Desapenari.id – Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, baru saja mengambil langkah berani dengan menaikkan status kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi siaga darurat. Keputusan ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan dini menghadapi puncak musim kemarau panjang yang diprediksi akan berlangsung hingga September 2026. Langkah antisipatif ini pun menjadi isyarat tegas bahwa pemerintah daerah benar-benar serius melindungi wilayahnya dari ancaman bencana kabut asap yang kerap muncul setiap tahun.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKU, Januar Efendi, mengungkapkan bahwa peningkatan status dari siaga biasa menjadi siaga darurat bukanlah keputusan dadakan. Pihaknya mendasarkan kebijakan ini pada data lapangan yang cukup mengkhawatirkan serta prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini bakal terasa lebih kering dan berkepanjangan. Dengan status baru ini, seluruh jajaran terkait pun langsung bergerak cepat untuk mengoptimalkan kesiapsiagaan.
“Kami secara resmi menaikkan status menjadi siaga darurat karhutla, dan status ini akan tetap berlaku hingga puncak musim kemarau berakhir, yang diperkirakan sampai akhir September 2026,” jelas Januar saat ditemui di ruang kerjanya di Baturaja, Selasa (23/6/2026). Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka pendek yang harus segera diimplementasikan agar potensi kebakaran bisa ditekan sejak dini sebelum menyebar ke area yang lebih luas.
Keputusan penting ini juga dipicu oleh fakta bahwa di bulan Juni 2026 saja, sudah terjadi tiga kasus kebakaran hutan dan lahan yang tersebar di beberapa titik di Kabupaten OKU. Peristiwa terbaru bahkan terjadi di Desa Tihang, Kecamatan Lengkiti, pada Senin (22/6/2026) lalu, di mana lahan seluas sekitar satu hektare dilalap api. Meskipun luasannya terbilang kecil, pemerintah tidak mau mengambil risiko dengan menganggap remeh kejadian tersebut. Mereka sadar bahwa di tengah cuaca yang ekstrem, api bisa menjalar dengan sangat cepat ke area pemukiman maupun kawasan hutan lindung.
Untuk itu, penetapan status siaga darurat ini tidak sekadar seremonial, melainkan menjadi pemicu utama bagi semua pemangku kepentingan untuk bergerak lebih sigap. Pemerintah Kabupaten OKU pun sudah menyiapkan payung hukum yang kuat dengan menerbitkan Keputusan Bupati OKU Nomor: 300.32/376/KPTS/XLIV.1/2026 tentang status siaga darurat bencana asap akibat karhutla. Dengan adanya keputusan ini, seluruh rantai koordinasi dapat berjalan lebih lancar dan cepat tanpa hambatan birokrasi yang berbelit-belit.
Selanjutnya, dalam upaya menjaga stabilitas keamanan di lapangan, BPBD OKU langsung mengaktifkan posko penanggulangan yang tersebar di titik-titik rawan kebakaran. Posko ini berfungsi sebagai pusat komando untuk memantau kondisi secara real-time, menerima laporan dari masyarakat, serta mengerahkan personel ke lokasi terdampak. Selain itu, tim gabungan juga melakukan pemantauan intensif setiap hari untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa atau area yang mulai mengeluarkan kepulan asap.
Langkah pencegahan pun semakin diperkuat dengan mengerahkan sekitar 300 personel gabungan yang berasal dari berbagai instansi, seperti TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), hingga relawan lingkungan. Mereka semua sudah ditempatkan di pos-pos strategis dan siap diterjunkan kapan saja ketika terjadi lonjakan kasus kebakaran. Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan mampu mempercepat respons penanganan di lapangan dan memperkecil risiko korban jiwa maupun kerugian materi.
Bukan hanya tenaga, pemerintah juga memastikan kesiapan peralatan pemadaman yang mumpuni. BPBD OKU telah menggelar berbagai perlengkapan canggih yang sangat mendukung operasi pemadaman di area yang sulit dijangkau. Beberapa alat yang mereka siapkan antara lain mesin pompa air berdaya dorong tinggi, selang pemadam dengan panjang variatif, gergaji mesin untuk membuka jalur pemadaman, serta baju tahan api yang melindungi petugas dari sengatan panas. Tak ketinggalan, tabung oksigen dan masker ganda anti polusi juga disediakan untuk menjaga kesehatan tim di tengah kepulan asap yang pekat.
