BENGKULU, Desapenari.id – Kasus kematian harimau sumatera yang menghebohkan warga Mukomuko masih terus diburu polisi dan tim BKSDA. Pasalnya, satwa dilindungi ini ditemukan sudah tidak bernyawa di SP 4, Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, pada Kamis (30/4/2026) lalu. Siapa sangka, di balik temuan mengerikan ini, para penyelidik langsung bergerak cepat untuk menguak misteri kematian si raja hutan.
Kapolres Mukomuko AKBP Riky Crisma Wardana dengan tegas mengungkapkan bahwa hasil identifikasi awal memperkirakan harimau tersebut sudah mati enam hari sebelum akhirnya ditemukan warga. Artinya, bangkai itu sempat membusuk cukup lama di aliran anak sungai sebelum mendapat penanganan serius dari tim gabungan.
Lebih mencengangkan lagi, harimau yang berhasil dievakuasi tim tersebut ternyata berjenis kelamin jantan dan masih sangat muda, yakni baru menginjak usia 2 tahun. Namun, yang paling bikin tim penyelidik garuk-garuk kepala, hasil pemeriksaan awal tidak menemukan satupun luka fisik pada tubuh harimau tersebut. Kok bisa? Lalu apa penyebab kematiannya?
Kapolres Riky pun menjelaskan dengan rinci di ruang kerjanya, Sabtu (2/5/2026). “Tim langsung turun ke lokasi dan melakukan penyelidikan serta penyidikan secara intensif bersama BKSDA dan tim dokter hewan. Fakta di lapangan cukup mencengangkan: bangkai harimau ini ditemukan dalam kondisi utuh, lengkap, tidak rusak sedikit pun, dan tak ada satu bagian tubuh pun yang hilang,” jelas Riky dengan nada serius.
Karena temuan ini sangat tidak biasa, tim dokter hewan kemudian segera melakukan otopsi di tempat. Setelah proses awal selesai, mereka membawa bangkai harimau tersebut ke Camp Badak yang berlokasi di Kecamatan Pondok Suguh, Kabupaten Mukomuko. Di sanalah pemeriksaan lanjutan secara lebih mendalam akan dilakukan untuk memastikan penyebab kematian misterius satwa dilindungi ini.
Sebelumnya, warga Desa Bukit Makmur sempat digegerkan dengan penemuan pertama bangkai harimau di aliran anak sungai SP 4, Kecamatan Penarik, pada Kamis (30/4/2026). Setelah menerima laporan dari masyarakat yang ketakutan, pihak BKSDA pun bergerak cepat ke lokasi kejadian.
Namun yang lebih mencemaskan, di hari yang sama, yaitu Kamis (30/4/2026), dunia konservasi kembali berduka. Tim gabungan juga menemukan dua ekor gajah mati secara tragis di dalam wilayah konsesi PT. Bentara Agra Timber (BAT), tepatnya di Kawasan Hutan Produksi (HP) Air Teramang, Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Sungguh hari yang kelam bagi satwa liar di Bumi Rafflesia!
Dua ekor gajah yang ditemukan mati tersebut terdiri dari satu induk betina dan satu ekor anak gajah yang masih bergantung hidup pada induknya. Kematian massal tiga satwa dilindungi di hari yang sama ini langsung menyulut kecurigaan besar dari berbagai pihak. Apakah ada hubungan antara kematian harimau dan gajah tersebut? Ataukah ini hanya kebetulan tragis yang terjadi di kawasan hutan yang sama? Publik pun menuntut jawaban.
Lalu, apa sebenarnya yang terjadi di balik kematian misterius ini? Tim Forensik BKSDA bersama pihak kepolisian kini masih bekerja keras di laboratorium. Mereka tengah menguji sampel-sampel jaringan tubuh harimau untuk mendeteksi kemungkinan adanya racun atau virus mematikan. Ingat, tidak adanya luka fisik pada tubuh harimau langsung mengarahkan dugaan kuat pada keracunan atau penyakit sistemik akut. Apakah harimau jantan muda ini menelan umpan beracun yang sengaja dipasang pemburu? Ataukah ia terpapar pestisida ilegal dari perkebunan warga?
