Desapenari.id – Masyarakat Jawa Timur kini sedang dihebohkan oleh kabar kelam yang sangat mengejutkan mengenai nasib salah satu waduk paling krusial di Malang. Pasalnya, Bendungan Sengguruh yang berlokasi strategis di Kabupaten Malang, Jawa Timur, mendadak mengalami penurunan volume air secara amat drastis akibat ancaman pendangkalan. Selanjutnya, fenomena mengerikan ini terjadi lantaran tumpukan material sedimentasi yang terus mengintai dasar bendungan setiap harinya tanpa henti. Akibatnya, benteng penampung air raksasa ini sekarang berada dalam kondisi yang sangat kritis dan terancam kehilangan fungsi utamanya dalam menopang kehidupan warga.
Padahal, jika kita menengok kembali sejarah panjangnya saat mulai beroperasi secara resmi pada tahun 1989 silam, bendungan megah ini awalnya sanggup menampung hingga 21,5 juta meter kubik air. Namun, fakta mengejutkan justru memperlihatkan bahwa saat ini kapasitas daya tampungnya tersisa sekitar 0,473 juta meter kubik saja secara mengenaskan. Oleh karena itu, penurunan angka penampungan yang amat kontras dan fantastis ini langsung menyengat perhatian para pakar hidrologi serta masyarakat luas yang selama ini menggantungkan hidup pada keberadaan waduk tersebut.
Secara mengejutkan, kenyataan pahit ini mengindikasikan bahwa sekitar 97,7 persen daya tampung ruang Bendungan Sengguruh mendadak sirna tak berbekas akibat invasi endapan material lumpur pekat serta buangan sampah. Malahan, timbunan limbah yang mengeras di dasar waduk tersebut berhasil menggusur hampir seluruh ruang penyimpanan air bersih secara masif dari waktu ke waktu. Alhasil, krisis volume yang teramat dahsyat ini membuat publik terperanjat karena benteng air kebanggaan Malang ini nyaris berubah menjadi daratan lumpur padat yang amat membahayakan kawasan sekitarnya.
Pemicu Utama Waduk Malang Diterjang Invasi Lumpur dan Limbah Hulu
Guna merespons kepanikan publik, Kepala Divisi Jasa Perum Jasa Tirta I, Adibowo Kusumo, segera memberikan analisis keahliannya terkait akar permasalahan teknis benteng air tersebut kepada khalayak ramai. Kemudian, beliau memaparkan bahwasanya fenomena pendangkalan parah di Bendungan Sengguruh ini sejatinya terpicu oleh letak geografis bendungan yang memang tepat berdiri di area muara sungai. Lantaran berada di titik akhir aliran, waduk ini otomatis menjadi wadah penampungan akhir bagi seluruh material buangan yang mengalir deras dari wilayah-wilayah hulu di atasnya.
Sebab itulah, gulungan lumpur pekat serta limbah sisa yang terbawa arus deras dari beragam rutinitas masyarakat di kawasan hulu secara terus-menerus membanjiri area bendungan tanpa henti. Selain limbah domestik dari sektor rumah tangga, endapan dari kikisan tanah perkebunan dan aktivitas pertanian warga turut menyumbang volume sedimen dalam jumlah yang sangat fantastis. Akhirnya, seluruh material organik maupun anorganik tersebut mengendap secara permanen dan menyisakan gunungan lumpur beracun yang mengunci kapasitas dasar waduk hingga titik terendah sepanjang sejarah.
Bahkan, Adibowo Kusumo secara terbuka menegaskan kondisi nyata yang memprihatinkan tersebut saat ditemui langsung oleh awak media di kawasan Malang pada Selasa (6/10/2026). Beliau mengungkapkan bahwa kawasan hulu dihuni oleh Kota Batu serta Kota Malang yang memiliki dinamika sosial sangat tinggi, lengkap dengan persoalan sampah, perkebunan, hingga pertaniannya. Lantas, beliau menunjuk langsung hamparan sedimen sambil menjelaskan bahwa seluruh endapan lumpur dari dua wilayah besar tersebut memang bermuara dan berkumpul secara masif di lokasi Bendungan Sengguruh ini.
Tidak berhenti di situ, petaka pendangkalan ini justru kian diperparah oleh cuaca ekstrem berupa guyuran hujan berintensitas sangat tinggi yang melanda sepanjang tahun 2025 lalu. Dampaknya, limpasan air hujan yang dahsyat menyeret erosi tanah secara besar-besaran sehingga lapisan endapan lumpur di dasar benteng air menjadi berlipat-lipat lebih tebal dari perkiraan semula. Akibat erosi masif tersebut, tumpukan material sedimen makin memadat keras serta menutup ruang sirkulasi air waduk secara ekstrem dan memperburuk daya tampung waduk.
Aksi Emergency Flushing: Misi Pembersihan Raksasa Demi Selamatkan Pasokan Air
Padahal, jika mencermati catatan pemeliharaan berkala dari badan pengelola, pihak Perum Jasa Tirta I sebenarnya baru saja menuntaskan aksi pembersihan besar-besaran atau flushing pada tahun 2023 lalu. Akan tetapi, daya rusak dinamika alam serta tingginya laju sedimen membuat material endapan lumpur tersebut muncul kembali dalam waktu yang sangat singkat dan agresif. Kendati operasi penggelontoran telah dikerahkan secara optimal saat itu, kapasitas penampungan air bendungan nyatanya tetap saja merosot tajam secara berulang dan membawa ancaman baru.
Oleh sebab itu, guna mengantisipasi ancaman laju pendangkalan yang makin menggila serta berpotensi melumpuhkan fungsi vital bendungan, pihak Perum Jasa Tirta I dengan sigap mengambil tindakan darurat. Pengelola tepercaya ini memutuskan langkah taktis berupa pelaksanaan kembali proses flushing alias penggelontoran endapan sedimentasi tebal yang mengendap keras di dasar waduk. Melalui tindakan strategis ini, tim teknis berupaya keras menyedot serta membuang ratusan ribu ton lumpur agar fungsi ekologis dan teknis benteng air ini selamat dari kehancuran total.
Selanjutnya, Adibowo merincikan bahwa agenda penggelontoran sedimen secara raksasa ini diproyeksikan bakal berlangsung secara maraton selama 10 hari penuh hingga tanggal 15 Oktober 2026 mendatang. Di samping itu, pengerjaan teknis berskala besar ini memancang target spektakuler untuk membersihkan sebanyak 700.000 meter kubik material sedimen dari dasar bendungan. Oleh karena itu, pengelola mengerahkan seluruh kekuatan armada mekanis serta rekayasa hidro-teknologi demi mengejar target pembersihan limbah endapan tersebut tepat waktu demi menyelamatkan pasokan air.
Akhirnya, Adibowo menegaskan kembali bahwa pemeliharaan ini merupakan skema penggelontoran lumpur secara terukur dan sangat terkendali agar volume cadangan air waduk kembali pulih pada skala idealnya. Dengan demikian, pengulangan keberhasilan fungsi air ini kelak memberikan dampak luar biasa bagi pemenuhan pasokan irigasi sektor pertanian di wilayah hilir serta menjamin kelancaran Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Maka dari itu, kolaborasi pemeliharaan lingkungan ini diyakini mampu menyokong keberlanjutan pasokan energi dan ketahanan pangan secara merata bagi seluruh masyarakat sekitar.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

