KUPANG, Desapenari.id – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur. Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kelurahan Fatubenao, Kecamatan Kota Atambua, Kabupaten Belu, NTT, yang bernama Ferry Martis Dalaifa (49), harus mengakhiri hidupnya secara tragis di negeri orang. Pria paruh baya itu ditemukan sudah tidak bernyawa dengan kondisi mengenaskan, yakni bersimbah darah akibat luka tembakan di bagian dada. Setelah melalui proses panjang, jasad Ferry akhirnya berhasil dipulangkan ke tanah kelahirannya dan tiba di Bandara El Tari Kupang pada Minggu (12/7/2026) pagi, sebelum akhirnya diterbangkan lagi ke kampung halamannya di Belu untuk dikebumikan secara layak.
Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) NTT, Suratmi Hamida, mengungkapkan bahwa proses pemulangan jenazah ini tidak mudah. Pihaknya bersama kedutaan dan kepolisian Malaysia bekerja keras mengurus administrasi agar jasad Ferry segera bisa dibawa pulang. “Alhamdulillah, akhirnya jenazah almarhum Ferry bisa tiba di Kupang dengan selamat. Kami menerbangkannya dari Malaysia menggunakan maskapai Citilink,” jelas Suratmi di sela-sela proses penerimaan jenazah, Minggu pagi. Pesawat Citilink dengan nomor penerbangan QG602 itu mendarat mulus di Bandara El Tari sekitar pukul 06.00 Wita, disambut dengan suasana haru dan isak tangis dari perwakilan keluarga yang sudah menunggu sejak subuh.
Peristiwa naas ini bermula ketika Ferry dilaporkan hilang oleh rekan-rekannya di perkebunan. Berdasarkan keterangan resmi yang dihimpun dari Polis Diraja Malaysia, korban terakhir kali terlihat pada hari Minggu (5/7/2026) sekitar pukul 16.00 waktu setempat, ketika dia pamit pergi ke kawasan perkebunan kelapa sawit Jaya Masang yang terletak di Sandakan, Sabah, Malaysia. Saat itu, Ferry mengatakan hendak memasang jerat di sekitar area perkebunan tersebut, sebuah rutinitas yang biasa dilakukannya untuk menangkap hewan pengganggu tanaman. Namun, waktu terus berjalan dan malam pun berganti, namun Ferry tak kunjung kembali ke tempat tinggalnya. Kekhawatiran mulai menyelimuti rekan-rekannya karena Ferry dikenal sebagai pekerja yang bertanggung jawab dan tak pernah meninggalkan tugas tanpa kabar.
Menyadari ada yang tidak beres, keesokan harinya, tepatnya pada Senin (6/7/2026) sekitar pukul 09.00 waktu setempat, sejumlah pekerja perkebunan yang juga merupakan rekan satu lokasi kerja Ferry memutuskan untuk melakukan pencarian secara bergerombol. Mereka menyusuri jalur yang biasa dilalui Ferry menuju area pemasangan jerat. Pencarian yang menegangkan itu akhirnya membuahkan hasil yang sangat menyedihkan. Di sebuah area perkebunan yang berbatasan langsung dengan lokasi kerjanya, mereka menemukan tubuh Ferry tergeletak tak bernyawa. Pemandangan itu sontak membuat para pekerja kaget dan histeris, karena terlihat jelas adanya luka tembak di tubuh Ferry. Mereka segera melaporkan penemuan ini kepada pihak kepolisian setempat untuk dilakukan proses investigasi lebih lanjut.
Proses evakuasi pun segera dilaksanakan oleh aparat setempat. Dengan penuh hati-hati, jenazah Ferry dievakuasi dari lokasi kejadian dan dibawa ke Rumah Sakit Kota Kinabatangan. Di rumah sakit itulah, pihak medis dan kepolisian melakukan proses identifikasi serta autopsi untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian Ferry. Hasil otopsi yang keluar beberapa saat kemudian mengejutkan sekaligus memilukan banyak pihak. Dokter forensik menemukan bahwa Ferry meninggal dunia akibat luka tembak yang mengenai organ vitalnya, tepatnya di bagian jantung. Tembakan itu diduga berasal dari senjata api kaliber tertentu yang mengenai korban dari jarak dekat. Temuan ini semakin menguatkan dugaan bahwa ada unsur kekerasan dan tindak pidana dalam kasus kematian Ferry.
