DELI SERDANG, Desapenari.id — Proyek infrastruktur raksasa Bendungan Lau Simeme yang membentang gagah di wilayah Kecamatan Sibiru-biru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, akhirnya resmi mengoperasikan seluruh sistem hidrologi utamanya secara penuh. Pengoperasian mega-proyek ini menjadi tonggak sejarah baru bagi tata kelola air nasional, khususnya dalam menyokong ketahanan pangan serta meminimalisir risiko banjir tahunan di wilayah hilir.
Oleh karena itu, sejak hari Kamis (17/9/2026), fenomena unik langsung terjadi ketika ratusan pasang mata warga Sibiru-biru menyaksikan penurunan debit air sungai secara tajam akibat petugas mulai menyurutkan aliran bawah waduk. Peristiwa langka penutupan pintu air ini mendadak memicu aksi perburuan masal karena ribuan ekor ikan air tawar terperangkap di ceruk-ceruk sungai yang mendadak dangkal.
Bahkan, hingga saat ini, antusiasme masyarakat lokal tidak kunjung surut saat mereka berbondong-bondong memadati alur sungai dengan memboyong beraneka ragam perkakas tangkap, mulai dari jaring bentang, pancing mania, hingga perangkap tradisional jala kayu. Kehadiran warga dari berbagai usia ini menciptakan pemandangan spektakuler di sepanjang bantaran sungai yang biasanya tenang.
Akibatnya, area bantaran sungai di bawah bendungan tersebut seketika berubah riuh dan hidup menyerupai arena pasar tradisional kaget yang penuh pendar tawa serta jeritan antusias warga. Riak air sungai berpadu dengan sorak-sorai masyarakat yang sibuk mengejar pergerakan ikan-ikan yang terisolasi di celah bebatuan.
Di tengah keriuhan tersebut, seorang warga lokal bernama Papagit Tarigan (39) bersama rombongan kawan-kawannya berhasil mengukir rekor perburuan fantastis setelah mengamankan lebih dari 20 kilogram ikan jurung—atau yang lebih populer sebagai ikan maser sang “Ikan Dewa” bernilai ekonomi tinggi. Tangkapan berlimpah ini menjadi buah bibir lantaran spesies ikan tersebut terkenal sangat sulit ditangkap pada kondisi air normal.
“Populasi ikannya benar-benar melimpah ruah, sehingga kami nekat menerjang arus dan menyelam ke dasar sungai sambil membentangkan jaring demi mengepung keberadaan ikan jurung tersebut,” cetus Papagit dengan nada penuh kegembiraan saat membagikan pengalamannya pada Rabu (23/9/2026).
Tidak sekadar unggul secara kuantitas, keberadaan ikan jurung yang mendiami ekosistem alur sungai ini ternyata memiliki ukuran fisik yang sangat luar biasa dan sanggup memukau penglihatan siapa saja. Spesies yang hidup di perairan jernih berarus deras ini tumbuh sangat optimal berkat kualitas ekosistem kawasan Sibiru-biru yang masih terjaga alami.
Secara mengejutkan, Papagit membeberkan bahwa kelompok perburuannya bahkan sukses mengangkat monster ikan jurung yang bobot satu ekornya saja menembus angka spektakuler yakni 3 kilogram. Ikan berukuran jumbo ini tentu menjadi piala berharga mengingat di pasaran komersial harganya sanggup menembus ratusan ribu rupiah per kilogram.
Melihat peluang rezeki nomplok yang membentang di depan mata, sebagian warga desa langsung memanfaatkan momen langka tersebut untuk memperjualbelikan hasil tangkapan segar mereka kepada para kolektor kuliner maupun wisatawan yang melintas. Langkah ini seketika memutar roda perekonomian mikro warga setempat dalam waktu singkat.
Namun demikian, Papagit beserta rekan-rekannya justru mengambil keputusan mulia dengan menolak menjual komoditas bernilai tinggi tersebut demi merawat tradisi kebersamaan dan rasa kekeluargaan antarwarga. Mereka menganggap rezeki dari alam ini patut dinikmati bersama-sama tanpa harus memperhitungkan keuntungan materi semata.
