PANGANDARAN, Desapenari.id – Setelah sempat diragukan oleh pihak tertentu, kini kekhawatiran para nelayan Pangandaran terhadap dampak mengerikan dari tumpahan batu bara akhirnya terbukti dengan sangat nyata! Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Pangandaran, Jeje Wiradinata, dengan lantang menyatakan bahwa bencana ekologi yang selama ini mereka khawatirkan benar-benar terjadi setelah laporan kematian massal benur atau bibit lobster serta berbagai biota laut membanjiri kawasan terdampak di perairan Cibenda, Pangandaran, Jawa Barat.
Peristiwa memilukan ini bermula dari kecelakaan kapal yang terjadi pada Selasa (16/6/2026) lalu, di mana sebuah tongkang bermuatan batu bara yang bernama Nautica 22 mengalami karam di Perairan Batukaras. Sejak saat itu, material batu bara diduga mulai menyebar luas di perairan dan secara perlahan namun pasti mengancam kelangsungan hayati ekosistem laut yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian utama warga pesisir.
Bukti Telah Terbuka di Mata Nelayan, Bantahan Dinas Terkait Kini Terbantahkan dengan Fakta Kematian Biota Laut!
Dengan penuh keyakinan, Jeje Wiradinata membeberkan bahwa kematian massal biota laut yang terjadi di kawasan terdampak merupakan bukti kuat yang tak terbantahkan bahwa pencemaran serius telah melanda perairan Pangandaran. Temuan mengerikan ini sekaligus menjadi pukulan telak bagi keraguan yang sebelumnya dilontarkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pangandaran, yang mempertanyakan dasar usulan penutupan sementara kawasan terdampak.
Dengan nada kecewa yang teramat dalam, Jeje mengungkapkan kekecewaannya terhadap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan yang dinilainya kurang tanggap terhadap ancaman serius ini. “Saya kecewa benar sama Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan. Dua tiga hari yang lalu mereka meng-counter pernyataan saya, mempertanyakan apa dasarnya penutupan sementara. Saya bilang dasarnya sudah ada, material batu bara yang tumpah itu mengandung B3 seperti arsenik, merkuri, dan lainnya,” ujar Jeje dengan tegas kepada sejumlah wartawan di Kampung Turis Pamugaran, Rabu (8/7/2026).
Jeje menekankan bahwa kandungan bahan berbahaya dan beracun (B3) dalam batu bara seharusnya menjadi peringatan dini bagi semua pihak, mengingat ancaman serius yang ditimbulkannya terhadap kelangsungan ekosistem laut. Benur atau bibit lobster yang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air jelas akan menjadi korban pertama dari pencemaran ini, dan kini prediksi buruk itu telah menjadi kenyataan yang memilukan. “Sekarang terbukti kan? Omongan saya itu terbukti setelah benar-benar banyak yang mati,” ucapnya dengan nada getir.
Nelayan Bersatu Desak Penutupan Sementara, Langkah Ini Dinilai Krusial untuk Menyelamatkan Ekosistem Laut Pangandaran!
Dalam pertemuan informal yang difasilitasi langsung oleh Bupati Pangandaran, HNSI dengan satu suara menyampaikan tuntutan mendesak kepada pemerintah daerah dan pihak perusahaan yang bertanggung jawab atas muatan tongkang. Penutupan sementara kawasan perairan terdampak menjadi tuntutan utama mereka, karena langkah ini dinilai sangat penting sebagai langkah mitigasi awal untuk menghentikan sementara aktivitas di wilayah tercemar serta mencegah penyebaran dampak yang lebih luas terhadap ekosistem laut, di samping memberikan waktu bagi proses pemulihan lingkungan yang sedang terancam parah.
Menurut Jeje, langkah strategis ini seharusnya sudah diambil sejak awal ketika indikasi pencemaran mulai terlihat, karena penanganan yang cepat dan tepat akan sangat menentukan keberhasilan upaya pemulihan ekosistem yang saat ini sedang berada dalam kondisi kritis akibat pencemaran batu bara yang terus mengancam kelangsungan hayati biota laut di perairan Pangandaran.
Tuntutan Menggema! Nelayan Tak Hanya Minta Penutupan, Kompensasi hingga Pemulihan Kawasan Konservasi Juga Jadi Sorotan!
Bukan hanya penutupan sementara kawasan yang menjadi tuntutan HNSI, namun mereka juga mengajukan berbagai tuntutan lain yang tak kalah penting terkait pemulihan lingkungan dan perlindungan nelayan yang menjadi korban utama dari bencana ekologi ini. Tuntutan tersebut meliputi pemberian kompensasi kepada nelayan yang kehilangan mata pencaharian, tanggung jawab perusahaan dalam membiayai pemulihan kawasan konservasi yang tercemar, serta penanganan serius terhadap dampak pencemaran yang telah terjadi.
Jeje menegaskan dengan sangat jelas bahwa prioritas utama yang harus segera dilakukan saat ini bukanlah pengangkatan bangkai tongkang yang karam, melainkan pembersihan material batu bara yang telah mengendap di dasar laut. Ia menilai material tersebut menjadi sumber utama pencemaran yang terus merusak lingkungan dan mengancam keberlanjutan ekosistem laut Pangandaran.
Dengan nada tegas, Jeje menyampaikan, “Bagi saya, pengangkatan kapal tongkang itu tidak penting, itu urusan nomor sepuluh. Yang paling utama adalah pengangkatan material batu bara di dasar laut karena itu yang meracuni lingkungan.” Pernyataan tegas ini menunjukkan bahwa nelayan memahami betul akar permasalahan yang harus segera diatasi.
Menurutnya, jika material batu bara dibiarkan mengendap di dasar laut tanpa ada upaya pembersihan yang serius, maka dampak pencemaran akan terus berlanjut dan berpotensi merusak ekosistem dalam jangka panjang. Kondisi ini tentu akan sangat merugikan nelayan yang menggantungkan hidupnya pada hasil laut, sekaligus mengancam keberlanjutan sumber daya kelautan Pangandaran yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Nelayan berharap perusahaan bertanggung jawab, dan pemerintah diminta untuk mengambil tindakan nyata demi masa depan laut Pangandaran yang lebih baik.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

