Malang, Desapenari.id – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) langsung gercep memperketat pengawasan di kawasan Gunung Semeru. Kenapa? Insiden seorang pendaki yang terperosok dan terjebak di jurang saat nekat melintasi jalur pendakian tidak resmi alias ilegal jadi pemicu utamanya.
Langkah tegas ini diambil demi mencegah munculnya lagi aktivitas pendakian ilegal yang jelas-jelas berisiko tinggi membahayakan keselamatan pengunjung sekaligus mengancam kelestarian kawasan konservasi. Gak main-main!
SINERGI TOTAL: BUKAN Cuma SOSMED, TAPI SEMUA PIHAK DIKERAHKAN!
Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS, Bambang Suriyono, dengan tegas menyatakan bahwa pengawasan bakal diperkuat habis-habisan. Caranya? Kolaborasi massal dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, masyarakat, hingga relawan. Semua digerakkan serentak!
“Selain edukasi yang terus menerus kami gencarkan lewat media sosial, sinergi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, masyarakat, dan relawan akan kami perkuat,” jelas Bambang di sela-sela kesibukannya, Sabtu (6/6/2026). “Tujuannya satu: mencegah aktivitas pendakian ilegal yang sangat berpotensi membahayakan keselamatan pengunjung maupun kelestarian kawasan TNBTS,” imbuhnya penuh penekanan.
JALUR RESMI CUMA SATU: RANU PANI! SISANYA? JANGAN COBA-COBA!
Pengetatan pengawasan ini dipicu langsung oleh kejadian nahas seorang pendaki yang terjungkal ke jurang saat mendaki lewat jalur Candi Jawar Purbakala di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang. Jalur itu BUKAN akses resmi menuju Gunung Semeru, ya! Jalur tersebut sama sekali tidak dikelola oleh pihak taman nasional.
TNBTS pun menegaskan sekali lagi dengan lantang: satu-satunya jalur pendakian legal yang dikelola saat ini cuma berada di Ranu Pani, Kabupaten Lumajang. Titik. Gak ada pilihan lain.
“Kami tekankan, jalur yang digunakan para pendaki dalam kejadian ini bukanlah jalur resmi yang kami kelola,” tegas Bambang. Pesan ini penting banget untuk diingat semua pihak.
EVALUASI MASIF DAN SOSIALISASI GENCAR SEGERA DILAKUKAN
Sebagai tindak lanjut yang sigap, pihak pengelola akan segera melakukan evaluasi menyeluruh. Tujuannya? Memperkuat penyebaran informasi terkait aturan pendakian yang berlaku di gunung setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut. Informasi harus sampai ke semua kalangan, gak boleh ada yang abai!
PERHATIAN! PENDAKIAN SEMERU MASIH DIBATASI, JANGAN NGEYEL!
Saat ini, aktivitas pendakian Gunung Semeru masih dibatasi hanya sampai kawasan Ranu Kumbolo. Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan, karena status aktivitas Gunung Semeru masih berada di Level III atau Siaga. Jadi, buat yang pengin memuncak, sabar dulu ya! Keselamatan jauh lebih penting.
Bambang juga buka suara bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk menambah langkah pengamanan di lapangan. Langkah ini diambil demi mencegah pendaki nekat menggunakan jalur ilegal. Pemasangan papan larangan di berbagai titik rawan akan segera direalisasikan, begitu pula berbagai bentuk pencegahan lainnya.
“Apabila diperlukan, akan kami lakukan langkah pengamanan tambahan,” ujar Bambang. “Pemasangan papan larangan maupun pencegahan lainnya akan kami lakukan untuk meminimalkan aktivitas pendakian ilegal di Semeru,” sambungnya dengan nada serius.
DATA MENGEJUTKAN! RIBUAN PENDAKI SUDAH DATANG, NAMUN PENGAWASAN TETAP DIPERKETAT
Data Balai Besar TNBTS mencatatkan angka yang cukup fantastis. Selama April hingga Mei 2026 saja, sebanyak 5.157 pendaki melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Dari jumlah tersebut, 5.080 orang merupakan wisatawan domestik, sedangkan 77 lainnya adalah warga negara asing. Bayangkan, keramaian yang luar biasa! Tapi justru karena itu, pengawasan mesti diperketat.
KABAR BAIK: KORBER BERHASIL DIEVAKUASI DALAM KEADAAN SELAMAT!
Meski insiden mengerikan sempat terjadi, ada kabar lega yang patut disyukuri. Kantor SAR Surabaya mengonfirmasikan bahwa pendaki Gunung Semeru yang sempat terperosok ke jurang sedalam sekitar 375 meter itu berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Alhamdulillah!
Korban bernama Cakra ini langsung mendapatkan penanganan medis intensif dari tim Dinas Kesehatan Kabupaten Malang setelah tiba di posko evakuasi pada Jumat (5/6/2026) malam. Proses evakuasi yang panjang dan melelahkan pun berbuah manis.
Akibat insiden tersebut, korban mengalami dislokasi pada bagian engkel kaki kanannya. Meskipun demikian, kondisi Cakra dilaporkan stabil dan selamat berkat proses evakuasi yang dilakukan tim gabungan. Pelajaran berharga bagi kita semua: jangan pernah meremehkan jalur resmi dan aturan yang sudah ditetapkan. Keselamatan jiwa jauh lebih berharga daripada sekadar sensasi pendakian ilegal!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

