MALANG, Desapenari.id – Bencana nyaris tak terdeteksi! Sebuah kejadian memalukan sekaligus mengkhawatirkan mengguncang Stasiun Pemantauan Kopirejo di Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pasalnya, sejumlah komponen vital alat pemantau aktivitas vulkanik Gunung Semeru dilaporkan lenyap diduga kuat digondol para pencuri tak bertanggung jawab.
Kronologi kejadian ini pertama kali terendus setelah petugas mendapati alat pemantau tidak aktif pada 16 April 2026. Akibatnya, data perkembangan aktivitas Gunung Semeru yang sangat krusial untuk keselamatan warga sekitar sempat tidak dapat diterima oleh petugas di posko. Oleh karena itu, situasi ini langsung memicu kekhawatiran besar mengingat Semeru adalah salah satu gunung teraktif di Indonesia.
Tak ingin berlama-lama, Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Semeru kemudian bergerak cepat melakukan pengecekan langsung ke lokasi kejadian. Setibanya di sana, mereka mendapati pemandangan yang sungguh memprihatinkan. “Petugas kami pun melakukan pengecekan ke Stasiun Pemantau Kopirejo dan mendapati sejumlah komponen perangkat keras serta instalasi alat pemantau hilang,” ujar Petugas Pengamat PGA Semeru, Liswanto, dengan nada kecewa saat dikonfirmasi pada Sabtu (15/4/2026). Dengan lugas, ia mengungkapkan betapa parahnya kondisi di lapangan.
Lebih lanjut, Liswanto merinci secara gamblang komponen-komponen berharga yang raib dicuri. Tercatat, para maling itu membawa kabur 12 unit accu (akumulator) berukuran besar, 12 unit panel surya yang menangkap energi matahari, dua unit regulator solar panel, satu unit DC to DC converter, kabel grounding, serta stick grounding. Jika dihitung, total kerugian materiil dan fungsional dari aksi pencurian ini sangatlah signifikan. Oleh sebab itu, peristiwa memalukan ini telah segera dilaporkan ke pihak kepolisian untuk ditindaklanjuti secara hukum. Pihak berwajib kini tengah memburu para pelaku yang telah membahayakan keselamatan publik.
Pemantauan Tetap Berjalan Meski Terhambat
Namun, ada kabar baik di tengah musibah ini. Meskipun terjadi kehilangan besar-besaran, Liswanto dengan tegas memastikan bahwa pemantauan aktivitas Gunung Semeru tetap berlangsung. Caranya adalah dengan memanfaatkan stasiun pemantauan lain yang masih tersedia dan berfungsi optimal. “Pemantauan tidak berpengaruh, karena masih bisa dari stasiun yang lain. Sejauh ini masih berjalan,” ungkapnya penuh keyakinan. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu panik berlebihan karena data kegunungapian tetap dapat dipantau meski dari stasiun alternatif.
Meski begitu, kejadian ini tetap meninggalkan catatan kelam. Liswanto pun menambahkan bahwa aksi serupa ternyata bukan pertama kalinya terjadi di wilayah Malang. Berdasarkan catatan mereka, kejadian serupa pernah terjadi pada tahun 2024 lalu di Desa Klepu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Saat itu, empat unit akumulator dari alat pemantau juga dilaporkan hilang secara misterius. Artinya, praktik pencurian perangkat mitigasi bencana ini sudah seperti penyakit musiman yang kambuh berulang kali.
Karenanya, pihak berwenang dan masyarakat sekitar diminta untuk lebih waspada dan proaktif menjaga aset-aset vital yang melindungi nyawa ribuan jiwa. Jangan sampai, ulah segelintir orang serakah ini kelak berujung pada bencana kemanusiaan yang lebih besar karena data aktivitas gunung api gagal terdeteksi secara dini.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

