CIANJUR, Desapenari.id – Musim kemarau tahun ini benar-benar menjadi mimpi buruk bagi warga Kabupaten Cianjur. Bukan hanya keringnya sumur yang membuat mereka pusing, tapi juga keringnya isi dompet karena harus merogoh kocek ratusan ribu rupiah setiap bulan hanya untuk membeli air bersih! Bahkan, kondisi yang semakin memprihatinkan ini memaksa seorang warga nekat angkat kaki dari rumahnya demi menyelamatkan keluarganya dari krisis air yang tak kunjung usai.
Menguras Dompet Demi Tetesan Air: Kisah Taufik yang Harus Bayar Rp800.000 per Bulan
Taufik Winata (53), seorang warga Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, harus merelakan uangnya mengalir deras seperti air—atau lebih tepatnya, demi mendapatkan air itu sendiri. Selama dua bulan terakhir, ia mengaku menghabiskan biaya fantastis mencapai Rp800.000 untuk membeli air bersih! Jumlah itu digelontorkannya semata-mata untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK), dan memasak bagi keluarganya yang sangat mendesak.
Setiap dua hingga tiga hari sekali, Taufik terpaksa mengeluarkan uang Rp50.000 hingga Rp60.000 dari sakunya hanya untuk mendapatkan sekitar 30 galon air bersih. Prosesnya pun tidak mudah! Air itu harus diambil dari mata air terdekat yang jaraknya cukup jauh, dan Taufik harus mengupah warga lain untuk mengangkutnya ke rumah menggunakan kendaraan seadanya. Dengan kata lain, ia tidak hanya membayar airnya, tetapi juga biaya transportasi dan tenaga pengangkut yang semakin membebani keuangannya.
Ketika ditemui di kediamannya, Minggu (19/7/2026), Taufik mengeluhkan kondisi yang semakin tidak bersahabat. “Mau tidak mau, saya harus tetap membeli air. Kalau tidak, saya sekeluarga tidak bisa mandi dan tidak bisa memasak sama sekali karena bak mandi di rumah sudah kosong melompong,” ujarnya dengan nada frustasi. Ia bahkan menggambarkan betapa menyedihkannya ketika harus memilih antara membeli kebutuhan pokok atau membeli air yang merupakan kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan sehari-hari.
Krisis Air Memuncak: Taufik Nekat Pindah Rumah Demi Bertahan Hidup
Karena besarnya biaya yang terus menerus membengkak dan musim kemarau yang diprediksi masih akan berlangsung lama, Taufik akhirnya mengambil keputusan yang cukup ekstrem. Ia memilih untuk sementara waktu pindah ke daerah Cisalak Hilir yang memiliki sumber air jauh lebih melimpah dan mudah diakses. Sungguh ironis, seorang kepala keluarga harus meninggalkan rumahnya sendiri karena tidak mampu lagi bersaing dengan kerasnya musim kemarau di kampung halamannya!
“Sekarang saya dan sekeluarga terpaksa pindah ke daerah Cisalak Hilir karena di belakang rumah saudara saya di sana terdapat sumber mata air yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kekeringan yang menyiksa ini,” jelas Taufik dengan nada lega namun tetap menyimpan kekhawatiran.
Menurut penuturan Taufik, wilayah tempat tinggalnya yang selalu menjadi langganan kesulitan air bersih setiap musim kemarau memang sudah seperti siklus tahunan yang tidak pernah berubah. Jika hujan tidak turun hanya dalam dua hingga tiga hari saja, debit air sumur mulai menyusut secara drastis hingga akhirnya benar-benar mengering dan meninggalkan dasar sumur yang kering kerontang.
Dengan nada putus asa, Taufik menambahkan, “Setiap kemarau panjang, daerah ini memang selalu berteriak meminta air. Sungainya mengalir deras di bawah, sementara permukiman kami berada di atas bukit. Jadi, ketika kami ingin membuat sumur bor, kedalamannya harus sangat dalam dan biayanya tentu sangat besar, bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah yang tidak kami miliki!” Katanya sambil menggelengkan kepala.
Warga Mulai Berburu dan Berebut Sumber Mata Air
Kepala Desa Cimanggu, Kecamatan Cibeber, M. Rohman Budiman, mengungkapkan bahwa wilayahnya sudah hampir sebulan tidak diguyur hujan sama sekali. Kondisi yang semakin mengkhawatirkan ini menyebabkan sejumlah warganya mulai mengalami kesulitan ekstrem dalam mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Di beberapa dusun terpencil, warga terpaksa turun ke sungai dan memanfaatkan air sungai yang keruh untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Mereka harus berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh sambil membawa ember dan jeriken demi mendapatkan air yang meskipun tidak layak konsumsi, setidaknya cukup untuk membersihkan diri.
Akan tetapi, Rohman menyampaikan bahwa pasokan air bersih di beberapa dusun lainnya masih relatif aman karena beruntung mendapatkan suplai langsung dari mata air di perbukitan melalui jaringan pipanisasi sederhana yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. “Seperti di Kampung Cibinong, warga di sana masih dapat menikmati pasokan air bersih dari mata air Leuweung Hideung yang debitnya cukup stabil,” jelas Rohman dengan sedikit optimisme.
Rohman memprediksi krisis air bersih akan semakin meluas dan menjalar ke seluruh wilayah dalam sepekan ke depan jika hujan belum juga turun membasahi bumi Cianjur. Prediksi itu ia dasarkan pada kondisi yang terjadi pada musim kemarau tahun sebelumnya, di mana kekeringan mencapai puncaknya dan menyebabkan ribuan warga harus mengantri untuk mendapatkan jatah air bersih.
“Biasanya, ketika kekeringan semakin parah dan tak tertahankan, warga akan berbondong-bondong menggali tanah atau lahan sawah yang sudah mengering untuk membuat cerukan atau lubang resapan. Kami juga akan segera mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih ke pemerintah daerah agar warga tidak semakin menderita,” pungkas Rohman dengan nada serius.
BPBD Sudah Memetakan 14 Kecamatan Rawan Krisis Air!
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur telah mengeluarkan peringatan bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus. Kondisi ini berpotensi memicu kekeringan hebat dan krisis air bersih di sejumlah wilayah yang selama ini sudah rentan.
Berdasarkan hasil pemetaan yang dilakukan, BPBD telah mengidentifikasi sedikitnya 14 kecamatan yang masuk dalam zona merah rawan krisis air bersih. Beberapa di antaranya yang paling parah adalah Kecamatan Ciranjang, Cibeber, Sukaluyu, Gekbrong, Campakamulya, Kadupandak, Agrabinta, serta sebagian wilayah Kecamatan Cugenang yang selama ini mengandalkan air hujan sebagai sumber utama.
Pemerintah daerah pun bersiap untuk menyalurkan bantuan air bersih apabila kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak terus meningkat drastis selama musim kemarau panjang yang masih berlangsung. Bantuan akan didistribusikan menggunakan truk tangki ke titik-titik lokasi yang paling membutuhkan, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau dan tidak memiliki sumber air alternatif.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

