Desapenari.id – Baru-baru ini, sebuah penemuan spektakuler telah menggegerkan warga Boyolali. Tepatnya di Desa Nepen, Kecamatan Teras, tiba-tiba muncul benda kuno yang diduga kuat sebagai Cagar Budaya. Karena itu, Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah langsung bergerak cepat dan meninjau lokasi tersebut pada Jumat (29/5/2026). Pastinya, masyarakat setempat masih heboh membicarakan temuan yang dinilai luar biasa ini.
Selama proses peninjauan, tim dari BPCB Jateng berhasil memetakan empat titik lokasi berbeda yang menyimpan jejak sejarah. Pertama, di pekarangan milik warga bernama Sopan Prasetyo, tim langsung tercengang setelah menemukan struktur prasada dan stupa yang masih kokoh. Selanjutnya, tidak jauh dari lokasi pertama, para arkeolog mendapati lagi sebuah prasada di kebun pekarangan warga. Yang lebih mengejutkan, di pemakaman umum setempat, kembali teronggok sebuah stupa utuh. Sebagai pelengkap, di lokasi objek wisata air setempat, mereka juga menjumpai batuan candi yang tersebar.
Ketika diwawancarai di lokasi, Pamong Budaya Ahli Muda BPCB Jawa Tengah, Wardiyah, langsung menegaskan bahwa semua temuan di keempat titik tersebut saling berkaitan erat. Berdasarkan analisis sementara, ia memastikan bahwa benda yang ada di pekarangan Sopan itu bukan sembarang batu. “Obyek yang dilaporkan itu bisa kami nyatakan memang adalah stupa,” ujar Wardiyah dengan penuh keyakinan pada Jumat (29/5/2026). Dengan tegas, ia mengonfirmasi bahwa benda tersebut dulu digunakan sebagai sarana peribadatan.
Lebih lanjut, Wardiyah mengupas tuntas bagian-bagian stupa yang masih tersisa. Menurut pengamatannya, sebuah stupa utuh memiliki komponen lengkap seperti prasada di bagian bawah, kemudian andah, harmika, hingga yasthi di puncak. Sayangnya, dari temuan di Boyolali ini, tim hanya menemukan beberapa fragmen. Namun, berkat informasi dari pelapor, mereka yakin bahwa semua potongan itu adalah satu kesatuan utuh. “Jarak antarbagian hanya sekitar 50 sentimeter, jadi jelas ini dulu bersatu,” tambahnya.
Meskipun penemuan ini sangat menggembirakan, Wardiyah mengakui masih ada kendala teknis di lapangan. “Kami belum menemukan posisinya lebih stabil,” imbuhnya jujur. Akibatnya, tim perlu melakukan kajian lebih lanjut untuk memastikan formasi asli stupa tersebut. Walau begitu, optimisme tidak luntur karena bukti-bukti di permukaan sudah sangat kuat.
Yang paling menarik, Wardiyah mengungkapkan bahwa di sekitar Desa Nepen ini bukan hanya satu atau dua stupa yang berserakan. “Kalau melihat dari ornamennya, di sekitar desa ini kami sudah menemukan lima obyek yang sama, yaitu stupa,” ungkapnya. Kemudian, ia merincikan bahwa meski beberapa hanya berbentuk prasada bundar di bagian bawah, tim berhasil mencatat dua stupa yang masih utuh sampai bagian harmika. “Yang ditemukan yang terakhir sama yang dekat sungai makam tadi kondisinya paling lengkap,” tandas Wardiyah.
Lantas, dari zaman apakah peninggalan ini? Wardiyah memberikan jawaban yang menohok. “Berdasarkan kemungkinan daerah sini, kita bisa perkirakan periode klasik Hindu-Buddha,” jelasnya. Dengan latar belakang itu, ia memastikan bahwa temuan ini jelas berkaitan dengan agama Buddha. Oleh karena itu, tidak heran jika bentuk stupa yang ditemukan sangat khas dengan masa kerajaan-kerajaan besar di Nusantara, seperti Mataram Kuno atau Singhasari. Penemuan ini secara tidak langsung menulis ulang peta sejarah Boyolali sebagai kawasan penting di masa lampau.
Siapa sangka, stupa setinggi 1,25 meter dengan diameter 1,30 meter itu ditemukan secara tidak sengaja. Sopan, warga Desa Nepen sekaligus penemu benda bersejarah tersebut, menceritakan kronologi mengejutkan itu. Awalnya, pada Kamis (14/5/2026), ia hanya ingin membuka akses jalan untuk pembuatan kandang sapi. Namun, ketika cangkulnya menggali tanah, ia merasa menyentuh benda keras dan padat. Setelah dibersihkan, betapa kagetnya ia melihat bentuk stupa kuno yang megah. Tanpa membuang waktu, ia langsung melaporkan temuannya kepada pihak berwenang.
Saat ini, seluruh temuan masih dalam proses pendataan intensif oleh BPCB Jawa Tengah. Diharapkan, ke depannya akan dilakukan penelitian stratigrafi untuk mengetahui usia pasti stupa-stupa tersebut. Sebagai masyarakat yang baik, kita wajib menjaga dan tidak merusak situs-situs semacam ini. Karena bagaimanapun, penemuan di Boyolali ini bukan hanya sekadar berita viral, melainkan jendela masa lalu yang membuktikan bahwa peradaban luhur Hindu-Buddha pernah berkembang subur di tanah Jawa.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

