MAKASSAR, Desapenari.id – Pemandangan tak biasa kembali menghiasi ruas-ruas jalan utama di Kota Makassar. Ratusan kendaraan berat berjejer rapi dan tak jarang saling bersenggolan, menciptakan lautan besi yang menyumbat arus lalu lintas. Kemacetan panjang yang dipicu oleh antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) jenis bio solar di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) kini menjadi momok baru bagi warga kota. Mulai dari kawasan Jalan Gunung Bawakaraeng, memanjang hingga AP Pettarani, dan tak ketinggalan di poros Perintis Kemerdekaan, terlihat deretan truk pengangkut logistik, mobil box pengirim barang, angkutan kota dalam provinsi, hingga kendaraan pribadi yang nekat ikut mengantre. Mereka rela meluangkan waktu dari pagi buta hingga larut malam, dan dampaknya, kemacetan parah pun tak terelakkan selama beberapa hari terakhir.
Fenomena kelangkaan solar ini terasa semakin mencekik bagi para sopir yang mengandalkan BBM subsidi tersebut untuk mencari nafkah. Firman, salah satu sopir truk yang ditemui di sela-sela antreannya, mengungkapkan keluh kesahnya dengan nada lelah. Ia menuturkan bahwa dirinya dan rekan-rekan seprofesi tidak punya pilihan lain selain datang lebih cepat sebelum fajar menyingsing. Tujuannya hanya satu, yakni mengambil nomor antrian sedini mungkin agar persediaan solar yang terbatas itu tidak habis diserbu oleh sopir lainnya.
“Iye (harus pagi), tadi dari jam 10.00 WITA, saya ambil memang parkiran,” ujarnya dengan logat khas Makassar yang kental, Sabtu (4/7/2026). Meskipun terlihat masih pagi, bagi Firman, jam 10.00 sudah terhitung telat jika ingin mendapatkan jatah solar di SPBU langganannya. Ia dan para sopir lainnya lebih memilih untuk mengorbankan waktu istirahat mereka demi memastikan tangki kendaraan mereka tidak kosong keesokan harinya.
Lebih lanjut, Firman menjelaskan bahwa alasan utama antrean ini mengular hingga berjam-jam adalah karena pasokan solar di wilayah Kota Makassar kerap kali tidak menentu. Kadang kala, SPBU yang biasanya menjadi andalan tiba-tiba kehabisan stok tanpa pemberitahuan yang jelas. Akibatnya, para sopir harus rela berpindah-pindah lokasi dari satu SPBU ke SPBU lainnya untuk mencari Pertamina yang kebetulan sedang melakukan pengisian tangki pendam.
“Susah solar, kadang ada kadang tidak. Kau disini tidak ada ke Pettarani lagi,” keluhnya sambil sesekali melirik ke arah depan untuk memastikan antrean masih bergerak. Baginya, ketidakpastian ini adalah ujian kesabaran yang paling berat. “Kalau tidak ada biasa tidak keluar, biasa juga pergi ke perintis, itu temanku tadi malam ke perintis tidak dapat, pada hal antri, giliran dapat antrian mau mengisi habis, itu resikonya,” sambungnya sembari menceritakan pengalaman pahit rekannya yang gagal mendapatkan solar meskipun sudah bersusah payah mengantre hingga malam hari.
Menariknya, di tengah situasi yang serba sulit ini, para sopir tidak sepenuhnya bergerak dalam kegelapan informasi. Firman mengungkapkan bahwa mereka memiliki semacam jaringan komunikasi informal yang sangat bergantung pada informasi dari petugas SPBU. Mereka rela menyimpan nomor kontak pegawai Pertamina setempat hanya untuk mendapatkan kabar terkini mengenai jadwal pengisian solar. Begitu ada info bahwa tangki solar akan segera diisi, para sopir yang tadinya tersebar di berbagai titik akan langsung bergegas dan berbondong-bondong menuju SPBU tersebut untuk mengamankan posisi antrean.
