BONDOWOSO, Desapenari.id – Kabar lega menyelimuti dunia pendakian tanah air. Tiga orang yang dilaporkan hilang kontak dan tersesat di kawasan Gunung Krincing, yang merupakan bagian dari gugusan Pegunungan Argopuro di Desa Wonosari, Kecamatan Grujugan, Bondowoso, Jawa Timur, akhirnya berhasil ditemukan dalam kondisi selamat dan sehat pada Rabu (19/8/2026) malam. Betapa tidak, proses pencarian dan evakuasi yang berlangsung dramatis ini melibatkan tim SAR gabungan yang bertaruh nyawa melawan gelapnya malam dan medan terjal hingga larut dini hari. Tim gabungan pun baru berhasil mengevakuasi ketiga pendaki turun dari lokasi pada sekitar pukul 23.50 WIB, sebuah momen yang disambut haru oleh keluarga dan petugas di posko.
Siapakah sosok pendaki yang sempat terjebak dalam situasi genting ini? Mereka adalah Steven Juventino (20), seorang pemuda asal Kecamatan Magelang Selatan, Kabupaten Magelang; Esa Yuan Bintang Aidil (22), putra daerah Desa Lumutan, Kecamatan Botolinggo, Bondowoso; serta I Gusti Ngurahrai Adi Saputra (22), pendaki asal Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Sebelum tim berhasil menjangkau titik keberadaan mereka, memang beredar informasi simpang siur yang menyebutkan bahwa para pendaki ini berasal dari Bali dan Solo. Namun, setelah tim gabungan melakukan penyisiran intensif dan akhirnya menemukan para survivor, identitas mereka pun terkonfirmasi dengan jelas dan gamblang.
Peristiwa mencekam ini sejatinya berawal dari sebuah petualangan yang kurang perhitungan. Awal ceritanya, rombongan yang terdiri dari empat orang nekat melakukan pendakian ke Gunung Krincing sejak dua hari sebelum kejadian. Namun, di tengah perjalanan, satu pendaki asal Kecamatan Grujugan, Bondowoso, terpaksa mengambil keputusan besar untuk memutar balik dan turun lebih dulu. Mengapa? Karena pendaki tersebut mengalami cedera yang cukup mengkhawatirkan sehingga tidak mampu melanjutkan perjalanan. Tiga pendaki lainnya memilih untuk tetap melanjutkan misi mereka dan bertahan di atas puncak. Akan tetapi, siapa sangka, keputusan untuk tetap naik ini justru membawa mereka ke dalam masalah besar. Ketiga survivor ini perlahan-lahan mulai dihantam krisis yang mengancam nyawa, yaitu kehabisan bekal logistik makanan dan minuman, serta kehabisan sarana penerangan untuk bertahan di tengah rimba yang gelap gulita.
Sadar bahwa kondisi mereka semakin kritis dan tidak mungkin bertahan lama tanpa bantuan, para pendaki pun segera menghubungi rekannya yang telah lebih dulu turun. Mereka meminta pertolongan darurat dengan sisa baterai ponsel yang hampir habis. Rekan mereka di bawah pun langsung meneruskan informasi penting ini ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bondowoso dan kepolisian setempat. Informasi ini sontak membuat aparat bergerak cepat. Bahkan, Kapolres Bondowoso, AKBP Aryo Dwi Wibowo, tidak tinggal diam. Beliau turun langsung ke lapangan dan secara pribadi memimpin proses pencarian serta evakuasi terhadap para pendaki yang tersesat tersebut. Beliau menyatakan bahwa upaya pencarian ini harus dilakukan secepat mungkin, mengingat kondisi para pendaki yang dikabarkan sudah sangat kelelahan dan kehabisan logistik. “Hari ini kita melakukan upaya pencarian terhadap ketiga pendaki yang berada di Gunung Krincing. Pengakuan para survivor memang kehabisan logistik, namun mereka dipastikan masih dapat bertahan hidup. Kami terus mengupayakan agar tim bisa segera mencapai titik tersebut secepatnya,” ujar Aryo dengan nada penuh wewenang saat proses pencarian masih berlangsung pada Rabu (19/8/2026).
Proses pencarian ini tentu bukan pekerjaan mudah. Tim gabungan yang diterjunkan terdiri dari jajaran Polri, TNI, BPBD, para relawan SAR yang tangguh, serta warga lokal yang paham betul medan bergelombang dan licin di kawasan tersebut. Mereka bekerja bahu-membahu melakukan penyisiran di tengah medan yang terjal dan ekstrem. Setelah berjam-jam melakukan pencarian yang melelahkan dan menghadapi berbagai hambatan alam, tim SAR gabungan akhirnya berhasil menjangkau titik keberadaan para pendaki. Mereka segera memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi mereka menuruni gunung menjelang tengah malam. Kapolres Bondowoso AKBP Aryo Dwi Wibowo mengonfirmasi bahwa proses evakuasi ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Kenapa? Karena rute yang dilalui memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi, sehingga tim harus ekstra hati-hati dan penyisiran pun dilakukan hingga larut malam.
Begitu tiba di bawah dengan selamat, ketiga pendaki tersebut langsung digotong dan dilarikan ke Puskesmas Grujugan. Mereka segera mendapatkan penanganan medis dan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada luka serius yang mengancam jiwa. “Alhamdulillah, mereka semua sehat. Satu orang memang mengalami luka lecet di bagian tubuh, tapi tidak ada masalah serius, insya Allah,” kata Aryo dengan nada lega saat dikonfirmasi di lokasi evakuasi pada Kamis (20/8/2026) dini hari. Pemeriksaan di puskesmas pun mengonfirmasi kondisi mereka yang relatif stabil hanya dengan kelelahan dan dehidrasi ringan.
Lebih lanjut, Kapolres Aryo mengungkapkan temuan penting dari kepolisian. Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, Gunung Krincing ternyata bukanlah jalur pendakian formal atau resmi yang dikelola oleh pihak terkait. Rombongan pendaki tersebut diketahui melintasi jalur ilegal yang sebenarnya tidak semestinya digunakan untuk kegiatan pendakian umum karena rawan akan bahaya. Pihak kepolisian pun memastikan bahwa setelah pemeriksaan dari Puskesmas rampung, mereka akan segera dipulangkan dan diserahkan kepada pihak keluarga masing-masing untuk menjalani masa pemulihan.
Menyikapi kejadian yang hampir berubah menjadi tragedi ini, Kapolres Bondowoso memberikan imbauan tegas kepada masyarakat luas. Khususnya kepada para pecinta alam dan masyarakat yang hendak melakukan aktivitas pendakian gunung, beliau mengingatkan agar selalu melakukan persiapan secara matang dan tidak meremehkan alam. “Kami sangat mengimbau masyarakat agar mempersiapkan segala kebutuhan dengan matang. Mulai dari sarana-prasarana hingga logistik harus dihitung dengan cermat. Dan yang terpenting, kalau bisa, sampaikan rencana pendakian kalian kepada orang terdekat dan pilihlah rute-rute yang memang sudah lazim serta resmi digunakan oleh para pendaki,” pungkas Aryo dengan tegas mengakhiri konferensi pers di tengah malam itu.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

