SAMARINDA, Desapenari.id — Hati Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Seno Aji, benar-benar tersayat saat mendengar kabar buruk dari perairan Pulau Maratua. Betapa tidak, ekosistem bawah laut yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat Berau dikabarkan mengalami kerusakan serius. Dugaan sementara mengarah pada aktivitas kapal wisata jenis Live on Board (LOB) yang diduga lalai menjaga kelestarian laut.
Kondisi ini sontak membuat pemerintah provinsi bergerak cepat. Mereka kini menjalin koordinasi intensif dengan Pemerintah Kabupaten Berau untuk memperketat pengawasan pelayaran sekaligus merancang standar operasional prosedur (SOP) khusus bagi kapal-kapal wisata yang beroperasi di kawasan tersebut. Langkah ini diharapkan mampu menjadi benteng pertahanan bagi keindahan bawah laut Maratua yang semakin terancam.
“Saya harus mengakui, hati ini sangat prihatin dan sedih mendengarnya,” ungkap Seno Aji dengan nada berat saat dikonfirmasi awak media pada Kamis (25/6/2026). Ekspresi keprihatinan ini tampak jelas dari raut wajahnya yang menunjukkan keseriusan menangani masalah tersebut.
WISATA BOOMING, ATURAN HARUS MENYUSUL
Menurut pandangan Seno yang tegas, lonjakan aktivitas wisata di Kepulauan Derawan dan Maratua seharusnya berjalan seimbang dengan regulasi yang komprehensif. Ia menekankan bahwa tanpa aturan jelas, keselamatan pelayaran dan kelestarian lingkungan laut akan terus terancam setiap harinya.
“Kami sudah menggerakkan koordinasi dengan pemerintah kabupaten untuk meningkatkan keselamatan kelautan di Kabupaten Berau. Selain itu, kami juga mendorong pembuatan standar operasional prosedur yang ketat bagi kapal-kapal yang melintasi antar pulau tersebut,” tegasnya dengan penuh keyakinan.
Dari pengamatan di lapangan, lalu lintas kapal wisata dan speedboat di kawasan wisata Berau memang tergolong padat. Kondisi ini tentu memerlukan pengawasan yang lebih serius dan terstruktur agar tidak menimbulkan korban, baik terhadap manusia maupun biota laut.
GELOMBANG PROTES MASYARAKAT MENGALIR DERAS
Kasus ini ternyata tidak hanya menjadi perhatian pemerintah. Sebelumnya, protes keras telah meledak dari berbagai kalangan. Masyarakat lokal, pelaku usaha wisata, hingga komunitas penyelam yang selama ini menjadi garda terdepan menjaga ekosistem bawah laut menyuarakan kemarahan mereka. Mereka merasa kecewa karena upaya pelestarian yang telah dilakukan bertahun-tahun kini terancam sia-sia.
Bahkan, gelombang keprihatinan ini tidak berhenti di tingkat daerah. Pemerintah pusat pun turut angkat bicara dan menunjukkan respon cepat terhadap persoalan yang mengguncang dunia konservasi laut ini.
Ketua Tim Pelaksana Percepatan Pengembangan Ekonomi Strategis Kepulauan Maratua dan Sekitarnya (TP3ESKMS) Kaltim, Michael Surya, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan strategis dengan Direktur Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Sumono Darwinto. Pertemuan ini menjadi titik balik dalam penanganan kasus yang menggemparkan publik tersebut.
LAPORAN MASYARAKAT LANGSUNG DITINDAKLANJUTI
Michael menjelaskan dengan gamblang bahwa laporan masyarakat mengenai dugaan kerusakan terumbu karang tidak dibiarkan begitu saja. Begitu informasi ini disampaikan kepada pemerintah pusat melalui DPR RI, proses penanganan langsung bergulir tanpa hambatan.
“Tim pengawasan sudah kami gerakkan dan proses penanganan sudah berjalan sejak hari pertama laporan masuk. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani kasus ini,” terang Michael dengan nada optimis.
Saat ini, fokus pembahasan tidak hanya terpaku pada proses investigasi semata, tetapi juga merancang sistem pengawasan yang lebih baik dan berkelanjutan. Tujuannya jelas, mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
SISTEM PENGAWASAN BARU AKAN DIBANGUN
Salah satu usulan menarik yang mengemuka dalam pembahasan adalah kewajiban bagi kapal wisata yang hendak memasuki kawasan Maratua untuk berkoordinasi dan melapor kepada pihak setempat sebelum beroperasi. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan tata kelola yang lebih teratur dan bertanggung jawab.
Michael menegaskan bahwa kebijakan ini sama sekali tidak bertujuan membatasi kunjungan wisatawan. Sebaliknya, sistem ini justru dirancang untuk menciptakan tata kelola yang lebih baik serta memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal.
“Yang kami dorong bukan melarang kapal masuk sama sekali. Wisata harus tetap berjalan dan berkembang. Tetapi ketika kapal masuk ke Maratua, harus ada koordinasi dan pengawasan yang jelas dan terukur,” ujarnya dengan mantap.
PEMANDU LOKAL MENJADI KUNCI KELESTARIAN
Ide cemerlang lainnya yang diajukan Michael adalah mewajibkan kapal wisata untuk menggunakan pemandu lokal yang benar-benar memahami jalur pelayaran aman dan lokasi terumbu karang. Dengan melibatkan warga setempat, bukan hanya keselamatan pelayaran yang terjamin, tetapi juga perekonomian masyarakat akan ikut terdongkrak.
Langkah ini tentu akan menciptakan sinergi positif antara pelaku wisata dan masyarakat lokal. Mereka yang selama ini menjadi penjaga laut akan merasa dihargai dan dilibatkan dalam setiap aktivitas wisata yang berlangsung di wilayah mereka.
TIM PENGAWAS KKP SUDAH BERGERAK CEPAT
Sementara itu, Sumono Darwinto selaku Direktur Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan KKP memberikan kepastian bahwa tim pengawasan telah dikerahkan ke lapangan. Mereka kini bekerja keras mengumpulkan fakta-fakta dan melakukan verifikasi mendalam di lokasi kejadian.
“Tim pengawasan sudah kami turunkan ke lapangan dan saat ini masih bekerja. Kami akan melihat fakta-fakta yang ada sebelum mengambil kesimpulan maupun langkah penegakan hukum,” jelas Sumono dengan hati-hati.
Proses investigasi ini diyakini akan berjalan transparan dan akuntabel. Semua pihak diminta menunggu hasil akhir sebelum mengambil kesimpulan sendiri.
KAPAL DIDUGA TERLIBAT SUDAH DIAMANKAN
Langkah tegas lainnya yang patut diapresiasi adalah pengamanan kapal yang diduga terkait insiden tersebut. Michael mengungkapkan bahwa kapal tersebut kini telah diamankan untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut. Tindakan ini menunjukkan keseriusan aparat dalam mengusut tuntas kasus yang menjadi sorotan nasional ini.
Ke depan, diharapkan kejadian serupa tidak lagi terulang. Pengawasan yang lebih ketat, SOP yang jelas, serta keterlibatan aktif masyarakat lokal akan menjadi fondasi kuat bagi pelestarian ekosistem laut di Kepulauan Maratua.
Semua pihak kini berharap langkah-langkah konkret yang telah dirancang dapat segera diimplementasikan. Keindahan terumbu karang Maratua yang menjadi kebanggaan Indonesia harus terus dijaga untuk generasi mendatang.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

