PASURUAN, Desapenari.id – Program seragam gratis yang sangat dinanti-nantikan oleh para siswa baru di Kota Pasuruan, Jawa Timur, ternyata molor dari jadwal yang ditentukan. Akibat keterlambatan yang terjadi berulang kali ini, puluhan ribu siswa SD dan SMP sederajat terpaksa mengenakan seragam sekolah lama mereka di hari-hari pertama masuk sekolah.
Anggota DPRD Kota Pasuruan pun geram dan meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat untuk segera menggelar evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengadaan seragam yang menelan anggaran fantastis lebih dari Rp 2 miliar tersebut.
Sudah Lima Tahun Berturut-Turut, Seragam Selalu Terlambat!
Bayangkan, sudah setengah dekade lamanya program unggulan ini selalu menemui jalan buntu di setiap tahun anggaran. Abdullah Junaidi, anggota Komisi I DPRD Kota Pasuruan, mengungkapkan rasa kecewanya dengan nada tinggi pada Jumat (24/7/2026).
“Selama lima tahun berturut-turut hingga tahun 2026, program ini selalu mengalami keterlambatan pengadaan dan distribusi,” tegasnya dengan nada kesal.
Politikus tersebut menyayangkan bagaimana program seragam gratis yang setiap tahunnya dicanangkan dengan penuh semangat oleh Pemkot Pasuruan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan justru kehilangan esensi utamanya.
“Program senilai miliaran rupiah ini kehilangan makna dan manfaat utamanya. Para siswa baru sudah masuk sekolah, tapi mereka masih terpaksa memakai seragam lama,” imbuhnya dengan nada prihatin.
Menurut pengamatannya, alasan klasik seperti kendala teknis uji laboratorium kain atau keterlambatan pihak penyedia sudah seperti lagu usang yang selalu dikumandangkan setiap tahun. Ia menegaskan bahwa alasan-alasan tersebut seharusnya sudah bisa diantisipasi dan dievaluasi dengan matang.
Klarifikasi Dinas Pendidikan: Prosesnya Memang Panjang!
Menanggapi kemarahan para wakil rakyat tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan, Siti Rochana, dengan sabar menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
“Prosesnya memang tidak sederhana, Bu. Kami harus melewati tahapan yang cukup panjang dan berliku,” ungkap Siti Rochana saat ditemui di kantornya.
Ia memaparkan secara detail bahwa pengadaan seragam gratis ini harus melalui serangkaian proses yang tidak bisa dikebut. Mulai dari survei bahan kain yang memakan waktu, proses sekaligus analisis hasil uji laboratorium yang sangat krusial, hingga menyusun spesifikasi teknis yang harus presisi.
“Setelah penyusunan dokumen pengadaan selesai, barulah kami melanjutkan ke proses pengadaan dan kegiatan pararel pengadaan lainnya yang juga tidak kalah rumit,” jelasnya dengan nada diplomatis.
Janji Manis: Seragam Baru Akan Tiba 10 Agustus 2026!
Meski terjadi keterlambatan yang cukup signifikan, Siti Rochana memberikan jaminan bahwa realisasi pengadaan kain seragam siswa tahun 2026 akan tiba pada 10 Agustus 2026 mendatang.
“Kami pastikan tidak ada kendala berarti lainnya. Sesuai dengan waktu pelaksanaan di dalam surat perjanjian atau kontrak, semuanya akan rampung sampai dengan 10 Agustus 2026,” tuturnya dengan penuh keyakinan.
Ia berharap para siswa dan orang tua dapat bersabar menunggu proses yang sedang berjalan. Menurutnya, kualitas dan keamanan bahan seragam adalah prioritas utama yang tidak bisa dikorbankan demi kecepatan waktu.
Dana Menggiurkan Rp 2 Miliar, Ribuan Siswa Jadi Penerima Manfaat!
Jika dirinci lebih jauh, anggaran yang disiapkan untuk pengadaan kain seragam siswa tahun 2026 ini memang sangat fantastis. Untuk tingkat SD/MI baik negeri dan swasta, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 1.043.608.500. Sementara untuk tingkat SMP/MTs baik negeri atau swasta, anggarannya mencapai Rp 1.036.431.000.
Jumlah siswa penerima manfaat dari program pengadaan kain seragam siswa SD/MI ini mencapai 3.773 siswa. Sedangkan untuk tingkat SMP/MTs, terdapat 3.629 siswa yang akan merasakan manfaatnya.
Harapan Besar di Balik Keterlambatan
Meski terjadi keterlambatan yang sudah berulang kali terjadi, masyarakat tetap berharap program ini dapat berjalan lebih baik ke depannya. Banyak orang tua siswa yang berharap agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya.
“Semoga tahun depan tidak terjadi lagi keterlambatan seperti ini. Anak-anak sudah semangat masuk sekolah baru, tapi harus pakai seragam lama,” ujar salah satu orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya.
Abdullah Junaidi juga menambahkan bahwa DPRD akan terus mengawal program ini agar tidak terjadi lagi di tahun-tahun berikutnya.
“Kami akan panggil Dinas Pendidikan untuk evaluasi total. Jangan sampai program miliaran rupiah ini hanya menjadi program yang kehilangan makna,” pungkasnya.
Dengan demikian, meski terjadi keterlambatan yang cukup menyita perhatian publik, program seragam gratis ini diharapkan tetap dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat maksimal bagi para siswa di Kota Pasuruan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

