JAKARTA, Desapenari.id – Seorang bocah polos berusia 6 tahun, MWP, yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak di Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, kini harus terbaring tak sadarkan diri usai menjadi korban perundungan brutal oleh dua remaja laki-laki. Pelaku yang masih di bawah umur itu berinisial R (18) dan L (14). Peristiwa mengerikan ini terjadi pada Minggu (7/6/2026) malam.
Lokasi kejadian persisnya di Taman Kramat Pulo, Kecamatan Senen. Tanpa diduga, aksi biadab itu terekam jelas oleh kamera CCTV di sekitar taman. Rekaman tersebut kemudian menyebar bak api di media sosial pada Rabu (10/6/2026). Dalam video yang beredar, terlihat R dan L dengan tega menggotong tubuh mungil MWP lalu menempelkannya ke tiang listrik beraliran tegangan tinggi. Akibatnya, bocah malang itu langsung ambruk dan tak sadarkan diri.
Air Mata Ibu: Anakku Ngomong ‘Mama, Aku Habis Digebuk’
Ibu MWP, Vira (26), masih belum bisa menahan sesak di dadanya saat menceritakan penderitaan anak semata wayangnya. Setelah insiden tragis itu, kata Vira, MWP harus menjalani perawatan intensif selama empat hari penuh di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Cikini. Barulah pada hari Senin (8/6/2026), sesaat setelah MWP sadar dari komanya, bibir mungilnya melontarkan kalimat yang menghancurkan hati sang ibu.
“Pas dia sadar, langsung dia ngomong gini, ‘Mama, aku kemarin habis digebuk sama teman-teman’,” ujar Vira dengan suara bergetar saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026). Vira sontak kaget dan langsung menggali lebih dalam alasan anaknya dikeroyok.
Vira kemudian menirukan polosnya ucapan MWP, “Soalnya aku enggak dikasih uang sama Mama. Kan aku kalau main ke lapangan harus minta uang dulu.” Mendengar itu, jantung Vira serasa copot. Ternyata, uang jajan menjadi biang keladi kekerasan yang dialami anaknya.
Dengan sabar, Vira kembali bertanya mengapa teman-temannya tega melakukan kekerasan hanya karena masalah uang. MWP pun menjelaskan aturan tak tertulis yang dibuat oleh R dan L. Jika ia tidak membawa setoran uang, kedua remaja tersebut ogah menemaninya bermain.
Vira membenarkan bahwa uang yang dimaksud adalah semacam iuran wajib yang harus MWP setorkan setiap kali bermain. Vira pun bertanya lebih jauh, apakah hanya MWP korban pungli ini. “Anak saya bilang, ada juga seorang anak perempuan lain yang ikut dimintai uang,” ungkap Vira.
“Saya tanya lagi, ‘Itu uangnya buat apa, Dek?’. Jawaban anak saya bikin saya merinding. Katanya, uang itu dipakai pelaku buat jajan-jajan,” sambung Vira menirukan polosnya MWP.
Saksi Mata: Bocah Itu Diseret Kayak Sampah!
Saksi mata di lokasi kejadian membenarkan semua kesaksian Vira. Menurut penuturan sang ibu, peristiwa penyeretan dan penempelan anaknya ke tiang listrik itu terjadi sekitar pukul 19.30 WIB. Sebelum berangkat, MWP memang sempat merengek minta uang untuk membeli jajan. Vira yang saat itu sedang sibuk beres-beres rumah dan menyetrika seragam sekolah anaknya pun memberinya uang.
Namun, waktu terus berjalan dan MWP tak kunjung pulang. Meski sedikit cemas, Vira belum sempat mencari karena masih disibukkan dengan pekerjaan rumah. “Pas itu saya baru keluar dari kamar mandi, tiba-tiba ada informasi dari teman anak saya. Katanya, ‘Wildan pingsan Bu, pingsan!’. Begitu saya cek ke bawah, anak saya sudah tergeletak lemas di lapangan, enggak sadar diri,” kenang Vira.
Dengan langkah gontai, Vira berjalan menuju taman. Di situlah ia menyaksikan pemandangan menyayat hati. Anaknya diseret kasar oleh beberapa anak lain dan disiram air. “Saya tanya sama temannya, kenapa begitu? Jawabannya, ‘Dia habis dipalak, diminta uang sama temannya Bu. Terus pas udah dikasih uang, eh pelakunya malah kabur’,” jelas Vira menirukan keterangan saksi.
Korban dan Pelaku Sering Main Bareng?
Vira mengungkapkan fakta mengejutkan lainnya. MWP yang masih duduk di bangku TK ternyata sudah akrab dengan kedua pelaku yang masing-masing duduk di bangku SMP dan SMA. Mereka sering bermain bersama di Taman Kramat Pulo. Namun, kedekatan itu justru dimanfaatkan untuk berbuat jahat.
“Ya sering main bareng, Cuma saya enggak habis pikir, kok anak SMA bisa melakukan kriminal ke anak di bawah umur gitu,” tutur Vira dengan nada kesal. Ia juga mengungkap bahwa dua pekan sebelum kejadian, MWP sudah pernah diganggu oleh L. Saat itu, L menyembunyikan sandal MWP di atas pohon sebagai bentuk iseng yang keji.
