Jakarta desapenari.id – Seorang Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memperingatkan bahwa pasar keuangan Indonesia masih diliputi oleh suasana hati-hati. Menurutnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah berpotensi mengalami tekanan berkelanjutan jika ketegangan dari aksi demonstrasi di Jakarta masih berlanjut.
“Hari ini, pasar jelas sedang berhati-hati akibat adanya tekanan dari demo. Terlebih lagi, kekhawatiran akan berlanjutnya aksi ini hingga hari ini dan mengingat sebelumnya juga terjadi pada Senin (25/8), membuat IHSG terlihat agak ‘loyo’,” jelas Fikri melalui sambungan telepon dengan desapenari di Jakarta, Jumat.

Selanjutnya, Fikri memproyeksikan level IHSG akan bergerak di kisaran 7.800-7.820 pada penutupan perdagangan Jumat (29/8) ini. Sementara itu, untuk Rupiah, ia berharap mata uang nasional tidak melemah lebih dalam dari level Rp16.520 per dolar Amerika Serikat (AS).
Meskipun sebenarnya, fundamental nilai tukar Rupiah tidak terlalu tertekan oleh pelemahan indeks dolar AS, sentimen domestik dari aksi unjuk rasa memaksa investor menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya. Alhasil, kondisi ini menciptakan tekanan tersendiri yang patut diwaspadai.

Sejak pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, nilai Rupiah secara nyata melemah dari posisi Rp16.271 pada penutupan perdagangan Rabu (20/8) menjadi Rp16.339 pada Jumat (29/8) pagi.
Fikri mencatat, pelemahan ini terutama dipicu oleh keputusan BI yang memangkas BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps). Kebijakan ini kemudian menekan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), yang pada akhirnya mendorong dana asing untuk keluar dari pasar obligasi Indonesia.
kunjungi juga laman berita terkini di Exposenews.id
Sementara itu, IHSG sempat hampir mencicipi level psikologis 8.000 pada 20 Agustus lalu. Pencapaian itu didorong oleh optimisme dari penurunan suku bunga acuan dan prospek pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan.
Akan tetapi, sentimen demonstrasi memutus laju indeks dan justru membuatnya terkoreksi. Di sisi lain, Rupiah malah melemah sejak tanggal tersebut akibat arus keluar dari pasar obligasi, sehingga tekanannya terasa jauh lebih dominan.
Tidak hanya itu, faktor fundamental turut memperburuk tekanan. Defisit transaksi berjalan yang melebar dan defisit neraca pembayaran menjadi sinyal kuat adanya aliran keluar dana dari Indonesia. Kombinasi semua kondisi inilah yang kemudian membuat pasar bergerak dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan.
Sebagai informasi, pada penutupan perdagangan sesi I, Jumat (29/8), di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG tercatat anjlok tajam sebesar 180,80 poin atau 2,27 persen ke posisi 7.771,28.
Sementara itu, Rupiah pada pembukaan perdagangan Jumat di Jakarta secara resmi melemah sebesar 1 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.354 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.353 per dolar AS.