kedua survivor dalam keadaan selamat. Meskipun selamat, kondisi fisik mereka memang sangat memprihatinkan. Mereka tampak kelelahan, kedinginan, dan kekurangan energi setelah menghabiskan waktu lebih dari 24 jam di alam liar.
“Pada pukul 12.30 WIB, tim berhasil mengevakuasi survivor dan membawanya hingga tiba dengan selamat di Basecamp,” pungkas Wahyudi mengakhiri cerita mencekam ini.
Peristiwa ini tentu menjadi pelajaran berharga, tidak hanya bagi kedua remaja tersebut, tetapi juga bagi orang tua dan generasi muda lainnya. Alangkah bijaksananya jika kita selalu mengutamakan kejujuran dan komunikasi yang baik dengan orang tua. Selain itu, merencanakan pendakian dengan persiapan matang dan perlengkapan yang memadai adalah harga mati agar petualangan tidak berakhir seperti drama mencekam ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

