TEHERAN, Desapenari.id – Fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Bushehr kembali menjadi sasaran empuk serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (4/4/2026) lalu. Wah, ini sudah keempat kalinya, lho!
Serangan brutal ini merenggut nyawa seorang petugas keamanan yang bertugas melindungi kompleks nuklir tersebut. Tak hanya itu, Rusia pun terpaksa bertindak cepat dengan mengevakuasi 198 karyawan Rosatom dari lokasi berbahaya. Kacau banget, kan?
Sejarah Panjang PLTN Bushehr yang Penuh Drama
Pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr ternyata bukan fasilitas sembarangan. Fasilitas ini berdiri sebagai satu-satunya instalasi nuklir sipil operasional di Iran yang dibangun dengan bantuan Rusia. Secara resmi, Rusia menyerahkan pengelolaannya kepada Iran pada September 2013. Namun, insiden mengerikan pada Sabtu lalu hanyalah episode terbaru dari sekian banyak gejolak yang menghantui PLTN ini sejak awal pembangunannya.
Kisah Ambisius Sejak Zaman Shah yang Mulai dari Nol
Coba kita mundur ke belakang. Dikutip dari AFP, proyek ambisius pembangunan PLTN Bushehr pertama kali digulirkan pada tahun 1975, tepatnya saat rezim Shah masih berkuasa. Awalnya, Siemens dari Jerman yang memegang kontrak proyek megah ini. Sayangnya, Revolusi Islam tahun 1979 mengguncang Iran, disusul Perang Iran-Irak yang berlangsung sengit dari 1980 hingga 1988. Akibatnya, pengerjaan proyek pun terhenti total.
Meskipun Iran terkenal sebagai produsen minyak dan gas bumi kelas kakap, mereka tetap berupaya menghidupkan kembali proyek ini pada akhir 1980-an. Tujuannya jelas: mereka ingin mendiversifikasi sumber daya energi sekaligus mengurangi ketergantungan yang berlebihan pada bahan bakar fosil untuk kebutuhan dalam negeri. Namun, pemerintah Jerman memberi tekanan berat kepada Siemens untuk mundur dari proyek tersebut. Alasannya? Kekhawatiran serius tentang potensi proliferasi nuklir yang bisa disalahgunakan Iran.
Rusia Masuk, Penundaan 11 Tahun Mengikuti
Karena Jerman mundur, Teheran pun beralih haluan ke Rusia. Moskwa resmi mengambil alih kontrak pada Januari 1995. Targetnya muluk-muluk: mereka berencana mengoperasikan reaktor air bertekanan berkekuatan 1.000 megawatt pada tahun 1999. Namun, serangkaian masalah teknis dan non-teknis menyebabkan penundaan yang sangat lama, mencapai 11 tahun! Bayangkan, hampir satu dekade lebih lambat dari jadwal awal.
Rusia dan Iran juga sempat terlibat perselisihan keuangan yang cukup panas terkait biaya pembangunan. Perkiraan kasar menunjukkan, total biaya proyek ini melambung hingga lebih dari satu miliar dolar AS. Wah, duit segitu bisa buat bikin berapa proyek ya?
Tekanan AS yang Tak Pernah Padam
Selama bertahun-tahun, Amerika Serikat tak pernah berhenti berupaya menjegal penyelesaian proyek ini. Kekhawatiran Washington terus membara: mereka cemas fasilitas tersebut akan menjadi alat bagi Iran untuk mengembangkan senjata nuklir mematikan. Menariknya, Moskwa justru berhasil memperoleh izin untuk menyelesaikan Bushehr. Rusia kemudian membuat kesepakatan strategis dengan Teheran. Isi perjanjiannya mencakup pasokan bahan bakar nuklir untuk pembangkit listrik tersebut. Setelah digunakan, Iran harus mengembalikan bahan bakar bekas itu ke Rusia. Tujuannya? Untuk mengurangi risiko penyalahgunaan sekecil mungkin.
PLTN Sipil Tapi Tetap Bikin Curiga
Nah, ini bagian yang menarik. Berbeda dengan fasilitas pengayaan uranium di Natanz yang super kontroversial, PLTN Bushehr sejatinya masuk kategori penggunaan sipil murni. Artinya, secara teori, fasilitas ini tidak dirancang untuk tujuan militer. Meskipun begitu, negara-negara Barat tetap memelihara kecurigaan tingkat tinggi terhadap Bushehr. Apalagi, Iran dilaporkan telah mencapai tingkat pengayaan uranium hingga 60 persen. Angka ini jauh melampaui kebutuhan sipil biasa yang hanya sekitar 3-5 persen. Wah, wajar saja kalau mereka khawatir, ya?
Proliferasi Bukan Isu Utama untuk Bushehr
Uniknya, tidak seperti fasilitas pengayaan uranium Natanz atau pembangkit listrik tenaga nuklir air berat Arak yang masih dalam tahap pengembangan, fasilitas Bushehr tidak dianggap sebagai risiko proliferasi yang signifikan. Selama bertahun-tahun, negara-negara Barat memang gencar menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir. Namun, Teheran dengan tegas membantah semua tuduhan tersebut. Mereka bahkan berulang kali menuding atau mencurigai Israel sebagai dalang di balik serangkaian sabotase terhadap beberapa fasilitas pengayaan uranium milik Iran. Teheran terus membela haknya untuk memiliki program nuklir sipil, meskipun level pengayaan 60 persen mereka jelas jauh melebihi apa yang diperlukan untuk keperluan damai.
Ancaman Nyata yang Menghantui Negara Teluk
Sekarang, mari kita lihat peta. Terletak di pesisir Teluk yang strategis, PLTN Bushehr ternyata lebih dekat ke ibu kota negara-negara Arab seperti Kota Kuwait dan Doha, dibandingkan ke Teheran yang berjarak lebih dari 750 kilometer atau 470 mil. Bisa dibilang, ancaman radiasi dari Bushehr itu seperti bom waktu yang menggantung di atas kepala tetangga-tetangga Iran.
Negara-negara tetangga di kawasan Teluk Arab sering melontarkan kekhawatiran mereka tentang keandalan pembangkit listrik tersebut. Bukan tanpa alasan, mereka juga ketakutan akan kemungkinan kebocoran radioaktif yang mengerikan jika suatu saat terjadi gempa bumi besar. Bayangkan, pada April 2021 lalu, wilayah Bushehr diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,8. Meskipun pihak berwenang Iran mengklaim tidak ada kerusakan pada fasilitas tersebut, rasa was-was tetap membayangi. Apalagi kali ini serangan militer yang menghantam langsung PLTN tersebut. Mampukah Iran mencegah bencana radiasi skala besar? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

