YOGYAKARTA, Desapenari.id – Suasana Malioboro yang biasanya dipadati turis dan pengunjung mendadak berubah menjadi ajang bagi-bagi ayam gratis pada Senin (10/8/2026) kemarin. Pemandangan tidak biasa ini langsung menarik perhatian puluhan warga yang sedang melintas di kawasan ikonik Yogyakarta tersebut. Rupanya, aksi sosial unik ini digagas oleh para peternak ayam petelur di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sedang dilanda keprihatinan akibat harga telur yang terus merosot. Mereka dengan sengaja membagikan 1.200 ekor ayam petelur kepada masyarakat sebagai bentuk simbolis agar keluhan mereka didengar oleh banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga konsumen.
Sambil membagikan ayam, rombongan peternak yang dipimpin langsung oleh perwakilan mereka, Andry Patra, juga menyempatkan diri untuk melakukan audiensi penting dengan anggota DPRD DIY. Mereka tidak hanya datang dengan tangan hampa, tetapi juga membawa serta ayam-ayam tersebut untuk diberikan secara langsung kepada Sekretariat Dewan (Setwan) DPRD DIY dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya yang ada di gedung wakil rakyat itu. Kedatangan mereka bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan sebuah upaya terstruktur untuk menyampaikan tuntutan mendesak yang saat ini membelenggu keberlangsungan usaha mereka di sektor perunggasan.
Saat ditemui di halaman DPRD DIY, Andry Patra dengan lugas mengungkapkan bahwa rombongannya sengaja datang membawa sejumlah tuntutan penting kepada pemerintah daerah. Tuntutan pertama yang paling krusial adalah meminta kepastian harga pakan yang lebih terjangkau bagi para peternak. Menurutnya, biaya produksi yang membengkak menjadi momok utama karena harga pakan yang tidak stabil dan cenderung terus melonjak, sementara di sisi lain harga jual telur malah berada di titik terendah. Hal ini jelas sangat kontras dan membuat mereka terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan dasar ternak mereka.
Tidak hanya berhenti di situ, Andry Patra menyoroti kondisi memprihatinkan di mana harga telur saat ini sudah anjlok di bawah angka Rp 20.000 per kilogram. Kondisi ini jelas sangat tidak sehat dan membuat para peternak gulung tikar secara perlahan. Oleh karena itu, tuntutan kedua yang mereka bawa adalah mendesak adanya penyesuaian harga telur agar sesuai dengan biaya pokok produksi yang dikeluarkan. “Bayangkan, biaya pakan setiap minggu naik, tapi pendapatan dari telur malah turun. Ini yang membuat kami seperti berjalan di tempat,” tegasnya dengan nada penuh harap.
Lebih jauh lagi, para peternak ini juga menuntut adanya perbaikan tata niaga bahan baku yang dinilai selama ini tidak adil dan sarat dengan permainan harga. Mereka menyoroti praktik distribusi bahan baku yang seringkali membuat peternak kecil berada di posisi paling lemah dan tidak memiliki daya tawar. Andry memaparkan bahwa harga bahan baku yang diberikan oleh pabrik saat ini berada di angka yang cukup tinggi dan terus mengalami kenaikan setiap minggu tanpa ada tanda-tanda penurunan. “Ini seperti lingkaran setan, harga pakan naik terus, sementara penghasilan kami menyusut,” keluhnya.
Lebih lanjut, tuntutan keempat yang mereka soroti adalah menjamin ketersediaan stok jagung yang merupakan komponen utama dalam pakan ternak. Para peternak berharap pemerintah dapat bertindak tegas untuk memastikan harga jagung di pasaran tidak melewati batas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditentukan oleh pemerintah pusat. Mereka menganggap bahwa kepastian harga jagung adalah kunci untuk mengendalikan biaya produksi agar tidak semakin membebani peternak. Tanpa adanya kepastian ini, mereka khawatir usaha peternakan ayam petelur di DIY akan semakin terpuruk dan tidak mampu bertahan dalam jangka panjang.
Selain keluhan material, tuntutan kelima yang tak kalah pentingnya adalah meminta penguatan kelembagaan serta perhatian serius dari pemerintah terhadap sektor peternakan. Mereka menginginkan adanya payung hukum dan kebijakan yang lebih protektif sehingga nasib peternak lokal tidak terus terabaikan di tengah gempuran kebijakan impor dan fluktuasi harga yang tidak terkendali. Andry menambahkan bahwa peternakan bukan sekadar bisnis, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan daerah, sehingga sudah semestinya mendapat prioritas dan perlindungan dari berbagai macam kebijakan yang merugikan.
