Desapenari.id – Fenomena alam yang akrab disebut warga sebagai “sapon”, kembali menyapu harapan para petani ikan di Danau Ranu Grati, Pasuruan. Awalnya, suasana tenang di Kecamatan Grati itu kini justru berubah menjadi lokasi bencana ekologis mendadak. Bagaimana tidak, peristiwa tahunan ini telah menyebabkan ribuan kilogram ikan mati secara masif hanya dalam hitungan jam. Akibatnya, puluhan petani keramba ikan langsung menelan kerugian mencapai jutaan rupiah, dan pastinya, kepanikan pun tak terhindarkan di tengah masyarakat setempat.
Menyoroti langsung dampak nyatanya, Rusdi (52), seorang petani ikan dari Dusun Bandilan 1, Desa Ranuklindungan, dengan suara lirih menceritakan kepiluan yang menimpanya. Ia mengungkapkan, serangan “sapon” ini selalu datang secara tiba-tiba, tanpa belas kasihan. Selain itu, fenomena alam ini biasanya muncul bersamaan dengan cuaca yang sangat ekstrem. Secara spesifik, angin kencang yang diikuti hujan deras menjadi pertanda buruk bagi kehidupan ikan-ikan di danau tersebut. “Sapon itu biasanya muncul menjelang matahari terbit. Kadang sore, kadang pagi. Dulu seringnya menjelang Imlek atau Tahun Baru, tapi sekarang sudah tidak bisa diprediksi,” jelas Rusdi, pada Rabu (14/1/2026). Ungkapan tersebut jelas menggambarkan betapa ketidakpastian telah menjadi momok harian bagi para petani.
Lebih lanjut, Rusdi memaparkan kerugian konkret yang harus ia tanggung dengan sangat detail. Dari total 24 petak keramba miliknya, enam petak yang berisi ikan nila dan tombro telah ludes total tanpa sisa. Selanjutnya, puncak bencana tersebut mencapai klimaksnya pada Selasa (13/1/2026) sore. “Satu kuintal itu nilainya sekitar Rp 3 juta. Yang kemarin hampir 4 kuintal, total kerugiannya sekitar Rp 7 juta,” tuturnya dengan wajah getir. Singkatnya, angka kerugian yang fantastis itu bukanlah jumlah yang sedikit, terlebih bagi petani ikan dengan modal terbatas.
Di sisi lain, hingga detik ini, penyebab teknis pasti di balik fenomena tahunan ini masih diselimuti misteri. Namun demikian, masyarakat setempat memiliki keyakinan kuat berdasarkan pengalaman turun-temurun. Mereka meyakini bahwa faktor alamlah yang memicu naiknya racun dari dasar danau ke permukaan. “Warga biasanya bilang karena angin kencang dan hujan. Di danau ini juga ada kadar belerang, kalau kena angin (kencang) bisa naik ke permukaan dan ikan keracunan,” jelas Rusdi. Dengan kata lain, angin kencang diduga kuat mengaduk lapisan dasar danau yang mengandung zat berbahaya, sehingga menyebabkan kolam alami itu berubah menjadi racun mematikan bagi penghuninya.
Tak hanya Rusdi yang merasakan pahitnya musibah ini, petani lain bernama Khoirul Anam (40) juga mengalami nasib serupa. Sebanyak 18 petak keramba miliknya yang dipenuhi ikan nila turut menjadi korban amukan “sapon” pada Selasa sore yang kelam. Meskipun fenomena ini merupakan rutinitas tahunan, para petani mengaku sungguh-sungguh kesulitan melakukan langkah antisipasi. Alasan utamanya, waktu kemunculannya semakin tidak bisa diprediksi. Hanya ada satu secercah harapan: ikan patin dianggap sebagai jenis ikan tawar yang masih mampu bertahan dari serangan mematikan ini. Intinya, ketidakpastian ini membuat seluruh upaya pencegahan terasa sia-sia.
Pada akhirnya, kondisi cuaca yang tetap tidak menentu dan angin kencang yang masih sering bertiup terus mengancam. Oleh karena itu, para petani di Danau Ranu Grati kini hidup dalam bayang-bayang kecemasan yang mendalam. Mereka selalu waswas, menanti-nanti gelombang kematian ikan susulan yang bisa datang kapan saja. Sejujurnya, tanpa pemahaman ilmiah yang komprehensif dan sistem peringatan dini yang memadai, fenomena “sapon” akan terus menjadi terror tahunan yang menyedot rezeki dan menghancurkan kehidupan warga. Selanjutnya, dibutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak untuk mengungkap misteri dan mencari solusi atas bencana berulang ini.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

