JAKARTA, Desapenari.id – Sorotan tajam tertuju pada Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, di mana sejumlah nakhoda kapal tradisional dengan lantang menyuarakan hasrat mereka untuk dilibatkan ketika Transjakarta mulai mengelola transportasi laut di Kepulauan Seribu. Bukan sekadar gimmick, tuntutan mereka adalah tentang kelangsungan hidup dan masa depan yang lebih cerah!
Derita di Tengah Ombak: Pendapatan Tak Menentu Menggerogoti Jiwa
Salah satu sosok yang angkat bicara adalah Ashabul Yamin, atau akrab disapa Aas, seorang nakhoda berpengalaman yang sudah puluhan tahun mengarungi lautan. Dengan nada penuh harap sekaligus sedikit putus asa, ia mengungkapkan impian sederhana namun fundamental: mendapatkan gaji tetap jika nantinya dilibatkan dalam skema baru transportasi laut.
“Kalau kita digaji, enggak masalah sama sekali!” serunya dengan tegas ketika ditemui pada Senin (7/9/2026). “Saya kasih gambaran gamblang nih, sistem murni begini, ada penumpang atau enggak ada penumpang, kita tetap berangkat asal pakai sistem gaji. Itu enggak masalah buat saya!” lanjutnya dengan semangat membara.
Lebih lanjut, Aas dengan jujur membeberkan fakta pahit yang selama ini dialami para awak kapal tradisional. Penghasilan mereka selama ini benar-benar bergantung pada jumlah penumpang yang menaiki kapal. Kondisi tak menentu ini membuat pendapatan mereka naik-turun bagaikan ombak di lautan. Kadang melimpah saat musim liburan, tapi seringkali merana ketika sepi penumpang.
Kepastian Kerja: Tuntutan yang Tak Bisa Ditawar!
Bagi Aas dan rekan-rekannya, kepastian pekerjaan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan pokok yang mendesak. Ia dengan gamblang menjelaskan bahwa skema penggajian akan menjadi solusi terbaik bagi masa depan mereka.
“Mau penumpang berapa pun, kami tetap siap berangkat! Mau cuma satu orang, dua orang, yang penting kami digaji! Yang terpenting ada kepastian pekerjaan buat kami,” ujarnya dengan nada memohon namun tetap teguh.
“Jujur saja ya, sebagai pribadi saya lihat sekarang ini mencari pekerjaan sangat susah. Kalau bisa mah kami dibantu. Soalnya cari pekerjaan susah, banyak yang pengangguran sekarang. Kasihan orang pulau. Kasihan. Yang punya kapalnya juga kasihan,” tambahnya dengan nada prihatin yang menyayat hati.
Peluang Kerja Sama: Tangan Terbuka Untuk Transjakarta!
Tak hanya Aas, nakhoda lainnya, Amar, juga dengan tangan terbuka menyambut potensi kerja sama dengan Transjakarta. Baginya, pelibatan kapal tradisional dalam layanan transportasi laut adalah angin segar yang sudah lama dinantikan.
“Kalau memang mau bekerja sama, ayo monggo silahkan! Kalau memang mau sistem gaji, ya sistem gaji. Tapi kalau mau sistemnya bagi hasil, ayo bagi hasil!” ungkapnya dengan antusias saat ditemui di lokasi yang sama pada Senin lalu.
Meski demikian, Amar memberikan catatan penting yang tak boleh diabaikan. Menurutnya, keterlibatan kapal tradisional nantinya harus disertai dengan koordinasi yang solid antara pemerintah dan pengusaha kapal. Tanpa koordinasi yang baik, semua rencana indah hanya akan jadi mimpi di siang bolong.
“Yang penting dari pihak pemerintah sama pengusaha kapal itu harus ada koordinasi. Kalau tidak ada koordinasi, enggak bakal bisa jalan,” tegasnya dengan bijaksana.
Transjakarta Masuki Dunia Maritim: Terobosan atau Sekadar Wacana?
Rencana Transjakarta untuk mengelola transportasi laut di Kepulauan Seribu memang menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Langkah ini dianggap sebagai terobosan yang bisa menghubungkan daratan Jakarta dengan keindahan Kepulauan Seribu secara lebih terintegrasi. Namun, tanpa melibatkan pemain lama yang sudah berpengalaman, semua rencana berisiko gagal di tengah jalan.
Para nakhoda tradisional ini bukanlah orang sembarangan. Mereka memiliki pengalaman dan pengetahuan lokal yang tak ternilai tentang medan laut di sekitar Kepulauan Seribu. Karang-karang berbahaya, arus laut yang rumit, hingga perubahan cuaca ekstrem sudah mereka hafal di luar kepala. Mengabaikan mereka sama saja membuang pengetahuan berharga yang diwariskan turun-temurun.
Mimpi Indah di Balik Skenario Baru
Bayangkan jika skema ini benar-benar terwujud! Para nakhoda dan awak kapal tradisional akan mendapatkan gaji tetap setiap bulan. Mereka tak perlu lagi was-was memikirkan apakah hari ini akan kebanjiran penumpang atau justru sepi. Anak-anak mereka bisa sekolah dengan tenang, istri-istri mereka tak perlu lagi mengkhawatirkan penghasilan suami yang tak menentu.
Di sisi lain, wisatawan yang ingin menikmati keindahan Kepulauan Seribu akan mendapatkan layanan transportasi yang lebih teratur dan bisa diandalkan. Jadwal keberangkatan pasti, harga tiket yang stabil, dan yang terpenting, keselamatan yang lebih terjamin karena dikelola oleh ahli-ahli lokal yang sudah mengenal laut bagaikan telapak tangan mereka sendiri.
Tantangan dan Harapan di Masa Depan
Tentu saja, jalan menuju implementasi skema ini tidak akan mulus begitu saja. Dibutuhkan regulasi yang jelas, anggaran yang memadai, serta komitmen kuat dari semua pihak. Koordinasi yang disinggung Amar menjadi kunci utama keberhasilan program ini.
Para nakhoda berharap pemerintah tidak hanya membuat kebijakan di balik meja, tapi juga turun langsung mendengar suara mereka. Dialog dan musyawarah harus menjadi landasan dalam merancang skema transportasi laut yang berpihak pada semua pihak.
Aas dan rekan-rekannya percaya bahwa dengan niat baik dan kerja sama yang erat, mimpi mendapatkan gaji tetap bisa terwujud. Mereka siap berkontribusi dan memberikan yang terbaik bagi kemajuan transportasi laut di Kepulauan Seribu.
Pelajaran Berharga: Jangan Abaikan Pemain Lokal!
Kisah para nakhoda ini mengajarkan kita satu hal penting: dalam setiap pembangunan, jangan pernah mengabaikan pemain lokal yang sudah bertahun-tahun menggeluti bidang tersebut. Mereka memiliki kearifan lokal dan pengalaman yang tak bisa digantikan oleh teknologi atau kebijakan dari atas meja.
Pelibatan mereka bukan hanya soal keadilan sosial, tapi juga soal efektivitas dan keberlanjutan program. Kapal tradisional yang dikelola oleh nakhoda berpengalaman akan memberikan layanan yang lebih humanis dan dekat dengan masyarakat.
Kini, semua mata tertuju pada pemerintah dan Transjakarta. Akankah mereka mendengar jeritan hati para nakhoda di Pelabuhan Muara Angke? Akankah mimpi mendapatkan gaji tetap dan kepastian pekerjaan segera terwujud? Waktu yang akan menjawab. Yang jelas, suara mereka telah didengar dan harapan mereka telah menggema hingga ke penjuru ibu kota!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

