PEKANBARU, Desapenari.id – Setelah dua pekan lebih meneror dan membuat nyaris separuh warga Kota Tembilahan ketakutan, satu ekor monyet liar yang diduga kuat menjadi biang kerok penyerangan terhadap 16 warga di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, akhirnya berhasil dilumpuhkan oleh tim gabungan tanpa perlawanan berarti. Peristiwa dramatis penangkapan ini terjadi pada Kamis (6/8/2026) siang, mengakhiri masa-masa mencekam yang menyelimuti kawasan Parit 14, Jalan Tampomas.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Inhil, Junaidi Ismail, dengan nada lega mengonfirmasi kabar bahagia tersebut melalui sambungan pesan singkatnya pada Kamis sore. Menurutnya, kera nakal yang selama ini menjadi momok itu akhirnya terperangkap dalam kandang jebakan yang dipasang petugas pada pagi buta. “Kami memasang perangkap itu persis pada pukul 08.00 WIB di pinggiran Parit 14. Barulah pada pukul 14.30 WIB, si monyet masuk ke dalam jebakan. Tim kami langsung mengamankannya tanpa kesulitan berarti,” ungkap Junaidi dengan penuh semangat.
Proses penangkapan ini sama sekali bukan operasi tunggal, melainkan sebuah gerakan besar yang melibatkan seluruh elemen. Tim gabungan yang solid, terdiri dari personel DPKP yang tangguh, aparat TNI yang sigap, jajaran Polri yang waspada, serta para ahli dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, bahu-membahu mengerahkan seluruh kemampuan mereka. Masyarakat setempat pun turut ambil bagian dalam upaya ini, menunjukkan betapa gentingnya situasi yang mereka hadapi selama beberapa waktu terakhir.
Segera setelah monyet ekor panjang berbadan besar itu berhasil diamankan, langkah cepat langsung diambil. Petugas BBKSDA Riau dengan sigap membawa primata tersebut ke Pekanbaru untuk menjalani serangkaian proses identifikasi mendalam. Mereka tidak mau ambil pusing dan langsung bertindak profesional. “Saat ini, tim kami sedang bekerja keras mengidentifikasi dan memeriksa secara detail apakah monyet yang kami tangkap ini benar-benar pelaku tunggal yang meresahkan warga selama ini,” jelas Junaidi menirukan keterangan resmi BBKSDA.
Namun, meskipun pelaku utama telah tertangkap, Junaidi tetap mengingatkan seluruh warga Tembilahan untuk tidak cepat berpuas diri. Ia menyampaikan imbauan dengan nada serius agar masyarakat tetap mempertahankan kewaspadaan tinggi. “Kami menekankan kepada semua warga agar tetap waspada dan berhati-hati. Tim kami belum bisa mengambil kesimpulan final apakah ini satu-satunya monyet yang menjadi dalang di balik serangan bertubi-tubi itu. Keamanan tetap menjadi prioritas utama,” pintanya dengan tegas.
Kisah mencekam ini bermula ketika monyet-monyet liar mulai memasuki pemukiman padat penduduk dan secara brutal menyerang siapa saja yang mereka temui. Aksi teror itu sudah berlangsung sejak 25 Juli 2026, dan dalam kurun waktu kurang dari dua minggu, dampaknya sungguh mengerikan. Data teranyar yang dihimpun DPKP Inhil hingga Selasa (4/8/2026) mencatat angka yang memprihatinkan, yaitu sudah 16 orang warga yang menjadi korban keganasan hewan tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak kecil yang polos, para remaja, orang dewasa produktif, hingga kakek-nenek lanjut usia yang rentan.
Jenis luka yang diderita para korban pun bervariasi dan tergolong serius. Gigitan tajam dan cakaran kuku monyet yang kuat meninggalkan bekas luka menganga di sekujur tubuh mereka. Lokasi luka tersebar di berbagai bagian, ada yang di paha, betis, hingga lengan tangan yang digunakan untuk melindungi diri, serta punggung yang menjadi sasaran saat mereka mencoba melarikan diri. Kejadian ini jelas membuat trauma mendalam bagi seluruh warga, dan karena itulah tim gabungan bergerak cepat melakukan pengejaran sejak awal kemunculan monyet tersebut.
Dengan tertangkapnya satu ekor monyet ini, setidaknya ada secercah harapan bagi warga Tembilahan untuk bisa beraktivitas normal kembali tanpa rasa takut. Operasi penangkapan yang melibatkan berbagai instansi ini membuktikan bahwa kolaborasi yang baik mampu menangani situasi darurat semacam ini. Kini, seluruh mata tertuju pada hasil identifikasi BBKSDA Riau yang akan menentukan apakah ancaman ini benar-benar telah usai atau masih ada bahaya lain yang mengintai di balik semak-semak. Warga tetap diimbau untuk melapor jika masih melihat aktivitas mencurigakan dari hewan liar di sekitar permukiman mereka.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

