BEKASI, Desapenari.id — Sebuah insiden yang hampir berakhir tragis sempat mengguncang kawasan Perumahan Duta Harapan. Pada Minggu (8/2/2026), suasana penertiban pedagang kaki lima (PKL) tiba-tiba berubah mencekam. Bagaimana tidak, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto sendiri nyaris menjadi korban kekerasan setelah seorang pedagang nekat menodongnya dengan senjata tajam! Pelaku yang berinisial Barmizon (60), seorang pedagang es kelapa, diduga mengamuk karena menolak lapaknya ditertibkan.
Lebih lanjut, melalui rekaman video yang langsung viral di Instagram @infobekasiutara, publik bisa menyaksikan ketegangan itu berlangsung. Awalnya, pria berbaju merah itu terlihat adu mulut dengan sejumlah petugas dan pejabat. Emosinya jelas tak terkendali, bahkan ia pun melontarkan kata-kata kasar. Kemudian, tanpa diduga, pelaku masuk ke dalam lapaknya dan keluar kembali dengan membawa sebilah golok! Dengan gerakan cepat, ia langsung menodongkan senjata tajam itu ke arah para petugas dan Wali Kota. “Awas Pak Wali, awas Pak Wali. Amankan itu, senjata tajam itu!” seru suara pria yang merekam, mencerminkan kepanikan di lokasi. Spontan, para petugas dan pejabat pun menjauh untuk menghindari bahaya. Meski kemudian pelaku mundur sambil tetap marah-marah, suasana panik sempat menyelimuti lokasi.
Untungnya, situasi berangsur-angsur bisa dikendalikan. Petugas berhasil meredam amuk pelaku setelah melakukan pendekatan persuasif dan negosiasi yang intens. Alhasil, tidak ada korban jiwa dalam insiden berbahaya ini. Menanggapi kejadian tersebut, respons Wali Kota Bekasi Tri Adhianto justru sangat mengejutkan dan penuh wibawa. Ia menegaskan bahwa pemerintah harus tetap tenang dan tidak boleh bersikap represif di lapangan. “Dalam menghadapi situasional itu kan harus dengan tenang. Kita sebagai aparatur bukan represif, karena itu warga kita, saudara kita,” ujar Tri dengan sikap tenang saat ditemui di Plaza Pemerintah Kota Bekasi, Senin (9/2/2026).
Tak berhenti di situ, Tri Adhianto melanjutkan penjelasannya dengan konsep penanganan yang sangat manusiawi. Menurutnya, pendekatan persuasif dengan mengedepankan penyadaran masyarakat adalah kunci utama. “Yang perlu adalah kita elus, kita sadarkan bahwa ada satu proses yang memang tidak baik. Saya melihat memang ada degradasi moral hari ini. Masyarakat mudah tersulut emosi, mudah mengeluarkan kata-kata kotor. Justru saya mengingatkan aparatur untuk tidak terpancing,” tegasnya. Selain itu, ia juga menekankan bahwa program penertiban tidak akan dilakukan secara gegabah. Sebaliknya, semua akan berjalan bertahap dan selalu disertai dengan edukasi kepada masyarakat. “Program pemerintah tidak akan pernah berhasil kalau masyarakat tidak ikut serta. Termasuk yang hari ini kami fokuskan, seperti penanganan sampah. Ini juga menjadi catatan dari Bapak Presiden,” kata Tri menyampaikan visinya.
Pascainsiden penodongan yang mencekam itu, solusi nyata akhirnya ditemukan. Lapak pedagang es kelapa milik pelaku yang sebelumnya memenuhi tepi jalan, akhirnya digeser ke area yang lebih tertib dan tidak mengganggu lalu lintas. Sementara itu, untuk memproses hukum, pelaku sempat diamankan oleh petugas bersama barang bukti sebilah senjata tajam di Polsek Bekasi Utara. Melalui rangkaian peristiwa ini, publik diajak untuk melihat bahwa di balik ketegangan, selalu ada ruang untuk dialog dan penyelesaian yang beradab. Kepemimpinan yang tenang dan kebijaksanaan dalam bertindak terbukti mampu mencegah situasi menjadi lebih buruk.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