“Biasa kalau ada info mau masuk, biasa buru-buru orang pergi antri. Kontak pegawai Pertamina ada disimpan jadi, kalau ada info pengisian baru lagi datang,” jelas Firman dengan nada setengah berbisik, seolah itu adalah taktik rahasia yang harus dijaga ketat. Sistem sinyal ini menjadi semacam penyelamat di tengah kelangkaan, namun juga memicu pergerakan massa yang tiba-tiba dan memperparah kemacetan di jalan-jalan protokol Makassar.
Kelangkaan solar ini bukan hanya soal lelahnya mengantre, tetapi juga menyangkut kerugian waktu yang sangat berharga bagi para sopir yang hidupnya bergantung pada roda kendaraan. Firman mengaku bahwa rutinitas hariannya sebagai sopir angkutan barang menjadi kacau balau. Setiap hari, ia seharusnya sudah meluncur ke lokasi pengiriman di pagi hari, namun sekarang waktunya terkuras habis hanya untuk berdiam diri di dalam kabin truk sambil menunggu giliran.
“Kalau begini lambat bekerja karena habis disini waktu. Biasa saya cepat mau keluar, tapi begini di bikin lagi (antri). Tapi begitulah bekerja resikonya biar bagaimana kalau kelilingki cari tidak ada,” ujarnya dengan nada pasrah namun tetap tegar. Baginya, ini adalah bagian dari risiko pekerjaan yang harus ia tanggung, meskipun di dalam hati ia berharap ada solusi cepat dari pemerintah dan Pertamina untuk mengatasi masalah klasik ini.
Menanggapi kondisi yang semakin memanas di lapangan, Area Manager Communication, Relation, dan CSR, Lilik Hardiyanto, akhirnya buka suara. Dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, ia berusaha menenangkan publik dengan menyatakan bahwa kondisi penyaluran BBM di seluruh SPBU di Sulawesi Selatan (Sulsel) sebenarnya dalam keadaan aman dan terus berjalan secara rutin sesuai dengan kebutuhan konsumsi harian masyarakat.
Pertamina, lanjut Lilik, tidak tinggal diam. Pihaknya mengaku terus melakukan monitoring secara ketat terhadap kondisi stok dan konsumsi harian di seluruh wilayah operasionalnya. Mereka juga telah menyiapkan langkah-langkah operasional antisipatif apabila terjadi peningkatan permintaan yang signifikan di titik-titik tertentu. Hal ini dilakukan semata-mata agar pasokan BBM subsidi tetap terjaga dan tidak sampai mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat.
Lebih rinci, Lilik menerangkan bahwa antrean panjang yang terjadi di beberapa SPBU tersebut menjadi perhatian serius bagi Pertamina. Untuk itu, berbagai upaya percepatan dan kelancaran penyaluran telah dikerahkan. Mulai dari penambahan alokasi penyaluran di wilayah-wilayah yang mengalami lonjakan konsumsi, percepatan proses distribusi dari depo ke SPBU-SPBU yang dinilai strategis, hingga penguatan koordinasi dengan para pengelola SPBU dan aparat keamanan terkait untuk pengaturan antrean yang lebih tertib. Selain itu, tim Pertamina juga diturunkan untuk melakukan monitoring secara intensif dan real-time terhadap kondisi di lapangan agar penanganan bisa lebih cepat dan tepat sasaran.
Sebagai penutup, Pertamina pun memberikan imbauan yang ditujukan langsung kepada seluruh masyarakat pengguna BBM. Pihaknya meminta agar masyarakat bisa lebih bijak dalam membeli BBM sesuai dengan porsi kebutuhan dan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, distribusi BBM subsidi jenis Biosolar ini bisa berjalan lebih optimal dan benar-benar tepat sasaran untuk mereka yang berhak, tanpa harus menimbulkan keresahan dan kemacetan berkepanjangan seperti yang saat ini terjadi di Kota Makassar.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

