LOMBOK TIMUR, Desapenari.id – Kabar duka menyelimuti dunia pendaki Nusa Tenggara Barat. Seorang pria bernama H (38) yang nekat menaklukkan keindahan Bukit Savana Dandaun justru harus meregang nyawa setelah tubuhnya kalah melawan suhu dingin yang menusuk tulang pada Minggu (5/7/2026) dini hari. Ironisnya, nyawa pria asal Desa Rempung, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur itu tidak bisa diselamatkan meskipun tim gabungan sudah bekerja ekstra keras mengevakuasinya ke Puskesmas Sembalun untuk mendapatkan perawatan intensif.
Kini, setelah melalui proses medis yang panjang, jenazah korban akhirnya dilepaskan ke pangkuan keluarga yang sudah menunggu dengan perasaan campur aduk antara harapan dan kenyataan pahit. Operasi penyelamatan yang melibatkan puluhan personel pun resmi ditutup setelah dinilai tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Kilas Balik Mencekam: Jejak Evakuasi yang Melawan Waktu
Koordinator Pos SAR Kayangan, M. Darwis, membeberkan kronologi menegangkan yang dimulai dari sebuah panggilan darurat. Pihaknya mengguncang seluruh personel setelah menerima laporan pada Sabtu (4/7/2026) pukul 22.37 WITA bahwa ada seorang pendaki yang terjebak dalam kondisi kritis akibat hipotermia di kawasan Bukit Savana Dandaun. Begitu mendengar kabar tersebut, tim Rescue Pos SAR Kayangan langsung bergerak cepat tanpa menunda sedetik pun.
Mereka langsung menyiapkan berbagai perlengkapan tempur seperti peralatan mountaineering untuk medan terjal, kotak P3K lengkap, tandu khusus, serta perlengkapan komunikasi darurat. Tim gabungan pun segera bergegas melesat menembus gelapnya malam menuju titik koordinat korban yang berada di ketinggian. Medan yang licin dan suhu yang semakin turun drastis tidak menyurutkan langkah para penyelamat untuk berjuang demi sehelai nyawa.
Setelah melakukan perjalanan ekstra keras melewati jalur berbatu dan semak belukar yang basah, tim SAR gabungan akhirnya berhasil merayap masuk dan menjangkau lokasi keberadaan korban tepat pada Minggu (5/7/2026) dini hari, sekitar pukul 00.50 WITA. Saat ditemukan, kondisi H sudah sangat memprihatinkan dan tubuhnya menggigil hebat karena serangan hipotermia akut.
“Kami langsung memindahkan korban ke tandu dan menurunkannya secepat mungkin ke Puskesmas Sembalun. Saat itu, kami berharap pertolongan medis maksimal masih bisa menyelamatkannya,” ujar Darwis dengan nada prihatin.
Perjuangan Medis Berakhir Pilu
Setibanya di Puskesmas Sembalun, para petugas medis yang sudah siaga langsung menyambut kedatangan rombongan SAR. Mereka segera memindahkan korban ke ruang gawat darurat dan berupaya mati-matian menstabilkan suhu tubuh serta detak jantung H yang mulai melemah. Selang infus dipasang, selimut penghangat pun diselimutkan, namun takdir berkata lain.
Usai tim medis melakukan pemeriksaan menyeluruh dan berbagai upaya resusitasi, mereka harus menggelengkan kepala. Korban dinyatakan telah meninggal dunia karena kondisi hipotermia yang sudah memasuki stadium lanjut. Mengetahui kabar tersebut, suasana di puskesmas langsung hening dan para petugas SAR yang berkeringat dingin hanya bisa pasrah menerima kenyataan.
“Akhirnya, setelah melalui proses medis, kami serahkan jenazah kepada pihak keluarga yang sudah datang menjemput. Ini adalah keputusan akhir dari semua proses SAR yang kami lakukan,” tambah Darwis dengan suara lirih.
Pengakuan Resmi dan Penutupan Operasi
Dengan telah selesainya proses evakuasi dan penyerahan jenazah kepada keluarga yang berduka, Pos SAR Kayangan secara resmi menutup seluruh rangkaian operasi pencarian dan pertolongan. Mereka menganggap misi telah usai dan tidak ada lagi target yang harus diselamatkan di lokasi kejadian.
“Setelah kami serahkan ke pihak keluarga, kami pun menghentikan semua proses pencarian dan menutup operasi ini,” pungkas Darwis menegaskan.
Kolaborasi Heroik: 10 Unsur Bahu-Membahu
Keberhasilan proses evakuasi yang cepat meskipun berakhir tragis tidak terlepas dari kerja sama luar biasa dari berbagai unsur terkait. Sebanyak 10 institusi dan elemen masyarakat bahu-membahu mengerahkan seluruh kemampuan terbaik mereka. Tim Rescue Pos SAR Kayangan bertindak sebagai ujung tombak, sementara Unit SAR Lombok Timur siaga di bawah bukit.
Tidak ketinggalan, jajaran Polsek Sembalun dan Babinsa Sembalun turun langsung mengamankan jalur evakuasi serta membantu proses pendakian. Petugas Damkarmat Lombok Timur pun ikut mengawal dengan peralatan pemadam ringan untuk antisipasi darurat lainnya. Pengelola Bukit Savana Dandaun memberikan akses dan informasi medan yang vital bagi tim penyelamat.
Selain itu, kehadiran relawan Emergency Medical Health Community (EMHC) yang sigap dengan perlengkapan medis dan tim medis Puskesmas Sembalun yang profesional menjadi garis pertahanan terakhir bagi korban. Masyarakat setempat yang hafal medan juga membantu memandu jalur tercepat. Seluruh elemen terkait lainnya bersinergi tanpa henti, berjuang melawan dinginnya malam demi sebuah nyawa, meskipun pada akhirnya Tuhan lebih berkehendak lain.
Refleksi dan Pelajaran Berharga
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi para pendaki dan pencinta alam. Hipotermia adalah ancaman nyata yang tidak bisa dianggap remeh, bahkan bagi pendaki yang terlihat bugar sekalipun. Perubahan cuaca ekstrem di Savana Dandaun dapat menjerat siapa saja tanpa pandang bulu.
Kisah tragis H (38) mengajarkan bahwa persiapan fisik dan perlengkapan yang matang adalah harga mati sebelum melangkah ke alam liar. Jangan pernah meremehkan suhu malam hari di pegunungan, selalu bawa perlengkapan hangat yang memadai, dan segera cari pertolongan jika gejala awal hipotermia mulai terasa. Karena di alam, detik bisa menentukan hidup dan mati.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

