NUNUKAN, Desapenari.id – Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali meneror Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara! Kali ini, si jago merah dengan ganasnya melahap lebih dari 2 hektare lahan di Jalan Anastasia Wijaya, Kelurahan Mansapa, Kecamatan Nunukan Selatan pada Sabtu (18/4/2026) sore.
Sekitar pukul 17.00 WITA, warga setempat mulai melihat kepulan asap tebal membubung tinggi. Tak butuh waktu lama, tiupan angin kencang langsung mengubah percikan api kecil menjadi lautan api yang dengan cepat menjalar di kawasan perbukitan. Akibatnya, kobaran api pun semakin meluas dan di luar kendali!
Tim Gabungan Bergerak Cepat, Namun Medan Berat Jadi Hambatan!
Melihat situasi mencekam ini, tim gabungan dari BPBD Nunukan, TNI, Polri, serta warga setempat pun langsung tancap gas menuju lokasi. Mereka bahu-membahu berusaha menjinakkan api yang terus membesar.
Namun, pemadaman tidak semudah yang dibayangkan. Medan perbukitan yang ekstrem plus angin kencang menjadi musuh utama para petugas di lapangan.
Medan Sulit dan Angin Kencang Bikin Tim Pemadam Kewalahan!
Kepala Sub Bidang Penyelamatan BPBD Nunukan, Hasanuddin, mengakui bahwa proses pemadaman kali ini terbilang berat. “Lokasi kebakaran berada di area perbukitan dengan hembusan angin yang cukup kencang. Belum lagi pemadaman harus berlangsung hingga malam hari, sehingga jarak pandang tim pun sangat terbatas,” jelasnya saat dikonfirmasi pada Senin (20/4/2026).
Meskipun begitu, semangat petugas tak lantas surut. Dengan segala keterbatasan, mereka tetap memaksimalkan upaya pemadaman. Hasanuddin menambahkan, tim terpaksa memanfaatkan sumber air seadanya yang ada di sekitar lokasi. “Kami menggunakan air dari tampungan galian di sekitar lokasi, kemudian dibantu dengan mesin pompa apung untuk melakukan pemadaman langsung di titik-titik api,” terangnya.
Puluhan Alat Dikerahkan Demi Padamkan Si Jago Merah!
Operasi pemadaman pun berlangsung dramatis. Berbagai peralatan canggih maupun sederhana pun ikut dikerahkan. Mulai dari mobil rescue BPBD, truk tangki Damkarhutla, mobil slip on, kendaraan roda dua untuk menjangkau area sempit, hingga peralatan manual seperti pompa gendong dan pemukul api tradisional. Semua dikerahkan tanpa kenal lelah.
Setelah berjibaku keras melawan bara api selama kurang lebih tiga jam, titik terang pun mulai terlihat. Upaya maksimal tim gabungan akhirnya membuahkan hasil. Sekitar pukul 20.00 WITA, kobaran api berhasil dikendalikan.
“Alhamdulillah, api berhasil kami jinakkan sebelum meluas ke area yang lebih luas lagi,” ujar Hasanuddin dengan napas lega.
Syukurnya, dalam peristiwa ini tidak ada korban jiwa. Namun, lahan hangus yang terbakar diperkirakan milik warga setempat. Kerugian material pun tak bisa dihindari.
Bukan Sekali Ini Saja! Kasus Karhutla di Nunukan Meledak 8 Kali Lipat!
Yang lebih mengkhawatirkan, peristiwa ini ternyata hanya puncak gunung es. Sepanjang awal 2026, Nunukan sedang dilanda lonjakan kasus karhutla yang mengkhawatirkan! Data BPBD mencatat, sejak Januari hingga Maret 2026 saja, sudah terjadi 17 kasus karhutla.
Bayangkan, jumlah tersebut meningkat lebih dari delapan kali lipat dibandingkan periode yang sama di tahun 2025! Pada tahun lalu, periode yang sama hanya mencatat dua kejadian. Bahkan, jika ditotal sepanjang tahun 2025, kasus karhutla hanya mencapai 11 kejadian.
“Ini sangat mengkhawatirkan. Dalam tiga bulan pertama di 2026 saja, sudah tercatat 17 kejadian. Jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu,” tegas Hasanuddin dalam pernyataannya sebelumnya pada Jumat (17/4/2026).
Pembakaran Lahan Jadi Biang Kerok, Cuaca Panas Bikin Api Makin Ganas!
Apa penyebab ledakan kasus ini? BPBD menduga kuat, maraknya karhutla dipicu oleh aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar yang masih saja dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Praktik ilegal ini kemudian diperparah dengan kondisi cuaca panas dan kering yang ekstrem. Akibatnya, api yang awalnya kecil dengan cepat membesar dan sulit dipadamkan.
Kecamatan Nunukan dan Nunukan Selatan disebut-sebut sebagai zona paling rawan kebakaran. Selain ulah manusia, petugas di lapangan juga terus dihadapkan pada tantangan klasik: medan sulit dijangkau dan minimnya sumber air di lokasi kejadian. Ironisnya, masalah ini sepertinya belum menemukan jalan keluar yang tepat.
Warga pun diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam bentuk apapun. Pasalnya, dampak dari karhutla ini tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga mengancam kesehatan dan merusak ekosistem. Pemerintah daerah pun diharapkan bisa bertindak lebih tegas kepada para pelaku pembakaran lahan agar kejadian serupa tidak terus terulang.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