Selain perlengkapan individual, BPBD OKU juga menyiagakan enam unit mobil suplai air yang siap dikerahkan ke lokasi-lokasi yang minim sumber air. Tangki air portabel pun ikut disiapkan untuk memudahkan mobilitas pemadaman di medan yang sulit. Kombinasi antara sumber daya manusia yang terlatih dan peralatan modern ini diharapkan bisa meminimalisir dampak karhutla dan mencegah meluasnya area terdampak. Semua persiapan ini dilakukan dengan tujuan tunggal, yaitu melindungi masyarakat dari bahaya kabut asap yang mengancam kesehatan.
Namun, perlu diingat bahwa seluruh upaya pemerintah tidak akan berhasil maksimal tanpa dukungan penuh dari masyarakat. Oleh karena itu, BPBD OKU secara konsisten mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar, karena praktik ini masih menjadi pemicu utama terjadinya karhutla di wilayah Sumatera Selatan. Banyak warga yang masih menggunakan cara tradisional ini karena dianggap lebih murah dan cepat, padahal dampaknya sangat berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan orang banyak.
“Kami sangat berharap masyarakat dapat memahami risiko dari pembakaran lahan. Kami terus mengingatkan agar tidak melakukan hal tersebut demi menghindari bencana kabut asap yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari,” ujar Januar dengan nada serius. Kesadaran kolektif dari warga, menurutnya, menjadi benteng terkuat untuk menekan jumlah titik api di musim kemarau tahun ini.
Selain itu, pihak berwenang juga mengajak masyarakat untuk segera melapor jika melihat adanya kepulan asap atau titik api di sekitar lingkungan mereka. Laporan dari masyarakat menjadi informasi yang sangat berharga bagi tim pemadam untuk segera bertindak sebelum api semakin membesar. Dengan sinergi yang baik antara pemerintah dan rakyat, bencana kabut asap yang selama ini menghantui OKU diharapkan dapat dihindari atau setidaknya diminimalisir dampaknya.
Di sisi lain, pemkab juga berkomitmen untuk terus melakukan sosialisasi secara masif tentang bahaya karhutla, baik melalui media cetak, elektronik, maupun pendekatan langsung ke desa-desa rawan. Mereka menyadari bahwa pencegahan jauh lebih efektif dan murah dibandingkan harus memadamkan api yang sudah membesar. Karena itu, edukasi tentang dampak jangka panjang dari kabut asap terhadap kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan dan iritasi mata, terus mereka gaungkan ke seluruh lapisan masyarakat.
Peningkatan status siaga darurat ini juga sekaligus menjadi panggilan bagi semua pihak untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan. Mengingat Kabupaten OKU memiliki banyak kawasan hutan dan lahan gambut yang sangat sensitif terhadap api, maka kewaspadaan ekstra mutlak diperlukan. Pemerintah pun memastikan bahwa koordinasi antarinstansi terus diperkuat, termasuk dengan pihak kepolisian untuk menindak tegas pelaku pembakaran lahan yang terbukti melanggar hukum.
Kesiapsiagaan ini juga diperluas hingga ke tingkat desa, dengan melibatkan perangkat desa dan tokoh masyarakat sebagai ujung tombak informasi. Mereka dibekali pemahaman tentang cara cepat melaporkan kebakaran serta langkah-langkah awal yang bisa dilakukan sebelum tim tiba di lokasi. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi keterlambatan penanganan yang bisa berakibat fatal.
Tidak hanya berfokus pada pemadaman, pemerintah daerah juga mulai menyusun rencana pemulihan jangka panjang bagi lahan-lahan yang sudah terbakar. Upaya reboisasi dan pemulihan ekosistem akan menjadi program lanjutan yang dirancang agar kejadian serupa tidak terulang di tahun-tahun mendatang. Hal ini menunjukkan bahwa Pemkab OKU tidak hanya berpikir instan, melainkan juga memiliki visi keberlanjutan untuk menjaga keseimbangan alam.
Dengan segala persiapan yang telah dilakukan, masyarakat OKU pun diharapkan merasa lebih tenang dan percaya bahwa pemerintah hadir untuk melindungi mereka. Langkah tegas ini pun menjadi contoh bahwa penanganan bencana harus dimulai dari pencegahan dan kesiapan dini. Dan yang terpenting, status siaga darurat ini mengirimkan pesan kuat bahwa keselamatan warga dan kelestarian alam adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Ke depan, semua pihak berharap agar musim kemarau tahun ini tidak membawa bencana besar, namun kewaspadaan tetap harus dijaga. Kerja sama antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat akan menjadi kunci sukses dalam menekan angka karhutla di Kabupaten OKU. Mari bersama-sama menjaga bumi tetap hijau dan bebas dari kabut asap yang merugikan.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

