SURABAYA, Desapenari.id – Siapa bilang olahraga cuma soal keringat dan adrenalin? Di Jawa Timur, gelaran event olahraga internasional kini menjelma jadi mesin penggerak ekonomi wisata yang luar biasa ampuh! Berbagai kompetisi bertaraf global yang digelar di sejumlah daerah di Jawa Timur terbukti secara nyata menggenjot pergerakan sektor pariwisata dan membuka keran ekonomi baru bagi masyarakat lokal.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari, mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa selama ini hampir 30 persen dari total wisatawan yang berkunjung ke Jatim memutuskan datang karena tertarik dengan event-event olahraga yang digelar di sana. Temuan ini pun menjadi pemicu semangat bagi pemerintah provinsi untuk terus mengembangkan konsep sport tourism secara masif dan terencana.
Karena itu, Evy menegaskan bahwa sport tourism tidak lagi sekadar wacana, melainkan sudah menjadi gerakan nyata yang terus digalakkan dengan memaksimalkan seluruh potensi unggulan yang dimiliki Jawa Timur. Salah satu bukti nyata kesuksesan strategi ini dapat kita lihat dari gelaran Malang Trail Runners atau yang lebih populer dengan sebutan Mantra yang baru saja berlangsung di Pasuruan pada tanggal 3 hingga 5 Juli kemarin.
Event spektakuler Mantra 116 tersebut berhasil menarik partisipasi luar biasa dari 4.014 pelari yang berasal dari 22 negara berbeda. Bayangkan, para pelari ini datang dari berbagai penjuru dunia, mulai dari benua Eropa yang dingin, benua Afrika yang eksotis, hingga kawasan Asia yang beragam budaya! Kehadiran mereka tentu bukan sekadar angka, melainkan bukti nyata bahwa Jawa Timur mampu menjadi tuan rumah yang kompeten untuk ajang olahraga internasional.
Lebih lanjut, Evy memproyeksikan dengan penuh keyakinan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Jawa Timur akan melonjak drastis hingga mencapai dua kali lipat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Lonjakan optimistis ini, menurutnya, dapat terwujud melalui pematangan konsep eco sport tourism yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan dan kearifan lokal. “Kami yakin jumlah kunjungan pelancong mancanegara akan meningkat sampai dua kali lipat dibanding realisasi tahun sebelumnya melalui pematangan konsep eco sport tourism,” ujar Evy dengan penuh antusias, Selasa (7/7/2026).
Tidak hanya berhenti di situ, Evy juga menyoroti bahwa agenda bergengsi seperti Mantra 116 ini memiliki kontribusi yang sangat signifikan dalam memperkuat posisi Jawa Timur sebagai destinasi wisata unggulan di tingkat nasional. Event ini secara efektif mempromosikan keindahan alam dan kekayaan budaya Jatim ke mata dunia, sekaligus membuktikan bahwa provinsi ini layak bersaing dengan destinasi wisata ternama lainnya di Indonesia.
Efek domino dari lonjakan jumlah pelancong asing yang menginap di sekitar kawasan Pasuruan ini pun langsung terasa pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah atau PAD. Para wisatawan yang datang dari 21 negara berbeda tersebut otomatis membanjiri sektor perhotelan, restoran, hingga pusat kuliner lokal, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan daerah dari sektor pajak hiburan dan kuliner secara signifikan.
Hal menarik lainnya diungkapkan oleh Evy bahwa sinergi yang kuat antara pemerintah daerah dan pihak swasta telah berhasil menciptakan ekosistem perniagaan baru yang inovatif. Ekosistem ini tidak sekadar berbasis pada transaksi komersial semata, melainkan juga dibangun di atas fondasi kearifan lokal masyarakat adat yang dijaga dan dilestarikan. “Sinergi yang kuat antara pemerintah dan pihak swasta berhasil menciptakan ekosistem perniagaan baru yang berbasis pada kearifan lokal masyarakat adat,” jelasnya.
Pemanfaatan Tahura untuk Sport Tourism
Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jatim, Jumadi, turut memberikan angin segar bagi pengembangan sport tourism di wilayahnya. Beliau memastikan bahwa izin pemanfaatan kawasan Taman Hutan Raya atau Tahura Raden Soerjo kini dapat digunakan secara optimal untuk menunjang berbagai kegiatan sport tourism. Langkah ini membuka peluang besar bagi penyelenggaraan event-event olahraga di kawasan konservasi yang selama ini mungkin terbatas aksesnya.
“Dan kesekian kali ini, saya minta kemarin Mantra juga kampanye terkait dengan pengawetan, kemudian pengayaan kawasan konservasi itu menjadi penting,” tegas Jumadi saat ditemui di kesempatan terpisah. Pernyataan ini menegaskan bahwa event olahraga tidak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, tetapi juga menjadi media efektif untuk mengkampanyekan isu-isu pelestarian lingkungan.
Menurut Jumadi, pemerintah daerah kini tengah menyusun strategi ambisius untuk memperluas rute-rute lari yang ada agar dapat melewati ratusan jaringan desa wisata yang tersebar di wilayah kaki gunung. Strategi perluasan ini diyakini akan membawa dampak ekonomi yang lebih merata, sehingga pendapatan dari sektor pariwisata tidak hanya terkonsentrasi di daerah perkotaan saja. “Strategi perluasan ini diyakini mampu meratakan distribusi pendapatan ekonomi agar tidak hanya berpusat di area perkotaan saja,” ujarnya.
Lebih jauh lagi, Jumadi menyebut bahwa kesuksesan promosi cagar biosfer internasional UNESCO memberikan dampak positif yang luar biasa terhadap iklim investasi pariwisata di Jawa Timur. Dengan pengakuan bergengsi ini, provinsi tersebut diproyeksikan akan semakin cerah dan kompetitif dalam menarik minat investor di sektor pariwisata. “Melalui kesuksesan promosi cagar biosfer internasional UNESCO, iklim investasi pariwisata di Jawa Timur diproyeksikan akan semakin cerah dan kompetitif,” pungkasnya.
Dengan semua langkah strategis ini, Jawa Timur jelas tidak ingin sekadar menjadi tuan rumah bagi event olahraga biasa. Lebih dari itu, provinsi ini ingin membuktikan bahwa sport tourism adalah kunci emas untuk membuka pintu kesejahteraan ekonomi sekaligus melestarikan alam dan budaya lokal yang adiluhung. Saatnya Jatim bersinar di pentas pariwisata dunia!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

