JAKARTA, Desapenari.id – Pemandangan mengerikan baru saja muncul di perairan Muara Angke, Jakarta Utara. Tepatnya di depan jalur kapal Kali Adem, tiba-tiba ada hamparan sampah yang membentang luas. Dari kejauhan, tumpukan sampah itu bahkan keliatan persis kayak sebuah daratan baru—seperti pulau kecil yang nggak ada di peta! Begitu mendekat, hidung langsung diserang bau nggak sedap yang menyengat. Hmm, kira-kira ini awal dari bencana ekologis berikutnya?
Ketika tim melipir ke lokasi pada Kamis (4/6/2026), pemandangannya benar-benar bikin geleng-geleng kepala. Sampah-sampah itu menumpuk dengan rapi di atas gundukan lumpur hitam, membentang kurang lebih sepanjang 15 meter. Air laut di sekelilingnya berubah warna jadi pekat legam. Serius, ini bukan pemandangan pantai yang biasa kita bayangkan.
Jadi, apa aja isi ‘pulau sampah’ ini? Mayoritas adalah plastik! Mulai dari bungkus bumbu dapur sampai kemasan produk kebersihan rumah tangga. Bukan cuma itu, ada juga potongan-potongan kayu besar yang nyangkut di sana-sini. Semua sampah itu nyatu sama lumpur basah yang warnanya hitam pekat. Duh, kayaknya ekosistem di sini sedang terancam serius.
Sekarang, bayangkan kita coba jalan kaki di dekat area tersebut. Hati-hati banget, ya! Sebab, di beberapa titik, endapan lumpurnya super basah dan licin. Siapa pun yang nekat menginjaknya, dijamin bakal terperosok. Percaya deh, karena saya sendiri ngalamin. Pas berusaha mendekati pusat tumpukan sampah, tiba-tiba kaki kanan saya byur langsung masuk ke dalam lumpur hitam sampe selutut!
Waktu saya coba narik kaki keluar, makinlah repot. Lumpur padat itu malah ngebuat gerakan saya makin lamban. Sandal jepit yang saya pake akhirnya lepas dan … blup! Ditelen lumpur hitam itu. Nggak keliatan lagi bekasnya. Untungnya, saat sedang panik dan kesusahan, petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta yang lagi bekerja di sekitar lokasi langsung sigap nolongin. Berkat bantuan mereka, akhirnya saya selamat dari kubangan lumpur yang nyaris jadi perangkap.
Di lokasi yang sama, tampak para petugas gabungan dari DLH DKI Jakarta dan Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Polairud) Polda Metro Jaya sedang sibuk mengumpulkan sampah di berbagai titik. Mereka bergerak cepat, tapi volume sampahnya memang luar biasa banyak.
Nah, untuk urusan bersih-bersih yang berat-berat, mereka pakai senjata andalan: sebuah excavator! Alat berat ini tampak sibuk mengeruk gundukan lumpur hitam di area tumpukan sampah. Tujuannya jelas, yaitu mempermudah dan mempercepat proses pembersihan. Setelah dikeruk, sampah-sampah yang berhasil dikumpulkan langsung dimasukkan ke keranjang-keranjang besar. Selanjutnya, kapal milik Dinas Lingkungan Hidup mengangkut semua sampah itu ke daratan. Kerja keras yang butuh tenaga ekstra!
Biar kita semakin paham kronologinya, saya ngobrol langsung sama Seno Rifaldi, selaku pengawas lapangan dari UPS (Unit Penanganan Sampah) Badan Air. Menurut pengalamannya, begini cerita sebenarnya. Penumpukan sampah di pesisir Muara Angke bukan tanpa sebab. Semuanya bermula dari endapan lumpur yang tebal.
“Jadi begini, awalnya karena endapan lumpur,” jelas Seno di lokasi kejadian. “Begitu air laut pasang surut, arusnya ikut membawa sampah dari mana-mana. Nah, ketika sampah itu bertemu dengan gundukan lumpur yang udah tinggi di sini, otomatis dia akan mengendap dan numpuk di atas lumpur tersebut,” tambahnya sambil terus mengawasi proses pengangkutan.
Selain faktor pasang surut, angin barat juga ikut ambil bagian dalam bencana sampah ini. Angin tersebut dengan sengaja (atau tanpa sengaja) mendorong sampah-sampah dari arah laut menuju gundukan lumpur. Akibatnya, pulau sampah itu semakin montok dan sulit diurai.
Lantas, seberapa banyak sih sampah yang harus diangkut hari ini? Seno optimis menargetkan volume mencapai 50 meter kubik. Bayangkan! Proses pembersihan totalnya diperkirakan butuh waktu sepekan penuh.
“Kemarin kami sudah mengangkut kurang lebih 20 meter kubik,” ungkap Seno. “Untuk hari ini, dengan tiga kapal yang dikerahkan, kami perkirakan kubikasinya bisa tembus sekitar 50 meter kubik, kok,” tambahnya penuh keyakinan. Semoga target ini cepat tercapai agar pemandangan memalukan itu segera hilang dari pesisir Jakarta.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

