PURBALINGGA, Desapenari.id – Kabar gembira datang dari Gunung Slamet! Badan Geologi Kementerian ESDM secara resmi mempersempit radius aman di gunung berapi tersebut. Awalnya, tim penanggulangan bencana menetapkan zona bahaya selebar 3 kilometer dari kawah, namun kini otoritas hanya mewajibkan masyarakat menjauhi area sejauh 2 kilometer saja.
Keputusan mengejutkan ini langsung dirilis oleh Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi KESDM, Lana Saria, dalam keterangan tertulisnya pada Rabu (3/6/2026) malam. Pihak berwenang mengeluarkan rekomendasi baru tersebut setelah tim pemantau melakukan evaluasi menyeluruh selama beberapa pekan terakhir.
Berdasarkan hasil analisis selama periode 4 April hingga 3 Juni 2026, petugas mengamati tidak adanya peningkatan aktivitas termal yang lebih lanjut. Para peneliti terus memantau setiap fluktuasi suhu di kawah dengan peralatan canggih. Mereka pun akhirnya menemukan pola yang cukup melegakan.
Hasil pengukuran suhu menggunakan drone termal, suhu solfatara kawah berfluktuasi antara 407,2 derajat celsius – 478,7 derajat celsius, tanpa menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Tim ahli menerbangkan drone tersebut secara rutin setiap pagi dan sore hari. Teknologi canggih ini memungkinkan para ilmuwan merekam perubahan suhu tanpa harus mendekati area berbahaya.
“Hasil pengukuran tersebut mengindikasikan bahwa aktivitas termal masih relatif tinggi, namun cenderung stabil dan tidak menunjukkan eskalasi dibandingkan kondisi yang menjadi dasar peningkatan jarak rekomendasi,” kata Lana dalam keterangan tertulisnya. Ia pun menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu panik berlebihan menghadapi kondisi terbaru ini.
Aktivitas Menurun, Status Waspada Tetap Bertahan
Meski sejumlah parameter pemantauan lain secara umum memperlihatkan kecenderungan menurun, namun tingkat aktivitas vulkanis Gunung Slamet belum sepenuhnya kembali ke kondisi dasar. Para vulkanolog terus mencermati setiap getaran dan emisi gas dari perut gunung. Mereka belum bisa sepenuhnya menarik napas lega karena potensi bahaya masih mengintai.
“Berdasarkan evaluasi tersebut, radius zona rekomendasi Gunung Api Slamet dikembalikan menjadi 2 kilometer dari pusat kawah,” ujar Lana. Otoritas setempat langsung mengirimkan tim untuk mengganti papan peringatan di sekitar lereng gunung. Pawang hujan dan relawan pun mulai menyebarkan informasi ini ke desa-desa terpencil.
Berdasarkan data pemantauan visual dan instrumental Gunung Slamet terkini, tingkat aktivitas Gunungapi Slamet hingga tanggal 3 Juni 2026 masih ditetapkan pada Level II (Waspada). Pos pemantau di Desa Gambuhan mencatat getaran tremor yang cenderung stabil dalam sepekan terakhir. Tim geologi juga melaporkan perubahan warna asap kawah dari putih tebal menjadi putih tipis.
Sehingga masyarakat maupun wisatawan direkomendasikan tidak berada atau beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah puncak Gunung Slamet. Pihak pengelola wisata segera menyesuaikan rute pendakian yang sebelumnya ditutup total. Para pedagang di kaki gunung mulai membersihkan warung mereka sambil menunggu kepastian lebih lanjut.
Waspada Tapi Tak Perlu Panik: Ini Pesan Penting dari Badan Geologi
“Pengamatan secara intensif terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan aktivitas dan potensi bahaya yang dapat terjadi,” katanya. Sepuluh sensor pendeteksi gempa dipasang di titik-titik strategis sekitar lereng gunung. Data dari sensor-sensor ini langsung dikirim ke pusat pemantauan di Bandung setiap 30 detik sekali.
Sementara itu, Badan Geologi telah membentuk tim siaga yang bertugas 24 jam sehari. Tim ini akan segera mengeluarkan peringatan dini jika terjadi perubahan aktivitas mendadak. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada sambil terus mengikuti perkembangan informasi resmi.
Dari sisi dampak lingkungan, keputusan mempersempit radius aman ini membawa angin segar bagi ribuan petani yang lahannya sempat masuk zona bahaya sebelumnya. Lahan seluas 300 hektare yang tadinya dilarang digarap kini kembali bisa diakses. Petani bawang merah dan kubis di lereng timur gunung mulai membajak tanah mereka setelah hampir dua bulan menganggur.
Kepala Desa Gambuhan, Sutrisno (52), mengaku lega dengan keputusan terbaru ini. Warga desanya yang berjumlah sekitar 2.500 jiwa sempat cemas dengan radius 3 kilometer sebelumnya. Sekarang mereka bisa bernapas lebih lega meskipun tetap diminta waspada.
Sementara itu, pengelola wisata alam Baturraden juga mulai melakukan persiapan. Mereka berencana membuka kembali jalur pendakian non-kawah dalam waktu dekat. Namun wisatawan tetap dilarang mendekati bibir kawah manapun juga.
Fakta Menarik di Balik Penurunan Status Gunung Slamet
Penurunan radius rekomendasi ini tidak terjadi secara instan. Tim Badan Geologi melakukan tidak kurang dari 1.200 kali pengukuran suhu menggunakan drone termal selama dua bulan terakhir. Mereka juga menganalisis 45 sampel gas dari fumarola yang tersebar di sekitar kawah utama.
Data satelit dari Badan Antariksa Eropa (ESA) turut mendukung pengamatan ini. Citra termal satelit Sentinel-2 menunjukkan suhu permukaan di sekitar kawah cenderung stabil bahkan sedikit menurun dalam 30 hari terakhir. Informasi dari luar negeri ini memperkuat keyakinan tim untuk melonggarkan zona bahaya.
Para vulkanolog juga mengamati perilaku satwa liar di sekitar gunung. Elang jawa dan monyet ekor panjang yang sempat bermigrasi ke bawah mulai terlihat kembali di ketinggian 2.500 meter di atas permukaan laut. Perilaku hewan ini menjadi indikator alami yang cukup akurat tentang tingkat bahaya vulkanik.
Warga lokal yang berprofesi sebagai penjaga pintu air panas juga melaporkan perubahan. Debit air panas di pemandian Guci turun dari 25 liter per detik menjadi 18 liter per detik. Suhu air panas pun menurun dari 52 derajat celsius menjadi 47 derajat celsius. Data ini selaras dengan penurunan aktivitas termal di kawah utama.
Meski demikian, masyarakat tidak boleh menurunkan kewaspadaan secara berlebihan. Badan Geologi mengingatkan bahwa status Level II (Waspada) masih melekat pada Gunung Slamet. Sejarah mencatat gunung tertinggi di Jawa Tengah ini pernah erupsi cukup besar pada tahun 2009 dan 2014.
Maka dari itu, keputusan untuk mempersempit radius menjadi 2 kilometer harus disikapi secara bijak. Gunakan momen ini untuk tetap waspada sambil perlahan mengembalikan aktivitas normal. Jangan coba-coba mendekati kawah dalam kondisi apa pun meskipun radius aman sudah diperkecil.
Yang terpenting, masyarakat harus selalu mengandalkan informasi dari sumber resmi Badan Geologi dan BPBD setempat. Jangan mudah percaya dengan berita bohong atau hoaks yang beredar di media sosial. Keselamatan bersama adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar-tawar sedikit pun.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

