JAKARTA, Desapenari.id – Pemerintah akhirnya buka suara soal nasib warga Palu yang rumahnya hancur diterjang gempa dahsyat! Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, dengan tegas mengumumkan bahwa pemerintah segera mengucurkan bantuan besar-besaran untuk memperbaiki rumah-rumah warga yang porak-poranda akibat gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6/2026) lalu.
Program pemberian bantuan perbaikan ini ternyata bukan hal baru, melainkan skema rutin yang selalu dijalankan pemerintah setiap kali bencana alam melanda tanah air. Namun kali ini, nominalnya benar-benar bikin perhatian publik!
“Skema penggantian atau perbaikan rumah rusak ini selalu kami terapkan di setiap kejadian bencana. Besarannya pun sudah jelas: Rp 15 juta untuk kategori rusak ringan, Rp 30 juta untuk rusak sedang, dan Rp 60 juta untuk rusak berat,” ungkap Abdul Muhari dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Pria yang akrab disapa Aam ini kemudian menambahkan penjelasan yang lebih menggembirakan bagi para korban. Menurutnya, skema bantuan tidak hanya terbatas pada perbaikan, melainkan pemerintah juga membuka opsi pembangunan rumah baru dari nol jika kondisi bangunan sudah tidak memungkinkan untuk direnovasi.
Bahkan, sambung Aam, BNPB sudah menyiapkan opsi hunian sementara bagi warga yang benar-benar kehilangan tempat tinggal. Namun, ia dengan bijak mengingatkan bahwa semua keputusan tetap akan menyesuaikan dengan kondisi riil di lapangan.
“Tapi tentu saja ini semua tergantung dinamika di lapangan,” tegasnya sambil menekankan bahwa pemerintah tidak akan asal memberi tanpa melihat kebutuhan mendesak para korban.
Data terbaru yang berhasil dihimpun tim BNPB menunjukkan bahwa Kabupaten Sigi menjadi wilayah dengan kerusakan paling parah. Angkanya benar-benar mencengangkan! Tercatat 1.074 rumah mengalami rusak ringan, 110 rumah rusak sedang, dan 30 rumah rusak berat yang membutuhkan penanganan serius.
Sementara itu, Kota Palu mencatatkan 20 rumah terdampak, Kabupaten Poso melaporkan 5 rumah terdampak dengan 3 di antaranya masuk kategori rusak ringan, dan Prigi Moutong mencatat 15 rumah rusak akibat getaran gempa yang mengguncang.
Tak hanya rumah warga, infrastruktur publik pun ikut menjadi korban keganasan gempa. Di Kabupaten Sigi, tim evakuasi menemukan 33 fasilitas ibadah yang mengalami kerusakan, 4 perkantoran yang ambruk sebagian, dan 2 sekolah yang harus ditutup sementara karena kondisi bangunan yang mengkhawatirkan.
Di Kota Palu, kerusakan juga menyasar 1 fasilitas umum, 1 tempat usaha milik warga, dan 1 hotel yang kini terpaksa menghentikan operasional. Bahkan yang lebih memprihatinkan, sebuah jembatan dilaporkan retak parah akibat guncangan gempa kemarin, sehingga mengancam akses transportasi darat antar wilayah.
Menanggapi situasi genting ini, Aam menyatakan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi intensif dengan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tengah. Langkah ini diambil untuk segera mencari jalur alternatif yang aman, sehingga distribusi logistik dan bantuan ke tiga kota terdampak tidak terganggu oleh akses jalan yang rusak.
“Kita sedang berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Tengah untuk melihat jalur alternatif supaya distribusi logistik di tiga kota ini tidak terganggu,” jelasnya dengan nada serius.
Sebagai informasi yang perlu diketahui publik, gempa bumi yang mengguncang Sulawesi Tengah kali ini tercatat memiliki kekuatan mencapai 6,7 magnitudo. Peristiwa dahsyat ini terjadi tepat pada pukul 10.27 WIB, saat sebagian besar warga sedang beraktivitas, sehingga kepanikan langsung melanda seluruh wilayah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa utama ini diikuti oleh serangkaian gempa susulan atau aftershocks yang berpusat di sekitar Kabupaten Sigi dan Kota Palu. Getarannya bahkan terasa hingga ke wilayah tetangga di Sulawesi Barat, membuat warga di sana pun ikut ketakutan.
Berdasarkan data resmi yang dirilis oleh Pusat Gempa Regional (PGR) 4 Sulawesi BMKG, gempa utama berpusat pada koordinat 1,04 Lintang Selatan dan 120,23 Bujur Timur. Lokasi ini berada di daratan, sehingga dampak kerusakan terasa lebih masif dibandingkan gempa bawah laut.
Hingga pasca-gempa utama, BMKG mencatat telah terjadi sedikitnya sembilan kali gempa susulan dengan magnitudo bervariasi antara 3,5 hingga 4,6. Kondisi ini tentu membuat warga masih hidup dalam ketakutan dan trauma, karena setiap saat getaran bisa datang kembali.
Yang lebih memilukan, gempa ini telah merenggut satu korban jiwa yang tak terselamatkan. Selain itu, 13 orang lainnya harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat luka berat yang diderita, sementara 25 warga lainnya mengalami luka ringan dan kini sedang dalam masa pemulihan.
Tim evakuasi dan relawan terus bekerja tanpa kenal lelah untuk menjangkau korban-korban yang masih membutuhkan pertolongan, sementara pemerintah berjanji akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan.
Bantuan yang dijanjikan pemerintah ini diharapkan bisa segera cair agar warga bisa segera membangun kembali kehidupan mereka yang hancur akibat bencana. Namun, seluruh proses tetap akan melalui verifikasi ketat dari tim BNPB di lokasi kejadian.
Warga pun diminta untuk tetap tenang dan mengikuti arahan dari petugas di lapangan, karena keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam situasi darurat seperti ini.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi hoaks yang beredar, dan selalu mengecek kebenaran berita melalui kanal resmi BNPB serta BMKG. Semoga bantuan ini bisa segera dirasakan manfaatnya oleh seluruh korban gempa Palu!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