Sementara itu, untuk kasus dua gajah yang mati di konsesi PT BAT, tim investigasi juga sudah mengamankan sampel tanah dan air di sekitar lokasi. Mereka juga memeriksa beberapa saksi kunci, termasuk karyawan perusahaan dan warga desa sekitar. Jangan-jangan, ada konflik berkepanjangan antara satwa liar dan aktivitas industri kehutanan di wilayah tersebut.
Pihak kepolisian pun tak tinggal diam. Kapolres Mukomuko AKBP Riky Crisma Wardana secara personal mengawal jalannya penyidikan ini. “Kami tidak akan berhenti setengah jalan. Ini adalah kejahatan serius jika terbukti ada unsur kesengajaan. Perlindungan satwa langka adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya saat rapat koordinasi darurat.
Tim medis veteriner dari BKSDA Bengkulu juga sudah mengambil puluhan sampel jaringan dari organ dalam harimau, mulai dari hati, ginjal, limpa, hingga usus. Semua sampel ini langsung dikirim ke laboratorium forensik terpadu di Bogor untuk dianalisis secara molekuler. Hasil laboratorium ini sangat krusial untuk menentukan langkah hukum selanjutnya. Jika ditemukan racun seperti strychnine atau carbofuran, maka kasus ini akan naik ke tingkat penyidikan pidana perburuan liar.
Tak hanya itu, patroli gabungan polisi hutan dan satuan reskrim Polres Mukomuko pun kini ditingkatkan. Mereka secara rutin menyisir area hutan produksi dan konsesi PT BAT guna mencari potensi jerat, racun, atau alat perburuan ilegal lainnya. Warga sekitar pun diimbau untuk segera melapor jika menemukan hal-hal mencurigakan.
Dunia konservasi nasional pun ikut bergerak. Yayasan Harimau Kita (YHK) dan Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI) langsung mengirimkan tim ahli independen ke Mukomuko. Mereka ingin memastikan proses investigasi berjalan transparan dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Apalagi, kematian tiga satwa dilindungi dalam satu hari di wilayah yang sama ini sangat tidak wajar secara ekologis.
“Kami menduga kuat ada faktor antropogenik di balik ini. Entah itu konflik lahan, perburuan, atau keracunan massal akibat limbah industri. Tim kami sudah turun ke lokasi sejak Sabtu malam,” kata juru bicara YHK dalam rilis resminya.
Masyarakat pun mulai resah dan geram. Mereka mempertanyakan sistem pengawasan kawasan hutan yang selama ini dianggap longgar. Banyak warga yang menyayangkan nasib buruk harimau sumatera yang populasinya di alam liar kini tinggal sekitar 400-600 ekor saja. Begitu juga dengan gajah sumatera yang statusnya kritis. Jika penyebabnya adalah perburuan, maka ini adalah pukulan telak bagi upaya pelestarian.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak PT. Bentara Agra Timber terkait temuan dua gajah mati di area konsesi mereka. Namun, pihak perusahaan sudah dimintai keterangan oleh BKSDA. Manajemen perusahaan pun dipanggil untuk membawa dokumen lingkungan hidup dan laporan pemantauan satwa liar selama enam bulan terakhir.
Sementara itu, masyarakat Desa Bukit Makmur yang pertama kali menemukan bangkai harimau masih diliputi rasa penasaran campur ketakutan. Sebagian dari mereka percaya bahwa kematian hewan-hewan besar ini adalah pertanda buruk. Namun, yang lebih penting saat ini adalah mengungkap fakta ilmiah di balik semua tragedi ini.
Kesimpulan sementara dari tim gabungan baru akan keluar dalam 10-14 hari ke depan, menunggu hasil uji laboratorium yang komprehensif. Polres Mukomuko bersama BKSDA berjanji akan terus mengupdate perkembangan kasus ini secara terbuka kepada publik. Mereka juga mengimbau agar masyarakat tidak mudah termakan isu-isu hoaks yang belum terverifikasi.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