Lebih parahnya lagi, Vira pernah mendengar langsung saat L menghina kondisi anaknya yang didiagnosis Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Pelaku dengan tega menyebut MWP dengan kata-kata seperti idiot, autis, dan anak stres. Saat Vira hendak menegur, para pelaku langsung kabur seperti setan.
Vira mengakui, anaknya memang sudah didiagnosis ADHD sejak usia 4 tahun. Memang, MWP kadang usil dengan teman sekolahnya, tapi tidak sampai merundung atau menyakiti. “Kalau di sekolah sih dia masih suka usil, suka jail, nangisin temannya juga, cuma ya enggak separah itu. Tapi semenjak pindah ke sini, dia terus-terusan diusili anak-anak lain,” lanjut Vira.
4 Hari Dirawat di ICU, Suhu Tembus 40 Derajat!
Akibat perundungan sadis itu, kondisi MWP sangat memprihatinkan. Vira mengatakan, setelah ditempel di tiang listrik, anaknya langsung kejang-kejang dan tak sadarkan diri. Vira langsung membawa MWP ke RS Kramat 128, namun rumah sakit itu tidak bisa menangani karena BPJS Kesehatan MWP terdaftar di Menteng.
“Langsung saya bawa lari ke RSCM jam delapan malam. Saya bawa ambulans. Di perjalanan, napas anak saya sudah enggak ada,” jelas Vira dengan mata berkaca-kaca. “Masih kritis. Dikasih alat oksigen pun enggak bisa. Dokter akhirnya kasih obat dalam dan langsung masukin ke ruang ICU. Baru dia sadar hari Senin,” lanjutnya.
MWP dirawat di RSCM selama empat hari penuh, dari Minggu hingga Rabu, dan tidak pernah dipindahkan dari ruang ICU. Selain itu, bocah malang itu mengalami benjolan besar di bagian belakang kepala yang sempat mengeluarkan darah. Menurut saksi dan pengakuan MWP, kepalanya memang sempat dibenturkan keras ke tiang listrik.
“Enggak, Ma. Soalnya Wildan sempat ke tiang listrik juga kepalanya,” ungkap Vira menirukan anaknya. Setelah pulang dari RSCM pada Rabu sore, keadaan MWP malah memburuk. Suhu tubuhnya naik hingga 40 derajat Celcius pada Kamis kemarin. Vira dan suami pun kembali membawa anaknya ke Puskesmas Menteng.
“Masih sakit. Tadi panas 40 derajat. Bibirnya hampir biru, kakinya juga biru. Kita bawa ke Puskesmas,” jelas Vira. Selain fisik yang tersiksa, mental MWP juga hancur. Anak itu masih sering menangis karena trauma. Ia ketakutan saat bertemu orang asing. “Masih rewel dan ketakutan. Kata dokter, minggu depan baru bisa dikasih bantuan psikologis. Sekarang belum bisa,” tutup Vira.
Bantah Damai! Polisi dan Keluarga Korban Siap Bantai Pelaku di Meja Hijau
Atas kejadian yang menimpa anaknya, keluarga Vira tidak tinggal diam. Mereka sudah melaporkan R dan L ke Polres Metro Jakarta Pusat pada Senin (8/6/2026). Pada Selasa, mediasi digelar di polres. Dalam mediasi itu, R mengeluarkan alasan klise. Ia mengaku kesal karena MWP terlebih dulu berbuat iseng.
“Katanya sih anak saya duluan yang iseng. Katanya pegang-pegang jenis kelamin dia gitu. Jadi dia enggak terima kalau diisengin duluan,” ujar Vira. Namun, setelah memeriksa rekaman CCTV, Vira tidak menemukan kejadian seperti yang dituduhkan R. Saat diinterogasi polisi, R mengaku bahwa ia memang mudah emosi.
“Dia ngomong ke polisi, ‘Saya enggak suka Pak diisengin duluan dan saya emosian orangnya’. Terus polisi bilang, ‘Kalau diisengin anak kecil, kamu balas?’. Dia jawab, ‘Iya Pak, saya enggak terima’,” ungkap Vira menirukan percakapan itu.
Meski kedua pelaku menangis dan bersujud minta maaf kepada suami Vira, keluarga korban tetap pada pendirian. Suami Vira dengan tegas menolak perdamaian. “Kalau dari pihak polisi bilangnya gimana kelanjutannya. Kata suami saya, lanjut saja proses hukum. Suami saya enggak terima dong anaknya digituin,” tegas Vira.
Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Pusat melalui Kasat PPA PPO, Kompol Rita Oktavia, membantah keras kabar bahwa kasus ini berakhir damai. “Tidak benar itu. Tidak mungkin kami lakukan,” tegas Rita saat dihubungi, Kamis.
Rita menjelaskan, polisi hanya menjadi fasilitator dalam mediasi itu. Pihaknya tetap berkomitmen menindak tegas para pelaku. “Kami akan melakukan penindakan tegas terhadap semua pelaku tindakan kekerasan, perundungan, persekusi sesuai aturan hukum yang berlaku,” jelas Rita. Saat ini, penyidikan terus berjalan dan saksi-saksi telah diperiksa. Para remaja biadab itu akan dijerat pasal berlapis!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