Ingin Warga Tahu Peternak Sedang Bersedih
Di tengah hiruk-pikuk pembagian ayam, Andry Patra mengungkapkan alasan filosofis di balik aksi sosial yang dilakukan oleh para peternak tersebut. Ia menjelaskan bahwa kondisi jumlah ayam petelur di pasaran saat ini dianggap terlalu tinggi dan tidak sebanding dengan permintaan. Lonjakan populasi ayam ini terjadi akibat tingginya angka impor Grand Parent (GP) atau indukan ayam, yang akhirnya membuat pasokan telur melimpah ruah dan meruntuhkan harga di tingkat peternak. Karena tidak mungkin menampung lebih banyak ayam yang justru akan menambah beban biaya pakan, mereka pun memilih untuk membagikan ayam tersebut sebagai solusi darurat.
Lebih dari sekadar pemberian materi, Andry menegaskan bahwa aksi ini adalah simbolisasi agar masyarakat luas bisa turut merasakan dan memahami keprihatinan yang sedang dialami oleh para peternak. Mereka ingin publik tahu bahwa di balik sepiring telur dadar yang nikmat, ada petani yang sedang menangis karena kerugian yang terus menggunung. “Kami membagikan ayam supaya masyarakat tahu bahwa hari ini peternak sedang mengeluh, sedang bersedih, dan mengalami kerugian yang cukup besar,” ujarnya dengan nada haru. Aksi bagi-bagi ini bukanlah pertanda kemakmuran, melainkan isyarat darurat dari sektor peternakan.
Dalam wawancaranya, Andry menyebut angka 1.200 ekor hanyalah bentuk simbolis belaka dan tidak sebanding dengan skala kerugian yang mereka alami secara kolektif. Jumlah tersebut dipilih sebagai representasi dari sekian banyak peternak yang saat ini sedang terpuruk. Ia berharap, melalui simbolisasi ini, pemerintah dan masyarakat tidak hanya menikmati ayam gratis, tetapi juga tergugah untuk mencari solusi bersama atas masalah struktural yang terjadi. “Ini cuma bentuk simbolis saja, 1.200 ekor itu tidak ada artinya sebenarnya jika dibandingkan dengan penderitaan kami,” tambahnya.
Alasan pemilihan kawasan Malioboro sebagai lokasi pembagian ayam pun sangat kental dengan unsur strategis dan politis. Andry menyatakan bahwa Malioboro dipilih karena merupakan pusat perhatian bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus menjadi barometer aktivitas masyarakat Yogyakarta. Dengan memilih tempat yang sangat publik ini, pesan keprihatinan para peternak diharapkan dapat menyebar lebih luas dan cepat, tidak hanya di kalangan pemerintah tetapi juga turis dan masyarakat umum. “Ini adalah titik kumpul yang menjadi pusat perhatian orang. Selain itu, di sini juga ada gedung perwakilan rakyat, jadi kami sepakat untuk berkumpul di sini,” jelasnya.
Sementara itu, antusiasme warga yang menerima ayam sangat terlihat, salah satunya adalah Ngatmi, seorang warga yang kebetulan sedang melintas saat aksi berlangsung. Ia mengaku mendapatkan informasi mengenai adanya pembagian ayam ini dari tetangga dan warga sekitar yang lebih dulu tahu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menuju lokasi dan berhasil membawa pulang seekor ayam petelur. “Peternaknya mungkin sudah tidak sanggup lagi memelihara ayam-ayam ini. Ya kan, mereka merasa rugi, apalagi kalau beli pakan saja harganya sudah mahal sekali,” tutur Ngatmi dengan polosnya.
Pernyataan Ngatmi ini secara tidak langsung menegaskan betapa runcingnya permasalahan yang dihadapi oleh para peternak di Yogyakarta. Masyarakat awam pun mulai bisa menangkap sinyal bahwa kondisi ekonomi di sektor hulu peternakan sedang tidak baik-baik saja. Aksi bagi-bagi ayam di Malioboro pun akhirnya tidak hanya menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial, tetapi juga membuka mata banyak pihak akan pentingnya kebijakan yang berpihak pada petani dan peternak lokal. Momentum ini menjadi pengingat bahwa rantai pasok pangan harus dijaga dari hulu hingga hilir.
Di tengah semua kekisruhan ini, para peternak berharap agar audiensi mereka dengan DPRD DIY tidak berakhir sia-sia. Mereka berharap ada tindak lanjut konkret berupa regulasi yang mampu menstabilkan harga pakan dan telur di pasaran. Tanpa campur tangan yang serius, mereka khawatir bukan hanya peternak yang gulung tikar, tetapi pasokan telur di DIY juga akan terganggu di masa mendatang. Akankah demonstrasi gaya baru ini mampu mengubah nasib peternak? Kita nantikan gebrakan selanjutnya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

