MATARAM, Desapenari.id – Suasana pagi yang biasanya sejuk di Jalan Gajah Mada, Lingkungan Kodya Asri, Jempong Baru, Kota Mataram, NTK, tiba-tiba berubah mencekam pada Minggu (3/5/2026). Sebuah gerai Indomaret menjadi pusat perhatian warga setelah kobaran api dengan cepat melahap bagian dalam toko. Akan tetapi, sebelum api sempat terlihat oleh mata kepala, warga justru dikejutkan oleh serangkaian suara ledakan keras yang menggema dari dalam gerai yang masih terkunci rapat tersebut.
Menurut kesaksian warga, peristiwa mengerikan itu pertama kali tercium dari kepulan asap tebal yang menyelinap keluar melalui celah-celah ventilasi. Kemudian, secara beruntun, suara letupan kecil hingga sedang terdengar seperti petasan kering yang dibakar bertubi-tubi. “Kami langsung kaget dan keluar rumah. Belum ada api, tapi asapnya sudah hitam pekat,” ujar seorang warga di lokasi dengan nada masih diliputi rasa penasaran.
Bergerak cepat dari laporan warga, Kepala Lingkungan Kodya Asri, Dayat, langsung menerima informasi tersebut. Tanpa menunggu lama, setelah mendengar adanya ledakan-ledakan aneh dari dalam Indomaret, pihaknya segera mengaktifkan sistem kewaspadaan lingkungan. “Saat itu, saya cuma dengar suara ‘duar-duar’ kecil dari dalam. Langsung saya hubungi pemadam kebakaran,” terang Dayat ketika ditemui di lokasi kejadian pada Minggu (3/5/2026). Proses pelaporan ini dilakukan secara simultan sembari warga sekitar mulai berhamburan keluar rumah untuk mengamankan diri.
Merespons situasi genting tersebut, petugas Damkar dengan sigap mengerahkan tiga unit mobil pemadam kebakaran ke lokasi. Setibanya di Jalan Gajah Mada, mereka tidak langsung menyemprotkan air secara membabi buta. Sebaliknya, petugas terlebih dahulu melakukan analisis dan observasi lapangan untuk mencari sumber api utama. Di saat yang sama, tim lainnya terus berusaha membuka paksa pintu gerai Indomaret yang masih terkunci rapat karena jam operasional yang belum dimulai.
Kemudian, setelah pintu depan berhasil diobrak-abrik, petugas menemukan fakta mengejutkan di dalam minimarket tersebut. Mereka melihat bahwa titik api tidak berada di langit-langit atau rak depan, melainkan mengumpul di area bawah yang padat dengan peralatan elektronik. “Begitu masuk, kami langsung identifikasi. Api dominan menyambar di tempat jualan yang menggunakan mesin, khususnya yang banyak mengandalkan listrik seperti freezer, kulkas, dan beberapa unit pendingin lainnya,” jelas Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Dinas Damkarmat Kota Mataram, Multazam, dengan nada tegas dan berwibawa.
Untuk mempermudah proses pemadaman, petugas tidak hanya mengandalkan satu akses saja. Mereka secara strategis membuka lebar pintu utama dan memecahkan kaca bagian depan gerai. Akan tetapi, karena api tetap membandel di dalam, tim inovatif tersebut kemudian naik ke atap bangunan. Dari atas, mereka dengan cekatan menjebol ventilasi yang berada di lantai dua gerai, lalu menyemprotkan tekanan air kuat melalui lubang tersebut. “Kami lakukan ini agar oksigen di dalam tetap terkontrol dan api cepat padam,” tambah Multazam.
Keseluruhan proses pemadaman api tersebut berlangsung sekitar satu jam tiga puluh menit. Selama durasi itu, warga terus berkerumun menyaksikan kepulan asap yang perlahan mulai mengecil. Petugas tidak berhenti bergerak; mereka terus bergantian menyemprot dan memeriksa setiap sudut ruangan. Hingga akhirnya, kobaran api benar-benar dapat dikuasai. “Saat ini, kami sedang memasuki fase pendinginan. Fokus kami sekarang adalah meminimalisasi pengurangan asap di dalam area agar tidak ada lagi titik panas tersembunyi,” ujar Multazam di sela-sela penyemprotan terakhir.
Lalu, apa sebenarnya sumber dari suara ledakan yang membuat panik warga sejak pagi buta? Menanggapi rasa penasaran publik, Multazam segera memberikan klarifikasi teknis. Menurut investigasi awal yang dilakukan di lapangan, ledakan-ledakan tersebut kemungkinan besar tidak berasal dari tabung gas LPG besar atau bahan peledak. “Kami curiga itu berasal dari barang dagangan yang mengandung gas bertekanan. Contohnya seperti kaleng penyemprot nyamuk, pengharum ruangan aerosol, atau gas portable untuk kompor kecil. Ketika terkena panas dari api di freezer, tekanan gas di dalam kaleng meningkat dan meledak,” jelasnya dengan logika yang mudah dipahami awam.
Namun, patut dicatat bahwa hingga berita ini diturunkan, penyebab utama kebakaran itu sendiri masih belum dapat dipastikan secara resmi. Meskipun titik api terkendali ada di area peralatan listrik yang selalu menyala 24 jam, seperti freezer dan kulkas, bukan berarti itu adalah pemicu tunggal. Kerusakan korsleting, panas berlebih pada kompresor, hingga faktor eksternal lain masih dalam tahap penyelidikan lebih mendalam. “Yang jelas, api yang berhasil kami kendalikan adalah yang bersumber dari area-area yang menggunakan instalasi listrik. Selanjutnya, semuanya akan ditangani oleh tim investigasi dari petugas Polri untuk hasil yang lebih detail dan kredibel,” tutup Multazam dengan penuh tanggung jawab.
Dari pengalaman warga setempat, kejadian ini menjadi pelajaran penting tentang bahaya tersembunyi dari peralatan elektronik yang terus menyala. Toko yang masih tutup dan tidak ada karyawan saat kejadian justru menyimpan risiko lebih tinggi karena tidak ada yang segera memadamkan percikan awal. Kini, lokasi kejadian pun masih dipasangi garis polisi. Sambil menunggu hasil investigasi forensik dari pihak berwenang, lingkungan Kodya Asri kembali hening, meski sesekali warga masih bergunjing tentang suara ledakan yang sempat mengagetkan mereka pagi itu.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