“Kami sengaja membagikan seluruh tangkapan ini secara merata kepada warga sekitar, lalu kami menggelar tradisi masak dan makan bersama; karena hari itu kami berdelapan, alhasil sebagian ikan kami olah langsung di tepi sungai dan sisanya dibawa pulang ke rumah masing-masing,” tutur Papagit melanjutkan kisahnya yang hangat.
Selanjutnya, Papagit menjelaskan bahwa Sungai Sibiru-biru pada situasi normal memiliki palung air yang cukup dalam dan berbahaya bagi kalangan awam, namun penyurutan debit air saat pengisian awal bendungan menyisakan kedalaman sekitar satu meter saja. Alhasil, tidak hanya pria dewasa yang berani turun ke air, melainkan kaum ibu hingga anak-anak kecil pun turut serta menyeburkan diri untuk memanen ikan secara aman.
Selain itu, varietas fauna air seperti lele lokal berukuran jumbo, nila segar, hingga sidat atau belut bertelinga yang kaya akan kandungan gizi tinggi turut meramaikan keranjang tangkapan warga. Keberhasilan panen raya ini tidak terlepas dari langkah antisipatif pengelola bendungan yang telah menyampaikan sosialisasi awal, sehingga masyarakat sempat menyiagakan peralatan tangkap secara matang jauh-jauh hari.
“Awalnya kami mendengar kabar burung bahwa target pengisian air waduk membutuhkan durasi hingga tiga bulan penuh, akan tetapi jika kita mencermati tingginya intensitas curah hujan di kawasan hulu belakangan ini, proses pengisian waduk raksasa ini tampaknya bakal tuntas jauh lebih cepat dari estimasi semula,” tegas Papagit secara optimistis.
Adaptasi Pengelola Wisata Air: Bersolek Mewah Pasca-Operasi Waduk
Di samping kesibukannya mengejar potensi fauna air, pria berusia 39 tahun ini sehari-harinya menggantungkan mata pencaharian sebagai pengelola objek wisata pemandian alam di sepanjang jeram Sungai Sibiru-biru. Tempat rekreasi ini menjadi salah satu destinasi favorit warga Medan dan Deli Serdang untuk melepaskan penat pada akhir pekan.
Meskipun mega-bendungan tersebut telah beroperasi penuh dan mengubah dinamika hidrologi lokal, Papagit mengonfirmasi bahwa penutupan pintu air tidak membawa dampak negatif yang signifikan terhadap kelangsungan usaha pemandian alam mereka. Aktivitas wisata tetap berjalan normal dan aman bagi para pengunjung.
“Hal ini terjadi lantaran kontur kedalaman air di area pemandian kami pada dasarnya tergolong sedang, sehingga saat penyurutan dilakukan oleh pengelola bendungan, debit airnya tidak sampai habis atau kekeringan ekstrem,” ungkap Papagit memberikan penjelasan ilmiahnya secara gamblang.
Kendati demikian, pihak pengelola destinasi wisata tidak ingin berpangku tangan dan mulai melancarkan langkah adaptasi secara agresif guna menyesuaikan wujud fisik pemandian dengan karakter aliran air yang baru pasca-pengoperasian bendungan Lau Simeme.
Oleh karena itu, manajemen tempat rekreasi tersebut telah mematangkan rencana besar untuk mengerahkan unit alat berat demi merombak ulang tata ruang dan keindahan estetika tempat pemandian mereka agar tampil semakin memesona di mata para pelancong.
“Jika tidak ada halangan pada hari Kamis atau Jumat besok, pemilik lokasi pemandian bakal mendatangkan alat berat jenis beko untuk mempercantik landskap, merapikan susunan batu, serta memperindah kawasan rekreasi ini secara menyeluruh,” ujar Papagit memaparkan rencana aksi strategis tersebut.
“Nantinya alat berat akan mengeruk bagian dasar yang dangkal sekaligus membangun benteng-benteng penahan arus yang kokoh di sekitar sungai, sehingga para wisatawan dapat menikmati kesegaran air dengan tingkat kenyamanan dan keamanan yang jauh lebih prima,” pungkas Papagit menutup pembicaraan dengan penuh rasa optimistis.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