Menanggapi hasil autopsi tersebut, Kepala BP3MI NTT, Suratmi Hamida, menyatakan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan kepolisian Malaysia untuk mengusut tuntas kasus ini. “Almarhum bekerja sebagai penjaga kebun di perkebunan sawit itu. Berdasarkan data dan laporan awal yang kami terima dari pihak berwenang Malaysia, korban diduga kuat menjadi korban penembakan. Namun, motifnya masih terus didalami, apakah ini menyangkut perampokan, sengketa lahan, atau salah sasaran,” ujar Suratmi dengan nada prihatin. Pihak BP3MI pun langsung bergerak cepat memastikan hak-hak almarhum terpenuhi, termasuk proses pemulangan jenazah yang menjadi tanggung jawab perusahaan atau asuransi tenaga kerja.
Setelah memastikan semua berkas administrasi lengkap dan izin pemulangan keluar dari kedutaan, pihak rumah sakit di Malaysia pun merilis jenazah Ferry. Tanpa membuang waktu, petugas langsung memberangkatkan jenazah ke Tanah Air menggunakan jalur udara. Sepanjang perjalanan, jenazah ditemani oleh petugas pelindung PMI yang memastikan proses pengiriman berjalan dengan aman dan sesuai protokol. Setibanya di Bandara El Tari Kupang, jenazah langsung disambut oleh tim BP3MI dan perwakilan keluarga besar yang datang dari Belu. Suasana haru langsung menyelimuti ruang kedatangan kargo bandara saat petugas menurunkan peti jenazah. Beberapa anggota keluarga yang hadir tak kuasa menahan tangis melihat sang ayah dan suami tercinta kini telah kembali dalam keadaan yang sangat memilukan.
Setelah proses penerimaan singkat dan doa bersama di Kupang, jenazah Ferry kemudian dibawa menggunakan mobil ambulans untuk menempuh perjalanan darat menuju Kabupaten Belu. Ribuan kilometer telah ditempuhnya dalam keadaan tak bernyawa, namun semangat keluarga untuk menjemput dan menguburkannya di tanah kelahiran tetap membara. Rencananya, setelah tiba di Belu, jenazah akan langsung disemayamkan di rumah duka di Kelurahan Fatubenao sebelum akhirnya dikebumikan di pemakaman keluarga. Prosesi pemakaman direncanakan berlangsung secara khidmat dengan dihadiri oleh seluruh kerabat, tetangga, serta tokoh masyarakat setempat yang turut berduka atas kepergian Ferry.
Kasus kematian tragis ini menyoroti kembali betapa rentannya nasib para Pekerja Migran Indonesia yang bekerja di sektor perkebunan di luar negeri. Meski bekerja dengan gaji yang menjanjikan, risiko keselamatan jiwa seringkali mengintai di balik semak-semak perkebunan yang luas dan terpencil. BP3MI NTT sendiri berjanji akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas dan memastikan keluarga korban mendapatkan hak-haknya, termasuk santunan kematian dari asuransi. “Kami akan mendampingi keluarga hingga proses hukum di Malaysia selesai, dan memastikan para pelaku penembakan ini ditangkap dan diadili,” tegas Suratmi dengan penuh tekad. Saat ini, pihak keluarga hanya bisa pasrah dan mendoakan agar arwah Ferry diterima di sisi-Nya, sementara kepolisian Malaysia terus memburu para pelaku yang tega menghabisi nyawa seorang kepala keluarga yang hanya ingin mencari nafkah untuk anak dan istrinya di kampung halaman.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

