Jakarta, Desapenari.id – Kabar mengejutkan datang dari dunia peternakan Magetan! Karena harga telur ambrol luar biasa, Badan Gizi Nasional (BGN) langsung tancap gas. Mereka memerintahkan semua Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jawa Timur untuk memaksimalkan penggunaan telur dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Wah, strategi jitu nih!
Lalu, apa yang memicu perintah kilat ini? Ternyata, semuanya berawal dari anjloknya harga telur ayam ras di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, yang bikin para peternak gerah. Bahkan, beberapa hari kemarin, mereka sampai menggelar aksi damai. Miris, kan?
Menanggapi hal itu, Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, langsung angkat bicara. Dengan tegas, ia mengungkapkan bahwa pihaknya sangat memahami kesulitan yang membelenggu para peternak. Pasalnya, mereka kini terjepit antara harga pakan yang melambung tinggi dan harga telur yang malah terperosok dalam.
“Kami sudah menginstruksikan seluruh SPPG di Jawa Timur untuk mengoptimalkan penggunaan telur dalam menu MBG,” seru Nanik dalam keterangan resmi yang diterima pada Sabtu (9/5/2026). Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa langkah ini diharapkan mampu membantu meningkatkan penyerapan telur dari peternak. Dengan begitu, stabilitas harga di tingkat produsen pun bisa terjaga dengan baik. Mantap, kan?
Selain itu, Nanik juga menekankan bahwa optimalisasi penggunaan telur pada menu MBG terbukti mendorong serapan produksi peternak lokal secara signifikan. Setelah berkoordinasi secara intensif dengan BGN, Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Magetan akhirnya sepakat untuk membuat gebrakan baru. Mereka memutuskan untuk menyajikan telur ayam ras sebagai menu utama hingga tiga kali dalam seminggu.
Nah, ini dia bedanya! Jumlah tersebut meningkat drastis dibandingkan kebijakan sebelumnya yang hanya menggunakan menu telur dua kali dalam seminggu. Artinya, ada tambahan satu porsi telur setiap minggunya. Keren, bukan?
Menurut Nanik, strategi berani ini sengaja diterapkan agar harga telur segera merangkak naik seiring dengan meningkatnya permintaan. Logikanya sederhana: semakin banyak telur yang diserap program MBG, maka permintaan akan melonjak, dan pada akhirnya harga pun ikut terdongkrak.
Tak hanya itu, Nanik juga menegaskan bahwa program MBG memang dirancang untuk tujuan ganda. “Program MBG memang dirancang tidak hanya untuk pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi pelaku usaha lokal, termasuk peternak ayam petelur,” ujar Nanik dengan penuh optimisme.
Berkaca pada praktik di lapangan, selama ini SPPG di Magetan sudah terbukti konsisten membeli telur langsung dari peternak setempat. Mereka tidak pernah mengambil pasokan telur dari peternak di luar daerah. Kebijakan lokal ini dinilai sangat ampuh untuk memutar roda ekonomi masyarakat setempat. Jadi, uangnya benar-benar berputar di lingkungan sendiri.
Sebagai informasi tambahan, aksi damai yang digelar para peternak telur di Magetan cukup menyita perhatian publik. Mereka dengan berani membagikan tiga ton telur secara gratis di kawasan Alun-Alun dan Masjid Agung Baitussalam Magetan. Aksi simbolis ini merupakan bentuk protes keras karena harga telur yang anjlok tidak seimbang dengan biaya produksi yang semakin tinggi.
Lantas, seberapa parahkah harga telur saat ini? Data di tingkat kandang menunjukkan bahwa harga telur di Magetan hanya menyentuh angka Rp22.000 hingga Rp22.800 per kilogram. Padahal, Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat produsen seharusnya Rp26.500 per kilogram. Sementara itu, HAP di tingkat konsumen pun ditetapkan Rp30.000 per kilogram. Jauh sekali, kan?
Tidak hanya menggelar aksi damai, para peternak yang geram juga menggeruduk Dinas Peternakan Magetan. Dalam demonstrasi itu, mereka tidak hanya mengeluhkan harga jual yang berada di bawah harga pokok produksi (HPP). Akan tetapi, mereka juga menyoroti rendahnya serapan dari dapur MBG.
Faktanya, SPPG di Magetan hanya mampu menyerap 60 persen dari total hasil produksi peternak. Artinya, masih ada 40 persen telur yang mengendap di kandang. “Kalau ini tidak segera diatasi, stok akan semakin banyak dan harga bisa makin jatuh,” keluh salah seorang peternak, Teguh Wahyudi, usai mengikuti mediasi di Dinas Peternakan Magetan pada Selasa (6/5/2026). Nah, langkah BGN ini diharapkan bisa menjadi solusi jitu bagi masalah yang mendesak ini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

