KARANGASEM, Desapenari.id – Deru nyala api yang membara di tengah heningnya dini hari Minggu (5/7/2026) sontak mengubah kawasan Banjar Dinas Sangkan Gunung, Desa Sangkan Gunung, Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, Bali, menjadi lautan api. Sebuah kandang ayam milik warga setempat ludes dalam sekejap, dan peristiwa tragis itu pun menyisakan kepiluan yang mendalam bagi sang pemilik. Bayangkan, tidak kurang dari 22.000 ekor ayam mati mengenaskan dalam insiden dahsyat tersebut, dan kerugian materi yang ditimbulkan ditaksir mencapai angka fantastis, yaitu Rp 1 miliar!
Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Karangasem, Ipda I Nengah Artono, ketika dikonfirmasi langsung oleh tim kami pada Minggu pagi, dengan tegas membenarkan kejadian nahas ini. Ia menyebutkan bahwa kandang ayam modern yang rata dengan tanah tersebut adalah milik seorang warga bernama I Nyoman Yulianta, yang usianya baru menginjak 36 tahun. “Dari laporan yang kami himpun, api benar-benar melahap seluruh isi kandang. Akibatnya, hampir seluruh populasi ayam di dalamnya mati terpanggang, dan nilai kerugian sementara memang kita taksir tembus hingga Rp 1 miliar,” ujar Artono dengan nada prihatin yang dalam.
Peristiwa mengerikan itu sendiri terjadi sekitar pukul 00.00 Wita, ketika sebagian besar warga tengah terlelap dalam mimpi. Tidak berselang lama, kabar duka itu pun langsung meluncur ke telinga petugas kepolisian sektor setempat, tepatnya pada pukul 01.00 Wita dini hari. Petugas pun segera bergerak cepat setelah menerima laporan tersebut, karena mereka sadar bahwa api tidak akan bisa ditunggu sebentar pun.
Nah, bagaimana awal mula kobaran api ini diketahui? Ternyata, kesadaran seorang pekerja kandang bernama Elang Samudra (27) menjadi titik krusial yang menyelamatkan sisa bangunan agar tidak merembet lebih jauh. Menurut penuturan Artono yang memaparkan kronologi kejadian, Elang saat itu tengah menjalankan tugas rutinnya untuk mengecek tungku penghangat kandang yang berbahan bakar pelet serbuk kayu. Kondisi malam yang dingin memang mengharuskan mesin pemanas terus menyala, namun siapa sangka, di balik rutinitas itu tersimpan bahaya maut.
Selanjutnya, saat melakukan pengecekan keliling, Elang mendapati suasana yang tidak biasa. Lampu penerangan di dalam kandang tiba-tiba padam total, dan dalam sekejap, kepulan asap tipis mulai terlihat di sudut timur bangunan. Tanpa membuang waktu, ia pun berlari mendekati sumber asap, namun apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaannya. Tak lama setelah lampu padam, tiba-tiba lidah api menyembur dengan ganasnya dari bagian timur kandang, seolah-olah makhluk buas yang terbangun dari tidur panjang. Api dengan cepat membesar dan menjalar ke segala arah, melahap habis bangunan kandang yang sebagian besar terbuat dari bambu, kayu, dan atap seng yang sangat mudah tersulut api. Kecepatan angin malam yang berhembus kencang pun semakin memperparah situasi, membuat api seperti mencari mangsa di setiap sudut gelap kandang.
Menyadari bahwa dirinya tidak mampu memadamkan api sendirian, Elang segera berteriak sekencang-kencangnya memanggil rekan-rekan pekerja lainnya yang sedang beristirahat di pos jaga. Bersama-sama, mereka sigap mengerahkan seluruh peralatan seadanya untuk berjibaku melawan si jago merah. Mereka menyemprotkan air dari selang yang tersedia dan menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) yang ada, namun upaya heroik tersebut terasa seperti “menimba air dengan keranjang” karena api sudah terlalu besar. Di tengah kepanikan itu, salah seorang pekerja dengan sigap menghubungi pemilik kandang, I Nyoman Yulianta, yang tentu saja kaget bukan kepalang mendengar kabar tersebut.
Sementara itu, upaya pemadaman secara swadaya terus dilakukan oleh para pekerja dengan penuh keringat dan keberanian, walaupun api terus mengamuk dan panasnya terasa menyengat hingga ke area luar kandang. Mereka terus berusaha memadamkan api menggunakan peralatan seadanya dengan menyemprotkan air ke titik-titik kebakaran yang paling kritis, namun kondisi angin yang tidak menentu membuat api kerap berpindah arah. Tidak heran jika kepulan asap hitam pekat pun terlihat membumbung tinggi, menggelapkan langit malam yang tadinya diterangi cahaya bulan.
Puncaknya, sekitar pukul 01.20 Wita dini hari, pertolongan akhirnya tiba! Tiga unit mobil pemadam kebakaran milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karangasem berhasil meluncur ke lokasi kejadian dengan sirine yang meraung-raung. Dengan perlengkapan yang lebih lengkap dan tekanan air yang besar, para petugas pemadam langsung bergerak cepat mengitari titik api. Mereka tidak hanya memadamkan api dari satu sisi, melainkan menyusun strategi agar api tidak merembet ke pemukiman warga di sekitar kandang yang jaraknya hanya beberapa puluh meter.
Kerja keras dan koordinasi yang solid antara petugas pemadam, pekerja kandang, dan warga sekitar akhirnya membuahkan hasil. Setelah kurang lebih satu jam lebih perjuangan berat, api yang tadinya membara dan menjulang tinggi akhirnya mulai mereda. Artono menambahkan bahwa api berhasil dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 02.30 Wita. Namun, saat itu suasana di lokasi sudah sangat berbeda; yang tersisa hanyalah tumpukan puing-puing hangus dan bau anyir daging ayam bakar yang memilukan. Senyap yang menyelimuti lokasi kejadian seolah menjadi saksi bisu atas tragedi besar yang menimpa usaha peternakan tersebut.
Seusai proses pemadaman, pihak kepolisian dari Polsek Sidemen dan Polres Karangasem langsung tancap gas melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Tim identifikasi bergerak cermat mengumpulkan barang bukti yang diduga kuat menjadi pemicu kebakaran. Menariknya, berdasarkan hasil penyelidikan awal di lapangan, Polisi menduga kuat bahwa kebakaran nahas ini dipicu oleh korsleting listrik pada instalasi kabel di bagian timur kandang. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya potongan kabel listrik yang terbakar serta sisa-sisa kayu yang ikut hangus di area tersebut. Petugas pun segera mengamankan barang bukti tersebut untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium guna memastikan penyebab pastinya.
Selain mengamankan barang bukti, langkah investigasi lain pun tak kalah pentingnya. Polisi telah meminta keterangan secara mendalam dari sejumlah saksi, termasuk Elang Samudra sebagai saksi pertama, serta rekan-rekan pekerja lainnya dan tentu saja pemilik kandang, I Nyoman Yulianta. Mereka juga secara teliti mendata seluruh kerusakan serta membuat laporan resmi untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut. Harapannya, kejadian ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi para peternak lainnya, bahwa instalasi listrik di kandang hewan harus selalu dalam pengawasan ketat agar tidak memicu hal serupa di masa depan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

